Kamis, 02 Oktober 2014

MAKNA ALHAMDULILLAH, ASSYUKRU, ALMADHU

KATA ‘al-hamd’ merupakan kata pertama dalam Al-Qur’an. Kaum muslim juga sudah terbiasa berucap al-hamdulillah. Tapi, apa yang sebenarnya dimaksud dengan al-hamd?
Cendekiawan Muslim Jalaluddin Rakhmat mengatakan, dalam bahasa Arab, ada beberapa kata yang digunakan untuk memuji yaitu (1) al-hamd, dari kata hamida-yahmadu-hamdan; (2) al-tsana, al-tsaniyyah—bentuk jamak; (3) al-syukr; dan (4) al-madh.
Apa perbedaan kata tersebut dalam bahasa Arab? Menurutnya, semuanya memang memiliki artai pujian. Perbedaannya, al-hamd , berarti memuji sesuatu atau seseorang untuk sifat-sifat baik yang bersifat ikhtiyari (berdasarkan ikhtiar).
Sedangkan al-madh berarti memuji sesuatu atau seseorang untuk sifat-sifat yang ghayr ikhtiyari (bukan berdasarkan ikhtiyar). Menurut Jalal, kita bisa memberikan contoh yang menjelaskanikhtiyari dan ghayr ikhtiyari.
Menurutnya, memuji bunga mawar karena warnanya yang merah dan indah adalah suatu pujian tentang sesuatu yang ghayr ikhtiyari. Artinya, mawar itu merah bukan karena ikhtiyari-nya, bukan karena kehendaknya. Begitu juga memuji orang yang tampan atau cantik, bukan termasuk pujian ikhtiyari.
Pasalnya, ketampanan atau kecantikan itu terjadi bukan karena kehendak seseorang melainkan sudah tercipta sebelumnya. Ia tidak berusaha keras untuk menjadi cantik. Jika ada orang yang sebenarnya tidak cantik, lalu berusaha keras untuk menghias dirinya-misalnya dengan memakai kosmetik—dan kita memujinya, pujian itu baru disebut al-hamd.
Sekali lagi, Jalal menegaskan, pujian kita kepada seseorang ada dua macam. Pertama, pujian yang terjadi karena perbuatan orang itu. Pujian ini disebut al-hamd. Memberikan award kepada orang yang berprestasi adalah al-hamd. “Terkadang kita memuji seseorang bukan karena hasil usaha orang itu. Inilah pujian kedua, yang dinamakan al-madh,” ujar Jalal.
Adapun al-tsana adalah pujian yang bersifat umum, baik yang ikhtiyari maupun yang ghayr ikhtiyari. Sedangkan al-sukr lebih khusus lagi, yaitu pujian terhadap kebaikan orang lain kepada diri kita. “Bila kita memuji kebaikan seseorang secara umum, itu dinamakan al-hamd. Tapi, bila kita memuji karena kebaikannya yang khusus kepada kita, itu dinamankan dengan al-syukr,” paparnya.
Dalam ayat alhamdulillahi rabbil ‘alamin, Allah menggunakan kata al-hamd. Alif lam di situ menunjukkan li al-istighraq, yakni meliputi segala sesuatu. Bila diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris menurut Jalal, “alif lam” itu adalah “the’. Berarti, kata al-hamd merupakan isim ma’rifat (yang menunjukkan sesuatu yang tertentu).
Tapi, alif lam juga bisa menujukkan arti semua. Al-hamd berarti semua pujian. Dengan demikian, kata ini mencakup semua pujian, baik yang ikhtiyari, ghayr ikhtiyari (madh) maupun syukr.
Namun, Allah menggunakan kata al-hamd bukannya al-madh. Juga tidak digunakan kata al-syur. Hal ini menurut Jalal, karena sifat-sifat yang terdapat pada Allah atau kebaikan-kebaikannya bukanlah kebaikan yang ghayr ikhtiyari.
Kita memuji Allah karena Dia berbuat baik kepada kita, karena sesuatu yang ikhtiyari. Allah sudah memilih untuk berbuat baik kepada kita. Karena itu, kita mengucapkan al-hamdulillah, segala puji bagi Allah


Tidak ada komentar:

Posting Komentar