KATA
‘al-hamd’ merupakan kata pertama dalam Al-Qur’an. Kaum muslim juga sudah
terbiasa berucap al-hamdulillah. Tapi, apa yang sebenarnya dimaksud
dengan al-hamd?
Cendekiawan Muslim Jalaluddin Rakhmat
mengatakan, dalam bahasa Arab, ada beberapa kata yang digunakan untuk memuji
yaitu (1) al-hamd, dari kata hamida-yahmadu-hamdan;
(2) al-tsana, al-tsaniyyah—bentuk jamak; (3) al-syukr; dan (4)
al-madh.
Apa perbedaan kata tersebut dalam bahasa Arab?
Menurutnya, semuanya memang memiliki artai pujian.
Perbedaannya, al-hamd , berarti memuji sesuatu atau seseorang untuk
sifat-sifat baik yang bersifat ikhtiyari (berdasarkan ikhtiar).
Sedangkan al-madh berarti memuji sesuatu atau
seseorang untuk sifat-sifat yang ghayr ikhtiyari (bukan berdasarkan ikhtiyar).
Menurut Jalal, kita bisa memberikan contoh yang
menjelaskanikhtiyari dan ghayr ikhtiyari.
Menurutnya, memuji bunga mawar karena warnanya
yang merah dan indah adalah suatu pujian tentang sesuatu yang ghayr ikhtiyari.
Artinya, mawar itu merah bukan karena ikhtiyari-nya, bukan karena kehendaknya.
Begitu juga memuji orang yang tampan atau cantik, bukan termasuk pujian
ikhtiyari.
Pasalnya, ketampanan atau kecantikan itu terjadi
bukan karena kehendak seseorang melainkan sudah tercipta sebelumnya. Ia tidak
berusaha keras untuk menjadi cantik. Jika ada orang yang sebenarnya tidak
cantik, lalu berusaha keras untuk menghias dirinya-misalnya dengan memakai
kosmetik—dan kita memujinya, pujian itu baru disebut al-hamd.
Sekali lagi, Jalal menegaskan, pujian kita
kepada seseorang ada dua macam. Pertama, pujian yang terjadi karena
perbuatan orang itu. Pujian ini
disebut al-hamd. Memberikan award kepada orang yang
berprestasi adalah al-hamd. “Terkadang kita memuji seseorang bukan karena
hasil usaha orang itu. Inilah pujian kedua, yang dinamakan al-madh,” ujar
Jalal.
Adapun al-tsana adalah pujian yang bersifat
umum, baik yang ikhtiyari maupun yang ghayr ikhtiyari.
Sedangkan al-sukr lebih khusus lagi, yaitu pujian terhadap kebaikan
orang lain kepada diri kita. “Bila kita memuji kebaikan seseorang secara umum,
itu dinamakan al-hamd. Tapi, bila kita memuji karena kebaikannya yang khusus
kepada kita, itu dinamankan dengan al-syukr,” paparnya.
Dalam ayat alhamdulillahi rabbil ‘alamin, Allah
menggunakan kata al-hamd. Alif lam di situ
menunjukkan li al-istighraq, yakni meliputi segala sesuatu. Bila
diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris menurut Jalal, “alif lam” itu adalah
“the’. Berarti, kata al-hamd merupakan isim ma’rifat (yang menunjukkan sesuatu
yang tertentu).
Tapi, alif lam juga bisa menujukkan arti
semua. Al-hamd berarti semua pujian. Dengan demikian, kata ini
mencakup semua pujian, baik yang ikhtiyari, ghayr ikhtiyari (madh)
maupun syukr.
Namun, Allah menggunakan
kata al-hamd bukannya al-madh. Juga tidak digunakan
kata al-syur. Hal ini menurut Jalal, karena sifat-sifat yang terdapat pada
Allah atau kebaikan-kebaikannya bukanlah kebaikan yang ghayr ikhtiyari.
Kita memuji Allah karena Dia berbuat baik kepada
kita, karena sesuatu yang ikhtiyari. Allah sudah memilih untuk berbuat baik
kepada kita. Karena itu, kita mengucapkan al-hamdulillah, segala puji bagi
Allah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar