Kamis, 02 Oktober 2014

MAKNA ALHAMDULILLAH, ASSYUKRU, ALMADHU

KATA ‘al-hamd’ merupakan kata pertama dalam Al-Qur’an. Kaum muslim juga sudah terbiasa berucap al-hamdulillah. Tapi, apa yang sebenarnya dimaksud dengan al-hamd?
Cendekiawan Muslim Jalaluddin Rakhmat mengatakan, dalam bahasa Arab, ada beberapa kata yang digunakan untuk memuji yaitu (1) al-hamd, dari kata hamida-yahmadu-hamdan; (2) al-tsana, al-tsaniyyah—bentuk jamak; (3) al-syukr; dan (4) al-madh.
Apa perbedaan kata tersebut dalam bahasa Arab? Menurutnya, semuanya memang memiliki artai pujian. Perbedaannya, al-hamd , berarti memuji sesuatu atau seseorang untuk sifat-sifat baik yang bersifat ikhtiyari (berdasarkan ikhtiar).
Sedangkan al-madh berarti memuji sesuatu atau seseorang untuk sifat-sifat yang ghayr ikhtiyari (bukan berdasarkan ikhtiyar). Menurut Jalal, kita bisa memberikan contoh yang menjelaskanikhtiyari dan ghayr ikhtiyari.
Menurutnya, memuji bunga mawar karena warnanya yang merah dan indah adalah suatu pujian tentang sesuatu yang ghayr ikhtiyari. Artinya, mawar itu merah bukan karena ikhtiyari-nya, bukan karena kehendaknya. Begitu juga memuji orang yang tampan atau cantik, bukan termasuk pujian ikhtiyari.
Pasalnya, ketampanan atau kecantikan itu terjadi bukan karena kehendak seseorang melainkan sudah tercipta sebelumnya. Ia tidak berusaha keras untuk menjadi cantik. Jika ada orang yang sebenarnya tidak cantik, lalu berusaha keras untuk menghias dirinya-misalnya dengan memakai kosmetik—dan kita memujinya, pujian itu baru disebut al-hamd.
Sekali lagi, Jalal menegaskan, pujian kita kepada seseorang ada dua macam. Pertama, pujian yang terjadi karena perbuatan orang itu. Pujian ini disebut al-hamd. Memberikan award kepada orang yang berprestasi adalah al-hamd. “Terkadang kita memuji seseorang bukan karena hasil usaha orang itu. Inilah pujian kedua, yang dinamakan al-madh,” ujar Jalal.
Adapun al-tsana adalah pujian yang bersifat umum, baik yang ikhtiyari maupun yang ghayr ikhtiyari. Sedangkan al-sukr lebih khusus lagi, yaitu pujian terhadap kebaikan orang lain kepada diri kita. “Bila kita memuji kebaikan seseorang secara umum, itu dinamakan al-hamd. Tapi, bila kita memuji karena kebaikannya yang khusus kepada kita, itu dinamankan dengan al-syukr,” paparnya.
Dalam ayat alhamdulillahi rabbil ‘alamin, Allah menggunakan kata al-hamd. Alif lam di situ menunjukkan li al-istighraq, yakni meliputi segala sesuatu. Bila diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris menurut Jalal, “alif lam” itu adalah “the’. Berarti, kata al-hamd merupakan isim ma’rifat (yang menunjukkan sesuatu yang tertentu).
Tapi, alif lam juga bisa menujukkan arti semua. Al-hamd berarti semua pujian. Dengan demikian, kata ini mencakup semua pujian, baik yang ikhtiyari, ghayr ikhtiyari (madh) maupun syukr.
Namun, Allah menggunakan kata al-hamd bukannya al-madh. Juga tidak digunakan kata al-syur. Hal ini menurut Jalal, karena sifat-sifat yang terdapat pada Allah atau kebaikan-kebaikannya bukanlah kebaikan yang ghayr ikhtiyari.
Kita memuji Allah karena Dia berbuat baik kepada kita, karena sesuatu yang ikhtiyari. Allah sudah memilih untuk berbuat baik kepada kita. Karena itu, kita mengucapkan al-hamdulillah, segala puji bagi Allah


KISAH LENGKAP 7 PEMUDA ASHABUL KAHFI


*
Dalam surat Al-Kahfi, Allah SWT menceritakan tiga kisah masa lalu, yaitu kisah Ashabul Kahfi, kisah pertemuan nabi Musa as dan nabi Khaidir as serta kisah Dzulqarnain. Kisah Ashabul Kahfi mendapat perhatian lebih dengan digunakan sebagai nama surat dimana terdapat tiga kisah tersebut. Hal ini tentu bukan kebetulan semata, tapi karena kisah Ashabul Kahfi, seperti juga kisah dalam al-Quran lainnya, bukan merupakan kisah semata, tapi juga terdapat banyak pelajaran (ibrah) didalamnya.
Ashabul Kahfi adalah nama sekelompok orang beriman yang hidup pada masa Raja Diqyanus di Romawi, beberapa ratus tahun sebelum diutusnya nabi Isa as. Mereka hidup ditengah masyarakat penyembah berhala dengan seorang raja yang dzalim. Ketika sang raja mengetahui ada sekelompok orang yang tidak menyembah berhala, maka sang raja marah lalu memanggil mereka dan memerintahkan mereka untuk mengikuti kepercayaan sang raja. Tapi Ashabul Kahfi menolak dan lari, dikejarlah mereka untuk dibunuh. Ketika mereka lari dari kejaran pasukan raja, sampailah mereka di mulut sebuah gua yang kemudian dipakai tempat persembunyian.
Dengan izin Allah mereka kemudian ditidurkan selama 309 tahun di dalam gua, dan dibangkitkan kembali ketika masyarakat dan raja mereka sudah berganti menjadi masyarakat dan raja yang beriman kepada Allah SWT (Ibnu Katsir; Tafsir al-Quran al-‘Adzim; jilid:3 ; hal.67-71).
Berikut adalah kisah Ashabul Kahfi (Penghuni Gua) yang ditafsir secara jelas jalan ceritanya. Penulis kitab Fadha’ilul Khamsah Minas Shihahis Sittah (jilid II, halaman 291-300), mengetengahkan suatu riwayat yang dikutip dari kitab Qishashul Anbiya. Riwayat tersebut berkaitan dengan tafsir ayat 10 Surah Al-Kahfi:
“(Ingatlah) tatkala pemuda-pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua lalu mereka berdo’a: “Wahai Tuhan kami berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)” (QS al-Kahfi:10)
Dengan panjang lebar kitab Qishashul Anbiya mulai dari halaman 566 meriwayatkan sebagai berikut:
Di kala Umar Ibnul Khattab memangku jabatan sebagai Amirul Mukminin, pernah datang kepadanya beberapa orang pendeta Yahudi. Mereka berkata kepada Khalifah: “Hai Khalifah Umar, anda adalah pemegang kekuasaan sesudah Muhammad dan sahabatnya, Abu Bakar. Kami hendak menanyakan beberapa masalah penting kepada anda. Jika anda dapat memberi jawaban kepada kami, barulah kami mau mengerti bahwa Islam merupakan agama yang benar dan Muhammad benar-benar seorang Nabi. Sebaliknya, jika anda tidak dapat memberi jawaban, berarti bahwa agama Islam itu bathil dan Muhammad bukan seorang Nabi.” “Silahkan bertanya tentang apa saja yang kalian inginkan,” sahut Khalifah Umar.“Jelaskan kepada kami tentang induk kunci (gembok) mengancing langit, apakah itu?” Tanya pendeta-pendeta itu, memulai pertanyaan-pertanyaannya. “Terangkan kepada kami tentang adanya sebuah kuburan yang berjalan bersama penghuninya, apakah itu? Tunjukkan kepada kami tentang suatu makhluk yang dapat memberi peringatan kepada bangsanya, tetapi ia bukan manusia dan bukan jin! Terangkan kepada kami tentang lima jenis makhluk yang dapat berjalan di permukaan bumi, tetapi makhluk-makhluk itu tidak dilahirkan dari kandungan ibu atau atau induknya! Beritahukan kepada kami apa yang dikatakan oleh burung puyuh (gemak) di saat ia sedang berkicau! Apakah yang dikatakan oleh ayam jantan di kala ia sedang berkokok! Apakah yang dikatakan oleh kuda di saat ia sedang meringkik? Apakah yang dikatakan oleh katak di waktu ia sedang bersuara? Apakah yang dikatakan oleh keledai di saat ia sedang meringkik? Apakah yang dikatakan oleh burung pipit pada waktu ia sedang berkicau?” Khalifah Umar menundukkan kepala untuk berfikir sejenak, kemudian berkata: “Bagi Umar, jika ia menjawab ‘tidak tahu’ atas pertanyaan-pertanyaan yang memang tidak diketahui jawabannya, itu bukan suatu hal yang memalukan!” Mendengar jawaban Khalifah Umar seperti itu, pendeta-pendeta Yahudi yang bertanya berdiri melonjak-lonjak kegirangan, sambil berkata: “Sekarang kami bersaksi bahwa Muhammad memang bukan seorang Nabi, dan agama Islam itu adalah bathil!” Salman Al-Farisi yang saat itu hadir, segera bangkit dan berkata kepada pendeta-pendeta Yahudi itu: “Kalian tunggu sebentar!” Ia cepat-cepat pergi ke rumah Ali bin Abi Thalib. Setelah bertemu, Salman berkata: “Ya Abal Hasan, selamatkanlah agama Islam!” Imam Ali r.a. bingung, lalu bertanya: “Mengapa?”
Salman kemudian menceritakan apa yang sedang dihadapi oleh Khalifah Umar Ibnul Khattab. Imam Ali segera saja berangkat menuju ke rumah Khalifah Umar, berjalan lenggang memakai burdah (selembar kain penutup punggung atau leher) peninggalan Rasul Allah s.a.w. Ketika Umar melihat Ali bin Abi Thalib datang, ia bangun dari tempat duduk lalu buru-buru memeluknya, sambil berkata: “Ya Abal Hasan, tiap ada kesulitan besar, engkau selalu kupanggil!” Setelah berhadap-hadapan dengan para pendeta yang sedang menunggu-nunggu jawaban itu, Ali bin Abi Thalib herkata: “Silakan kalian bertanya tentang apa saja yang kalian inginkan. Rasul Allah s.a.w. sudah mengajarku seribu macam ilmu, dan tiap jenis dari ilmu-ilmu itu mempunyai seribu macam cabang ilmu!”

Pendeta-pendeta Yahudi itu lalu mengulangi pertanyaan-pertanyaan mereka. Sebelum menjawab, Ali bin Abi Thalib berkata: “Aku ingin mengajukan suatu syarat kepada kalian, yaitu jika ternyata aku nanti sudah menjawab pertanyaan-pertanyaan kalian sesuai dengan yang ada di dalam Taurat, kalian supaya bersedia memeluk agama kami dan beriman!”
“Ya baik!” jawab mereka.
“Sekarang tanyakanlah satu demi satu,” kata Ali bin Abi Thalib.
Mereka mulai bertanya: “Apakah induk kunci (gembok) yang mengancing pintu-pintu langit?”
“Induk kunci itu,” jawab Ali bin Abi Thalib, “ialah syirik kepada Allah. Sebab semua hamba Allah, baik pria maupun wanita, jika ia bersyirik kepada Allah, amalnya tidak akan dapat naik sampai ke hadhirat Allah!”
Para pendeta Yahudi bertanya lagi: “Anak kunci apakah yang dapat membuka pintu-pintu langit?”
Ali bin Abi Thalib menjawab: “Anak kunci itu ialah kesaksian (syahadat) bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasul Allah!”

Para pendeta Yahudi itu saling pandang di antara mereka, sambil berkata: “Orang itu benar juga!” Mereka bertanya lebih lanjut: “Terangkanlah kepada kami tentang adanya sebuah kuburan yang dapat berjalan bersama penghuninya!”
“Kuburan itu ialah ikan hiu (hut) yang menelan Nabi Yunus putera Matta,” jawab Ali bin Abi Thalib. “Nabi Yunus as. dibawa keliling ketujuh samudera!”

Pendeta-pendeta itu meneruskan pertanyaannya lagi: “Jelaskan kepada kami tentang makhluk yang dapat memberi peringatan kepada bangsanya, tetapi makhluk itu bukan manusia dan bukan jin!”
Ali bin Abi Thalib menjawab: “Makhluk itu ialah semut Nabi Sulaiman putera Nabi Dawud alaihimas salam. Semut itu berkata kepada kaumnya: “Hai para semut, masuklah ke dalam tempat kediaman kalian, agar tidak diinjak-injak oleh Sulaiman dan pasukan-nya dalam keadaan mereka tidak sadar!”
Para pendeta Yahudi itu meneruskan pertanyaannya: “Beritahukan kepada kami tentang lima jenis makhluk yang berjalan di atas permukaan bumi, tetapi tidak satu pun di antara makhluk-makhluk itu yang dilahirkan dari kandungan ibunya atau induknya!”
Ali bin Abi Thalib menjawab: “Lima makhluk itu ialah, pertama, Adam. Kedua, Hawa. Ketiga, Unta Nabi Shaleh. Keempat, Domba Nabi Ibrahim. Kelima, Tongkat Nabi Musa (yang menjelma menjadi seekor ular).”
Dua di antara tiga orang pendeta Yahudi itu setelah mendengar jawaban-jawaban serta penjelasan yang diberikan oleh Imam Ali r.a. lalu mengatakan: “Kami bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasul Allah!”
Tetapi seorang pendeta lainnya, bangun berdiri sambil berkata kepada Ali bin Abi Thalib: “Hai Ali, hati teman-temanku sudah dihinggapi oleh sesuatu yang sama seperti iman dan keyakinan mengenai benarnya agama Islam. Sekarang masih ada satu hal lagi yang ingin kutanyakan kepada anda.”

“Tanyakanlah apa saja yang kau inginkan,” sahut Imam Ali.
“Coba terangkan kepadaku tentang sejumlah orang yang pada zaman dahulu sudah mati selama 309 tahun, kemudian dihidupkan kembali oleh Allah. Bagaimana hikayat tentang mereka itu?” Tanya pendeta tadi.
Ali bin Ali Thalib menjawab: “Hai pendeta Yahudi, mereka itu ialah para penghuni gua. Hikayat tentang mereka itu sudah dikisahkan oleh Allah s.w.t. kepada Rasul-Nya. Jika engkau mau, akan kubacakan kisah mereka itu.”
Pendeta Yahudi itu menyahut: “Aku sudah banyak mendengar tentang Qur’an kalian itu! Jika engkau memang benar-benar tahu, coba sebutkan nama-nama mereka, nama ayah-ayah mereka, nama kota mereka, nama raja mereka, nama anjing mereka, nama gunung serta gua mereka, dan semua kisah mereka dari awal sampai akhir!”
Ali bin Abi Thalib kemudian membetulkan duduknya, menekuk lutut ke depan perut, lalu ditopangnya dengan burdah yang diikatkan ke pinggang. Lalu ia berkata: “Hai saudara Yahudi, Muhammad Rasul Allah s.a.w. kekasihku telah menceritakan kepadaku, bahwa kisah itu terjadi di negeri Romawi, di sebuah kota bernama Aphesus, atau disebut juga dengan nama Tharsus. Tetapi nama kota itu pada zaman dahulu ialah Aphesus (Ephese). Baru setelah Islam datang, kota itu berubah nama menjadi Tharsus (Tarse, sekarang terletak di dalam wilayah Turki).
Penduduk negeri itu dahulunya mempunyai seorang raja yang baik. Setelah raja itu meninggal dunia, berita kematiannya didengar oleh seorang raja Persia bernama Diqyanius. Ia seorang raja kafir yang amat congkak dan dzalim. Ia datang menyerbu negeri itu dengan kekuatan pasukannya, dan akhirnya berhasil menguasai kota Aphesus. Olehnya kota itu dijadikan ibukota kerajaan, lalu dibangunlah sebuah Istana.”
Baru sampai di situ, pendeta Yahudi yang bertanya itu berdiri, terus bertanya: “Jika engkau benar-benar tahu, coba terangkan kepadaku bentuk Istana itu, bagaimana serambi dan ruangan-ruangannya!”
Ali bin Abi Thalib menerangkan: “Hai saudara Yahudi, raja itu membangun istana yang sangat megah, terbuat dari batu marmar. Panjangnya satu farsakh (= kl 8 km) dan lebarnya pun satu farsakh. Pilar-pilarnya yang berjumlah seribu buah, semuanya terbuat dari emas, dan lampu-lampu yang berjumlah seribu buah, juga semuanya terbuat dari emas. Lampu-lampu itu bergelantungan pada rantai-rantai yang terbuat dari perak. Tiap malam apinya dinyalakan dengan sejenis minyak yang harum baunya. Di sebelah timur serambi dibuat lubang-lubang cahaya sebanyak seratus buah, demikian pula di sebelah baratnya. Sehingga matahari sejak mulai terbit sampai terbenam selalu dapat menerangi serambi.
Raja itu pun membuat sebuah singgasana dari emas. Panjangnya 80 hasta dan lebarnya 40 hasta. Di sebelah kanannya tersedia 80 buah kursi, semuanya terbuat dari emas. Di situlah para hulubalang kerajaan duduk. Di sebelah kirinya juga disediakan 80 buah kursi terbuat dari emas, untuk duduk para pepatih dan penguasa-penguasa tinggi lainnya. Raja duduk di atas singgasana dengan mengenakan mahkota di atas kepala.”
Sampai di situ pendeta yang bersangkutan berdiri lagi sambil berkata: “Jika engkau benar-benar tahu, coba terangkan kepadaku dari apakah mahkota itu dibuat?”
“Hai saudara Yahudi,” kata Imam Ali menerangkan, “mahkota raja itu terbuat dari kepingan-kepingan emas, berkaki 9 buah, dan tiap kakinya bertaburan mutiara yang memantulkan cahaya laksana bintang-bintang menerangi kegelapan malam.
Raja itu juga mempunyai 50 orang pelayan, terdiri dari anak-anak para hulubalang. Semuanya memakai selempang dan baju sutera berwarna merah. Celana mereka juga terbuat dari sutera berwarna hijau. Semuanya dihias dengan gelang-gelang kaki yang sangat indah. Masing-masing diberi tongkat terbuat dari emas. Mereka harus berdiri di belakang raja.

Selain mereka, raja juga mengangkat 6 orang, terdiri dari anak-anak para cendekiawan, untuk dijadikan menteri-menteri atau pembantu-pembantunya. Raja tidak mengambil suatu keputusan apa pun tanpa berunding lebih dulu dengan mereka. Enam orang pembantu itu selalu berada di kanan kiri raja, tiga orang berdiri di sebelah kanan dan yang tiga orang lainnya berdiri di sebelah kiri.”
Pendeta yang bertanya itu berdiri lagi. Lalu berkata: “Hai Ali, jika yang kau katakan itu benar, coba sebutkan nama enam orang yang menjadi pembantu-pembantu raja itu!”
Menanggapi hal itu, Imam Ali r.a. menjawab: “Kekasihku Muhammad Rasul Allah s.a.w. menceritakan kepadaku, bahwa tiga orang yang berdiri di sebelah kanan raja, masing-masing bernama Tamlikha, Miksalmina, dan Mikhaslimina. Adapun tiga orang pembantu yang berdiri di sebelah kiri, masing-masing bernama Martelius, Casitius dan Sidemius. Raja selalu berunding dengan mereka mengenai segala urusan.
Tiap hari setelah raja duduk dalam serambi istana dikerumuni oleh semua hulubalang dan para punggawa, masuklah tiga orang pelayan menghadap raja. Seorang diantaranya membawa piala emas penuh berisi wewangian murni.
Seorang lagi membawa piala perak penuh berisi air sari bunga. Sedang yang seorangnya lagi membawa seekor burung. Orang yang membawa burung ini kemudian mengeluarkan suara isyarat, lalu burung itu terbang di atas piala yang berisi air sari bunga. Burung itu berkecimpung di dalamnya dan setelah itu ia mengibas-ngibaskan sayap serta bulunya, sampai sari-bunga itu habis dipercikkan ke semua tempat sekitarnya.
Kemudian si pembawa burung tadi mengeluarkan suara isyarat lagi. Burung itu terbang pula. Lalu hinggap di atas piala yang berisi wewangian murni. Sambil berkecimpung di dalamnya, burung itu mengibas-ngibaskan sayap dan bulunya, sampai wewangian murni yang ada dalam piala itu habis dipercikkan ke tempat sekitarnya. Pembawa burung itu memberi isyarat suara lagi. Burung itu lalu terbang dan hinggap di atas mahkota raja, sambil membentangkan kedua sayap yang harum semerbak di atas kepala raja.
Demikianlah raja itu berada di atas singgasana kekuasaan selama tiga puluh tahun. Selama itu ia tidak pernah diserang penyakit apa pun, tidak pernah merasa pusing kepala, sakit perut, demam, berliur, berludah atau pun beringus. Setelah sang raja merasa diri sedemikian kuat dan sehat, ia mulai congkak, durhaka dan dzalim. Ia mengaku-aku diri sebagai “tuhan” dan tidak mau lagi mengakui adanya Allah s.w.t.
Raja itu kemudian memanggil orang-orang terkemuka dari rakyatnya. Barang siapa yang taat dan patuh kepadanya, diberi pakaian dan berbagai macam hadiah lainnya. Tetapi barang siapa yang tidak mau taat atau tidak bersedia mengikuti kemauannya, ia akan segera dibunuh. Oleh sebab itu semua orang terpaksa mengiakan kemauannya. Dalam masa yang cukup lama, semua orang patuh kepada raja itu, sampai ia disembah dan dipuja. Mereka tidak lagi memuja dan menyembah Allah s.w.t.
Pada suatu hari perayaan ulang-tahunnya, raja sedang duduk di atas singgasana mengenakan mahkota di atas kepala, tiba-tiba masuklah seorang hulubalang memberi tahu, bahwa ada balatentara asing masuk menyerbu ke dalam wilayah kerajaannya, dengan maksud hendak melancarkan peperangan terhadap raja. Demikian sedih dan bingungnya raja itu, sampai tanpa disadari mahkota yang sedang dipakainya jatuh dari kepala.
Kemudian raja itu sendiri jatuh terpelanting dari atas singgasana. Salah seorang pembantu yang berdiri di sebelah kanan –seorang cerdas yang bernama Tamlikha– memperhatikan keadaan sang raja dengan sepenuh fikiran. Ia berfikir, lalu berkata di dalam hati: “Kalau Diqyanius itu benar-benar tuhan sebagaimana menurut pengakuannya, tentu ia tidak akan sedih, tidak tidur, tidak buang air kecil atau pun air besar. Itu semua bukanlah sifat-sifat Tuhan.”
Enam orang pembantu raja itu tiap hari selalu mengadakan pertemuan di tempat salah seorang dari mereka secara bergiliran. Pada satu hari tibalah giliran Tamlikha menerima kunjungan lima orang temannya. Mereka berkumpul di rumah Tamlikha untuk makan dan minum, tetapi Tamlikha sendiri tidak ikut makan dan minum. Teman-temannya bertanya: “Hai Tamlikha, mengapa engkau tidak mau makan dan tidak mau minum?”
“Teman-teman,” sahut Tamlikha, “hatiku sedang dirisaukan oleh sesuatu yang membuatku tidak ingin makan dan tidak ingin minum, juga tidak ingin tidur.”
Teman-temannya mengejar: “Apakah yang merisaukan hatimu, hai Tamlikha?”
“Sudah lama aku memikirkan soal langit,” ujar Tamlikha menjelaskan.”
Aku lalu bertanya pada diriku sendiri: ‘siapakah yang mengangkatnya ke atas sebagai atap yang senantiasa aman dan terpelihara, tanpa gantungan dari atas dan tanpa tiang yang menopangnya dari bawah?
Siapakah yang menjalankan matahari dan bulan di langit itu?
Siapakah yang menghias langit itu dengan bintang-bintang bertaburan?’ Kemudian kupikirkan juga bumi ini: ‘Siapakah yang membentang dan menghamparkan-nya di cakrawala?
Siapakah yang menahannya dengan gunung-gunung raksasa agar tidak goyah, tidak goncang dan tidak miring?’ Aku juga lama sekali memikirkan diriku sendiri: ‘Siapakah yang mengeluarkan aku sebagai bayi dari perut ibuku? Siapakah yang memelihara hidupku dan memberi makan kepadaku? Semuanya itu pasti ada yang membuat, dan sudah tentu bukan Diqyanius’…”
Teman-teman Tamlikha lalu bertekuk lutut di hadapannya. Dua kaki Tamlikha diciumi sambil berkata: “Hai Tamlikha dalam hati kami sekarang terasa sesuatu seperti yang ada di dalam hatimu. Oleh karena itu, baiklah engkau tunjukkan jalan keluar bagi kita semua!”
“Saudara-saudara,” jawab Tamlikha, “baik aku maupun kalian tidak menemukan akal selain harus lari meninggalkan raja yang dzalim itu, pergi kepada Raja pencipta langit dan bumi!”
“Kami setuju dengan pendapatmu,” sahut teman-temannya.
Tamlikha lalu berdiri, terus beranjak pergi untuk menjual buah kurma, dan akhirnya berhasil mendapat uang sebanyak 3 dirham. Uang itu kemudian diselipkan dalam kantong baju. Lalu berangkat berkendaraan kuda bersama-sama dengan lima orang temannya.
Setelah berjalan 3 mil jauhnya dari kota, Tamlikha berkata kepada teman-temannya: “Saudara-saudara, kita sekarang sudah terlepas dari raja dunia dan dari kekuasaannya. Sekarang turunlah kalian dari kuda dan marilah kita berjalan kaki. Mudah-mudahan Allah akan memudahkan urusan kita serta memberikan jalan keluar.”
Mereka turun dari kudanya masing-masing. Lalu berjalan kaki sejauh 7 farsakh, sampai kaki mereka bengkak berdarah karena tidak biasa berjalan kaki sejauh itu.
Tiba-tiba datanglah seorang penggembala menyambut mereka. Kepada penggembala itu mereka bertanya: “Hai penggembala, apakah engkau mempunyai air minum atau susu?”
“Aku mempunyai semua yang kalian inginkan,” sahut penggembala itu. “Tetapi kulihat wajah kalian semuanya seperti kaum bangsawan. Aku menduga kalian itu pasti melarikan diri. Coba beritahukan kepadaku bagaimana cerita perjalanan kalian itu!”
“Ah…, susahnya orang ini,” jawab mereka. “Kami sudah memeluk suatu agama, kami tidak boleh berdusta. Apakah kami akan selamat jika kami mengatakan yang sebenarnya?”
“Ya,” jawab penggembala itu.
Tamlikha dan teman-temannya lalu menceritakan semua yang terjadi pada diri mereka. Mendengar cerita mereka, penggembala itu segera bertekuk lutut di depan mereka, dan sambil menciumi kaki mereka, ia berkata: “Dalam hatiku sekarang terasa sesuatu seperti yang ada dalam hati kalian. Kalian berhenti sajalah dahulu di sini. Aku hendak mengembalikan kambing-kambing itu kepada pemiliknya. Nanti aku akan segera kembali lagi kepada kalian.”
Tamlikha bersama teman-temannya berhenti. Penggembala itu segera pergi untuk mengembalikan kambing-kambing gembalaannya. Tak lama kemudian ia datang lagi berjalan kaki, diikuti oleh seekor anjing miliknya.”
Waktu cerita Imam Ali sampai di situ, pendeta Yahudi yang bertanya melonjak berdiri lagi sambil berkata: “Hai Ali, jika engkau benar-benar tahu, coba sebutkan apakah warna anjing itu dan siapakah namanya?”
“Hai saudara Yahudi,” kata Ali bin Abi Thalib memberitahukan, “kekasihku Muhammad Rasul Allah s.a.w. menceritakan kepadaku, bahwa anjing itu berwarna kehitam-hitaman dan bernama Qithmir.
Ketika enam orang pelarian itu melihat seekor anjing, masing-masing saling berkata kepada temannya: kita khawatir kalau-kalau anjing itu nantinya akan membongkar rahasia kita! Mereka minta kepada penggembala supaya anjing itu dihalau saja dengan batu.
Anjing itu melihat kepada Tamlikha dan teman-temannya, lalu duduk di atas dua kaki belakang, menggeliat, dan mengucapkan kata-kata dengan lancar dan jelas sekali: “Hai orang-orang, mengapa kalian hendak mengusirku, padahal aku ini bersaksi tiada tuhan selain Allah, tak ada sekutu apa pun bagi-Nya. Biarlah aku menjaga kalian dari musuh, dan dengan berbuat demikian aku mendekatkan diriku kepada Allah s.w.t.” Anjing itu akhirnya dibiarkan saja. Mereka lalu pergi.
Penggembala tadi mengajak mereka naik ke sebuah bukit. Lalu bersama mereka mendekati sebuah gua.”
Pendeta Yahudi yang menanyakan kisah itu, bangun lagi dari tempat duduknya sambil berkata: “Apakah nama gunung itu dan apakah nama gua itu?!”
Imam Ali menjelaskan: “Gunung itu bernama Naglus dan nama gua itu ialah Washid, atau di sebut juga dengan nama Kheram!”
Ali bin Abi Thalib meneruskan ceritanya: secara tiba-tiba di depan gua itu tumbuh pepohonan berbuah dan memancur mata-air deras sekali. Mereka makan buah-buahan dan minum air yang tersedia di tempat itu. Setelah tiba waktu malam, mereka masuk berlindung di dalam gua. Sedang anjing yang sejak tadi mengikuti mereka, berjaga-jaga ndeprok sambil menjulurkan dua kaki depan untuk menghalang-halangi pintu gua.
Kemudian Allah s.w.t. memerintahkan Malaikat maut supaya mencabut nyawa mereka. Kepada masing-masing orang dari mereka Allah s.w.t. mewakilkan dua Malaikat untuk membalik-balik tubuh mereka dari kanan ke kiri. Allah lalu memerintahkan matahari supaya pada saat terbit condong memancarkan sinarnya ke dalam gua dari arah kanan, dan pada saat hampir terbenam supaya sinarnya mulai meninggalkan mereka dari arah kiri.
Suatu ketika waktu raja Diqyanius baru saja selesai berpesta ia bertanya tentang enam orang pembantunya. Ia mendapat jawaban, bahwa mereka itu melarikan diri. Raja Diqyanius sangat gusar. Bersama 80.000 pasukan berkuda ia cepat-cepat berangkat menyelusuri jejak enam orang pembantu yang melarikan diri. Ia naik ke atas bukit, kemudian mendekati gua. Ia melihat enam orang pembantunya yang melarikan diri itu sedang tidur berbaring di dalam gua. Ia tidak ragu-ragu dan memastikan bahwa enam orang itu benar-benar sedang tidur.
Kepada para pengikutnya ia berkata: “Kalau aku hendak menghukum mereka, tidak akan kujatuhkan hukuman yang lebih berat dari perbuatan mereka yang telah menyiksa diri mereka sendiri di dalam gua. Panggillah tukang-tukang batu supaya mereka segera datang ke mari!”
Setelah tukang-tukang batu itu tiba, mereka diperintahkan menutup rapat pintu gua dengan batu-batu dan jish (bahan semacam semen). Selesai dikerjakan, raja berkata kepada para pengikutnya: “Katakanlah kepada mereka yang ada di dalam gua, kalau benar-benar mereka itu tidak berdusta supaya minta tolong kepada Tuhan mereka yang ada di langit, agar mereka dikeluarkan dari tempat itu.”
Dalam gua tertutup rapat itu, mereka tinggal selama 309 tahun.
Setelah masa yang amat panjang itu lampau, Allah s.w.t. mengembalikan lagi nyawa mereka. Pada saat matahari sudah mulai memancarkan sinar, mereka merasa seakan-akan baru bangun dari tidurnya masing-masing. Yang seorang berkata kepada yang lainnya: “Malam tadi kami lupa beribadah kepada Allah, mari kita pergi ke mata air!”
Setelah mereka berada di luar gua, tiba-tiba mereka lihat mata air itu sudah mengering kembali dan pepohonan yang ada pun sudah menjadi kering semuanya. Allah s.w.t. membuat mereka mulai merasa lapar. Mereka saling bertanya: “Siapakah di antara kita ini yang sanggup dan bersedia berangkat ke kota membawa uang untuk bisa mendapatkan makanan? Tetapi yang akan pergi ke kota nanti supaya hati-hati benar, jangan sampai membeli makanan yang dimasak dengan lemak-babi.”
Tamlikha kemudian berkata: “Hai saudara-saudara, aku sajalah yang berangkat untuk mendapatkan makanan. Tetapi, hai penggembala, berikanlah bajumu kepadaku dan ambillah bajuku ini!”
Setelah Tamlikha memakai baju penggembala, ia berangkat menuju ke kota. Sepanjang jalan ia melewati tempat-tempat yang sama sekali belum pernah dikenalnya, melalui jalan-jalan yang belum pernah diketahui. Setibanya dekat pintu gerbang kota, ia melihat bendera hijau berkibar di angkasa bertuliskan: “Tiada Tuhan selain Allah dan Isa adalah Roh Allah.”
Tamlikha berhenti sejenak memandang bendera itu sambil mengusap-usap mata, lalu berkata seorang diri: “Kusangka aku ini masih tidur!” Setelah agak lama memandang dan mengamat-amati bendera, ia meneruskan perjalanan memasuki kota. Dilihatnya banyak orang sedang membaca Injil. Ia berpapasan dengan orang-orang yang belum pernah dikenal. Setibanya di sebuah pasar ia bertanya kepada seorang penjaja roti: “Hai tukang roti, apakah nama kota kalian ini?”
“Aphesus,” sahut penjual roti itu.
“Siapakah nama raja kalian?” tanya Tamlikha lagi. “Abdurrahman,” jawab penjual roti.
“Kalau yang kau katakan itu benar,” kata Tamlikha, “urusanku ini sungguh aneh sekali! Ambillah uang ini dan berilah makanan kepadaku!”
Melihat uang itu, penjual roti keheran-heranan. Karena uang yang dibawa Tamlikha itu uang zaman lampau, yang ukurannya lebih besar dan lebih berat.
Pendeta Yahudi yang bertanya itu kemudian berdiri lagi, lalu berkata kepada Ali bin Abi Thalib: “Hai Ali, kalau benar-benar engkau mengetahui, coba terangkan kepadaku berapa nilai uang lama itu dibanding dengan uang baru!”
Imam Ali menerangkan: “Kekasihku Muhammad Rasul Allah s.a.w. menceritakan kepadaku, bahwa uang yang dibawa oleh Tamlikha dibanding dengan uang baru, ialah tiap dirham lama sama dengan sepuluh dan dua pertiga dirham baru!”
Imam Ali kemudian melanjutkan ceritanya: Penjual Roti lalu berkata kepada Tamlikha: “Aduhai, alangkah beruntungnya aku! Rupanya engkau baru menemukan harta karun! Berikan sisa uang itu kepadaku! Kalau tidak, engkau akan ku hadapkan kepada raja!”
“Aku tidak menemukan harta karun,” sangkal Tamlikha. “Uang ini ku dapat tiga hari yang lalu dari hasil penjualan buah kurma seharga tiga dirham! Aku kemudian meninggalkan kota karena orang-orang semuanya menyembah Diqyanius!”
Penjual roti itu marah. Lalu berkata: “Apakah setelah engkau menemukan harta karun masih juga tidak rela menyerahkan sisa uangmu itu kepadaku? Lagi pula engkau telah menyebut-nyebut seorang raja durhaka yang mengaku diri sebagai tuhan, padahal raja itu sudah mati lebih dari 300 tahun yang silam! Apakah dengan begitu engkau hendak memperolok-olok aku?”
Tamlikha lalu ditangkap. Kemudian dibawa pergi menghadap raja. Raja yang baru ini seorang yang dapat berfikir dan bersikap adil. Raja bertanya kepada orang-orang yang membawa Tamlikha: “Bagaimana cerita tentang orang ini?”
“Dia menemukan harta karun,” jawab orang-orang yang membawanya.

Kepada Tamlikha, raja berkata: “Engkau tak perlu takut! Nabi Isa a.s. memerintahkan supaya kami hanya memungut seperlima saja dari harta karun itu. Serahkanlah yang seperlima itu kepadaku, dan selanjutnya engkau akan selamat.”
Tamlikha menjawab: “Baginda, aku sama sekali tidak menemukan harta karun! Aku adalah penduduk kota ini!”
Raja bertanya sambil keheran-heranan: “Engkau penduduk kota ini?”

“Ya. Benar,” sahut Tamlikha.
“Adakah orang yang kau kenal?” tanya raja lagi.
“Ya, ada,” jawab Tamlikha.
“Coba sebutkan siapa namanya,” perintah raja.
Tamlikha menyebut nama-nama kurang lebih 1000 orang, tetapi tak ada satu nama pun yang dikenal oleh raja atau oleh orang lain yang hadir mendengarkan. Mereka berkata: “Ah…, semua itu bukan nama orang-orang yang hidup di zaman kita sekarang. Tetapi, apakah engkau mempunyai rumah di kota ini?”
“Ya, tuanku,” jawab Tamlikha. “Utuslah seorang menyertai aku!”
Raja kemudian memerintahkan beberapa orang menyertai Tamlikha pergi. Oleh Tamlikha mereka diajak menuju ke sebuah rumah yang paling tinggi di kota itu. Setibanya di sana, Tamlikha berkata kepada orang yang mengantarkan: “Inilah rumahku!”
Pintu rumah itu lalu diketuk. Keluarlah seorang lelaki yang sudah sangat lanjut usia. Sepasang alis di bawah keningnya sudah sedemikian putih dan mengkerut hampir menutupi mata karena sudah terlampau tua. Ia terperanjat ketakutan, lalu bertanya kepada orang-orang yang datang: “Kalian ada perlu apa?”
Utusan raja yang menyertai Tamlikha menyahut: “Orang muda ini mengaku rumah ini adalah rumahnya!”
Orang tua itu marah, memandang kepada Tamlikha. Sambil mengamat-amati ia bertanya: “Siapa namamu?”
“Aku Tamlikha anak Filistin!”

Orang tua itu lalu berkata: “Coba ulangi lagi!”
Tamlikha menyebut lagi namanya. Tiba-tiba orang tua itu bertekuk lutut di depan kaki Tamlikha sambil berucap: “Ini adalah datukku! Demi Allah, ia salah seorang di antara orang-orang yang melarikan diri dari Diqyanius, raja durhaka.”
Kemudian diteruskannya dengan suara haru: “Ia lari berlindung kepada Yang Maha Perkasa, Pencipta langit dan bumi. Nabi kita, Isa as., dahulu telah memberitahukan kisah mereka kepada kita dan mengatakan bahwa mereka itu akan hidup kembali!”
Peristiwa yang terjadi di rumah orang tua itu kemudian di laporkan kepada raja. Dengan menunggang kuda, raja segera datang menuju ke tempat Tamlikha yang sedang berada di rumah orang tua tadi. Setelah melihat Tamlikha, raja segera turun dari kuda. Oleh raja Tamlikha diangkat ke atas pundak, sedangkan orang banyak beramai-ramai menciumi tangan dan kaki Tamlikha sambil bertanya-tanya: “Hai Tamlikha, bagaimana keadaan teman-temanmu?”
Kepada mereka Tamlikha memberi tahu, bahwa semua temannya masih berada di dalam gua.

“Pada masa itu kota Aphesus diurus oleh dua orang bangsawan istana. Seorang beragama Islam dan seorang lainnya lagi beragama Nasrani. Dua orang bangsawan itu bersama pengikutnya masing-masing pergi membawa Tamlikha menuju ke gua,” demikian Imam Ali melanjutkan ceritanya.
Teman-teman Tamlikha semuanya masih berada di dalam gua itu. Setibanya dekat gua, Tamlikha berkata kepada dua orang bangsawan dan para pengikut mereka: “Aku khawatir kalau sampai teman-temanku mendengar suara tapak kuda, atau gemerincingnya senjata. Mereka pasti menduga Diqyanius datang dan mereka bakal mati semua. Oleh karena itu kalian berhenti saja di sini. Biarlah aku sendiri yang akan menemui dan memberitahu mereka!”
Semua berhenti menunggu dan Tamlikha masuk seorang diri ke dalam gua. Melihat Tamlikha datang, teman-temannya berdiri kegirangan, dan Tamlikha dipeluknya kuat-kuat. Kepada Tamlikha mereka berkata: “Puji dan syukur bagi Allah yang telah menyelamatkan dirimu dari Diqyanius!”
Tamlikha menukas: “Ada urusan apa dengan Diqyanius? Tahukah kalian, sudah berapa lamakah kalian tinggal di sini?”
“Kami tinggal sehari atau beberapa hari saja,” jawab mereka.

“Tidak!” sangkal Tamlikha. “Kalian sudah tinggal di sini selama 309 tahun! Diqyanius sudah lama meninggal dunia! Generasi demi generasi sudah lewat silih berganti, dan penduduk kota itu sudah beriman kepada Allah yang Maha Agung! Mereka sekarang datang untuk bertemu dengan kalian!”
Teman-teman Tamlikha menyahut: “Hai Tamlikha, apakah engkau hendak menjadikan kami ini orang-orang yang menggemparkan seluruh jagad?”
“Lantas apa yang kalian inginkan?” Tamlikha balik bertanya.
“Angkatlah tanganmu ke atas dan kami pun akan berbuat seperti itu juga,” jawab mereka.
Mereka bertujuh semua mengangkat tangan ke atas, kemudian berdoa: “Ya Allah, dengan kebenaran yang telah Kau perlihatkan kepada kami tentang keanehan-keanehan yang kami alami sekarang ini, cabutlah kembali nyawa kami tanpa sepengetahuan orang lain!”
Allah s.w.t. mengabulkan permohonan mereka. Lalu memerintahkan Malaikat maut mencabut kembali nyawa mereka. Kemudian Allah s.w.t. melenyapkan pintu gua tanpa bekas. Dua orang bangsawan yang menunggu-nunggu segera maju mendekati gua, berputar-putar selama tujuh hari untuk mencari-cari pintunya, tetapi tanpa hasil. Tak dapat ditemukan lubang atau jalan masuk lainnya ke dalam gua.
Pada saat itu dua orang bangsawan tadi menjadi yakin tentang betapa hebatnya kekuasaan Allah s.w.t. Dua orang bangsawan itu memandang semua peristiwa yang dialami oleh para penghuni gua, sebagai peringatan yang diperlihatkan Allah kepada mereka.
Bangsawan yang beragama Islam lalu berkata: “Mereka mati dalam keadaan memeluk agamaku! Akan ku dirikan sebuah tempat ibadah di pintu gua itu.”
Sedang bangsawan yang beragama Nasrani berkata pula: “Mereka mati dalam keadaan memeluk agamaku! Akan ku dirikan sebuah biara di pintu gua itu.”
Dua orang bangsawan itu bertengkar, dan setelah melalui pertikaian senjata, akhirnya bangsawan Nasrani terkalahkan oleh bangsawan yang beragama Islam. Dengan terjadinya peristiwa tersebut, maka Allah berfirman:
“Dan begitulah Kami menyerempakkan mereka, supaya mereka mengetahui bahawa janji Allah adalah benar, dan bahawa Saat itu tidak ada keraguan padanya. Apabila mereka berbalahan antara mereka dalam urusan mereka, maka mereka berkata, “Binalah di atas mereka satu bangunan; Pemelihara mereka sangat mengetahui mengenai mereka.” Berkata orang-orang yang menguasai atas urusan mereka, “Kami akan membina di atas mereka sebuah masjid.”
Sampai di situ Imam Ali bin Abi Thalib berhenti menceritakan kisah para penghuni gua. Kemudian berkata kepada pendeta Yahudi yang menanyakan kisah itu: “Itulah, hai Yahudi, apa yang telah terjadi dalam kisah mereka. Demi Allah, sekarang aku hendak bertanya kepadamu, apakah semua yang ku ceritakan itu sesuai dengan apa yang tercantum dalam Taurat kalian?”
Pendeta Yahudi itu menjawab: “Ya Abal Hasan, engkau tidak menambah dan tidak mengurangi, walau satu huruf pun! Sekarang engkau jangan menyebut diriku sebagai orang Yahudi, sebab aku telah bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba Allah serta Rasul-Nya. Aku pun bersaksi juga, bahwa engkau orang yang paling berilmu di kalangan ummat ini!”
Demikianlah hikayat tentang para penghuni gua (Ashhabul Kahfi), kutipan dari kitab Qishasul Anbiya yang tercantum dalam kitab Fadha ‘ilul Khamsah Minas Shihahis Sittah, tulisan As Sayyid Murtadha Al Huseiniy Al Faruz Aabaad, dalam menunjukkan banyaknya ilmu pengetahuan yang diperoleh Imam Ali bin Abi Thalib dari Rasul Allah s.a.w.

Dibagikan oleh : Drs. KH. Muhammad Muhsin Amir
Pon. Pes. Annuqaya Daerah Al Amir, Guluk-Gulukl Sumenep, tahun 2014


---------------------------------------------

TRIK PEMBELAJARAN BAHASA ARAB YANG MENYENANGKAN


Ketika Zama ditanya, “Manakah yang paling mudah? Belajar Bahasa Arab atau Bahasa Inggris. Dia menjawab, “Yang paling mudah adalah Bahasa Inggris”.
Ketika Farhan ditanya, ”Kamu lebih suka mana, lagu-lagu Arab atau Barat? Barat, begitu kata Farhan dengan nada sewot.
Ketika Nauval ditanya, “Di antara pelajaran-pelajaran di sekolahmu, mana kira-kira yang paling kamu anggap sulit? Apa jawab Nauval? Jelas Bahasa Arab sulit pooool !!!
Sementara, Ulil ketika ditanya, ”Kenapa nilai kamu yang tertinggi Bahasa Arab, bukan Bahasa Inggris, bukan Bahasa Indonesia atau yang lain? Apa jawab Ulil? Bahasa Arab gampang, tidak sulit, enak, mengasyikkan, gurunya hmmm ...
Pernahkah kita melihat fenomena seperti ini?
Pernahkah kita menerima jawaban anak-anak semacam ini?
Sungguh ironis. Jawaban-jawaban yang membuat hati kita trenyuh.
Dari 4 jawaban, hanya 1 jawaban yang memberikan semangat untuk belajar dan mengajar Bahasa Arab. Sedangkan 3 lainnya menunjukkan sikap acuh, ogah dan wegah.

Kita paham Bahasa Arab. Mulai dari huruf-hurufnya, kata-katanya, kalimat-kalimatnya, struktur kalimatnya, sampai dengan tingkatan sastranya. Dalam kehidupan kita pun juga demikian. Banyak suara-suara yang berbau arab-araban yang masuk telinga kita. Banyak tulisan-tulisan arab yang kita baca. Banyak istilah-istilah arab yang kita baca. Mulai dari adzan, bacaan shalat, dzikir, doa, gambar-gambar kaligrafi dan lain sebagainya.
Akan tetapi, mengapa orang-orang yang ada dalam bimbingan kita merasa tidak seperti kita yang tidak sulit belajar Bahasa Arab? Mereka masih menganggap bahasa Arab adalah sesuatu yang asing.

Mengapa kita merasa sulit untuk mentransfer ilmu kita kepada mereka?
Mengapa kita masih selalu bertahan menggunakan cara lama sebagaimana cara yang digunakan guru kita saat mengajar kita, sementara orang-orang yang berada di bawah bimbingan kita sudah tidak seperti kita?

Mengapa kita masih belum berani untuk mencoba metode baru?
Itulah pertanyaan-pertanyaan yang selalu muncul dalam pikiran kita dan selalu membuat kita merasa bahwa pelajaran Bahasa Arab adalah hanyalah sebuah pelajaran. Tidak ada bedanya dengan pelajaran lain. Tidak memiliki keistimewaan apapun. Tidak ada memiliki kekhususan apapun. Bahkan masih banyak lagi negative thingking, eh su’udzdzon (ko’ jadi ikut-ikutan bahasa Inggris?) kita pada bahasa Arab, gara-gara kita merasa sulit mengajar Bahasa Arab.
Sebenarnya mudah dalam mengajarkan bahasa Arab kepada orang lain. Yang penting kita mau berusaha bagaimana agar anak didik kita menjadi seperti kita. Ada beberapa trik jitu dalam mengajar Bahasa Arab, antara lain :

1. Performance
Sudah menjadi rahasia umum, jika penampilan merupakan faktor penting yang pertama dalam pembelajaran. Bukan hanya pelajaran Bahasa Arab, akan tetapi juga pelajaran-pelajaran lain. Hal ini merupakan ”pandangan pertama” bagi seorang siswa kepada gurunya. Ketika pertama kali siswa melihat gurunya dalam kondisi yang menyenangkan untuk dilihat, memakai pakaian yang layak, rapi dan selalu tampil prima di depan kelas dan senantiasa memasang senyum yang indah, maka ketika itulah muncul benih-benih cinta terhadap pelajaran yang akan disampaikannya. Siswa akan selalu siap dalam kondisi menerima pelajaran, merasa senang ketika diajar, merasa rindu jika tidak diajar dan jika merasa esensi pelajaran memang sulit, dia akan tetap mengatakan mudah.
Sementara, jika penampilan bukan segala-galanya, mengajar dengan acuh tak acuh, memakai pakaian ala kadarnya, tidak rapi, kondisi sehat tapi tidak berusaha tampil prima dan selalu memasang tampang yang kurang menyenangkan, maka saat itulah rasa suka siswa kepada pelajaran yang akan diajarkan menjadi hilang. Seberapapun mudahnya esensi pelajaran, akan tetapi jika tidak diimbangi dengan penampilan guru yang selayaknya, maka hal ini akan memberikan pengaruh negatif kepada siswa. Semakin lama dia akan semakin tidak tertarik pada pelajaran yang disampaikannya.
Penampilan, meskipun bukan satu-satunya trik jitu, akan tetapi setidak-tidaknya menjadi nilai tambah untuk menarik perhatian siswa agar lebih serius ketika menerima pelajaran.

2. Moderat
Di sinilah letak pentingnya kita memiliki sikap moderat. Sebuah sikap yang selalu berada di tengah. Tidak terlalu ke kanan atau ke kiri. Tidak terlalu keras atau pun lunak. Bukan pemarah ataupun penyabar. Semuanya kita setting sesuai dengan situasi dan kondisinya.
Ketika menghadapi siswa yang merasa kesulitan menerima pelajaran, maka yang harus kita kedepankan bukan pemarah, tapi penyabar. Kita bimbing pelan-pelan, kita munculkan rasa senang kepada pelajaran, kita sampaikan bahwa Bahasa Arab adalah pelajaran yang mudah, tidak sulit dan lain sebagainya

3. Memahami diri sendiri
Memahami diri sendiri adalah sebuah hal yang harus kita lakukan sebelum memahami orang lain. Orang tidak akan mampu memahami orang lain jika dia tidak mampu memahami dirinya sendiri. Kita harus paham bahwa masa kita dahulu tidak sama dengan masa siswa kita sekarang. Dengan demikian, kita paham perbedaan di antara kita dengan siswa. Kita tidak bisa memaksa orang lain agar mejadi oarang yang sama dengan kita. Kita lihat mereka, kemudian kita sampaikan sesuai dengan keadaan mereka, bukan seseuai dengan keadaan kita

4. Memahami siswa
Di dalam kelas yang isinya kurang lebih sekitar 35 orang, kita akan melihat berbagai macam karakter anak. Ada yang pintar, bodoh, rajin, malas, mudah memahami, sulit menerima dan lain sebagainya. Semuanya harus kita pahami sebagai satu hal yang sudah biasa. Kita harus menyadari bahwa tidak akan membuat sebuah perubahan jika apa yang kita hadapi hanyalah yang bersifat stagnan. Kita tidak akan kreatif, jika apa yang ada di depan kita bukan sebuah tantangan. Kita tidak akan inovatif, jika siswa yang kita ajar adalah siswa-siswa yang cerdas semua.

5. Tulisan
Bahasa Arab memiliki sebuah karakter yang spesifik. Ditinjau dari segi seni, karakter tulisan bahasa Arab memiliki nilai seni yang tinggi. Kaidah menulis Arab (khot) yang dikuasai oleh seorang guru akan memberikan kesan yang mendalam bagi seorang siswa. Siswa akan mengatakan, ”Betapa indahnya tulisan guruku, betapa bagusnya, betapa tinggi nilai seni tulisannya dan lain-lain. Di sinilah letak pentingnya mengapa seorang guru Bahasa Arab disamping menguasai materi, dia juga harus mempelajari kaidah khot, bagaimana agar tulisannya bisa dibaca siswa, menarik perhatian siswa, membuat siswa ikut suka menulis bahasa Arab

6. Mengawali dengan hal-hal yang menarik
Dalam proses belajar dan mengajar bahasa Arab, mengawalinya dengan hal-hal yang menarik adalah faktor yang penting. Hal ini tidak berbeda jauh dengan faktor penampilan. Secara khusus, bahasa Arab harus diperkenalkan sebagai bahasa yang mudah, enak, menyenangkan dan komunikatif. Pelajaran pertama yang kita sampaikan harus pelajaran yang mudah dipahami dahulu oleh siswa. Siswa diperkenalkan dengan kosakata dasar yang tidak mudah berubah, seperti istilah kekerabatan, nama-nama bagian tubuh, kata ganti, kata kerja pokok dan kosakata lain yang mudah untuk dipelajari. Demikian juga dengan metode dan pendekatannya. Kita tidak boleh mengeluarkan kata-kata yang sementara waktu masih sulit dilafalkan oleh siswa. Hal ini sangat penting untuk dilakukan, demi mempertahankan rasa suka siswa terhadap pelajaran bahasa Arab.

7. Rencana
Sesuatu yang direncanakan, peluangnya lebih besar berhasilnya daripada yang tidak direncanakan. Dalam pembalajaran Bahasa Arab, rencana harus dipersiapkan dengan matang. Penjabaran Standar Kompetensi (SK), Kompetensi Dasar (KD), Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan Silabus sudah harus disiapkan sebelum mengajar. Tidak ketinggalan Rancangan Penilaian Hasil Belajar juga harus dipersiapkan. Semua ini dalam rangka agar guru merasa lebih nyaman ketika mengajar. Perkiraan-perkiraan yang akan terjadi dalam proses pengajaran sudah diprediksi sejak awal. Sehingga jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, maka bisa diminimalisir sedini mungkin.
oleh : Faruq Baharudin


Senin, 29 September 2014


إهــداء
 إلى من زرع وردة فى دربى
 إلى من وضـع الأنـوار المستنيرة فى غـالى
 إلى من استوفى آمـالى وأخـيـلـتى
 إلى من قـادنى وربـّانى منـذصـغـارى
 الآن  ... الآن قـدقطفت ثمـرة قيـادتـك وتـربيتك وإن كان نـيئـا
 عسى أن تـكــون وسـيلة لـنجـاتى ويحشرناالله معك
 فى الـفـردوس نـزلا.

أمــين





  
مقدمة
          الحمدلله الذى خص يـوم الجمعة وليلتهـا بالفضائـل لهذه الأمة المحمدية وأضل عنه أهل الكـتاب وإنه اليوم الذى اجتمع أدم وحواء فى عرفة واليوم الذى تفزع منه السموات والأرض والجبال والبحار والخلائق كلـهـا إلاشياطين الجن والإنس . أشهد أن لا إله إلا الله وأشهد أن محمدا عبده ورسوله البليـغ حجته وبرهانه صاحب الشفاعة فى يوم القيامة . اللهم صل وسلم على سيدنا وحبيبنا وشفيعنا محمد الهادى إلى صراط المستقيم وعلى أله أهل الـتـقى والفضل العظيم  ولاحول ولا قوة  إلا بالله  العلى العظيم ،  أمابعد.
          فبهـداية الله تعالى ورحمته أقدِرعلى كـتابة شرح منظومة           " ضـوء الشُّمعة بخصائص يـوم الجمعة " ألـفه شيخنا ومربينا خادم العلم الشريف بمكة المكرمة الشيخ الفاضل العالم العلامة الورع الكامل أبـو محمدإسماعيل عثمان زين اليمانى المكى الشافعى من كـبار العلماء المتأخرين المتوفى بمكـة المكرمة يوم الثالث عشرة من ذى الحجة سنة الخامس عشرة وأربعمائة وألف هجرية الموفق بأول يـونيـو سنة ألـف وتسعمائة وأربـع وتسـعين ميلاديـة
          وقدألـف الشيخ هذه المنظومة  اعتمادا على الكـتاب المبارك ألفه الإمام الحافظ جلال الدين السيوطى المتوفى سنة تسعمائة واحدى عشر هجـرية رحـمه الله تعالى وهو " نـور اللُّمعـة يخصائـص يـوم الجمعـة".اشتمل الكـتاب المبارك على مائة حديث نـبوى يبحث فيه مميزات يوم الجمعة السعيد.ونظّمه الشيخ على مائة بيت ويفعل ذلك فى السيّارة مابين المدينة المنورة والمكـة المكـرمة سنة ألف وأربعمائة واثنتين هجرية وسماه بـــ "منظومة ضوء الشُّمعة بخصائص يوم الجمعة". وشرحت هذه المنظومة المباركـة شرحا موجزا وسميـته : "نـورالـغـُرّة بخصائـص يــوم الجمعـة " وقـد أجـريت فى كـتـابة شرحه سابقاحينماكـنت مقيما كـطالب العلوم الدينية بين يدى الشيخ برصيفة مـكة المكـرمة سنة ألف وأربعمائة وأربعة عشر هجرية.عسى الله أن يجـعــل هـــذا الكـتـاب الصغير هيئة والكـبير فائـدة إن شاءالله مباركا مخلودا وأن يجعل قارئه وطالعه وكاتبه من العلماءالعاملين المخلصين لوجه الله الكريم وأن ينقـيهـا من الـريـاء والـعُجب والسمـعة ولا نـقـع تحت طائـلـة قوله صلى الله عليه وسلم : " من يسمّـع يسمّـع الله بـه ومـن يُـرائـى يـرائـى الله بـه ". وأن يحشرهم الله مع صاحب المنظـومة وصاحب أصولهـا فى جنات النعيم . وإلى الله المرجع والـمآب. والله اعلم بالصواب .
                                 تحريرا بحي  رصَـيفة  مكـة المكـرمة
                          8 / 6 /  1414 هـ    21 / 11/ 1993 م


 
حَمْـدًالِمَنْ فَضَّلَ بَعْضَ الـزَّمَـنِ

عَلَى ِلسَانِ اْلمُصْطَـفَى اْلمُـؤْتَمَـنِ
وَخَصَّـنَا أُمَّـةَ طَـهَ أَحْمـَــــــدَا

دُوْنَ سِـوَانـَابِمَـزَايَاسَــرْمَـــــــدَا
          ابـتدأ الناظم رحمـه الله تعالى كـتابه بالبسملة (بسم الله الرحمن الرحيم) إقـتداء بالكـتاب المجيد وعملا بخبر أبى داود كل أمر ذى بال لايبدأ فيه ببسم الله الرحمن الرحيم فهو أقطع  أى ناقص البركـة .وفى رواية فهو أجذم . قال الناظم رحمه الله تعالى : (حمدا)أى ثناء لله بجميع صفاته الكـاملة (لمن)أى لله الواجب الوجود (فضل بعض الزمن) أى الذى وهب نعمه التى لاتحصى فى زمن قليل وقصير (على لسان)أى على قول (المصطفى) وهو المختار صلى الله عليه وأله وسلم  (المؤتمن) لصدقه فى تأدية الأمانات من الله سبحانه وتعالى لأمته (وخصنا) أى وفضلنا يوم الجمعة (أمـة طه أحمدا) أى بأمة محمد
 صلى الله عليه وأله وسلم.لقب محمدبطه لماكان يقوم فى تهجده على إحدى رجليه ويريـح الأخرى من شدة الـتعب وطول القيام . وأصله طأها أى طأالأرض بقدميك معا. وقدخاطب الله تعالى به فى قوله : طه، ماأنزلنـاعليك القرآن لتشقى أى لتتعب بمافعلت بعدنزوله من طول قيامك بصلاة الليل. أى خفف عن نفسك قاله العجيلى  فى الفتوحات الإلهـية . (دون سوانا) أى غير أمة محمد صلى الله عليه وسلم  أمايوم السبت فلليـهود والأحد فللنصارى كقول النبى صلى الله عليه وسلم أضل الله عن الجمعة مَن كان قبلنا فكان لليهود يوم السبت وكان للنصادى يوم الأحد فجاءالله بنا فهدانا ليوم الجمعة . رواه مسلم عن أبى هريرة رضى الله عنه  (بمزايا) جمع مزية أى خصائص (سرمـدا) أى دائما حتى تقوم الساعة فى هذااليـوم 
مِنْ ذَلِكَ اْليَـوْمِ اْلأَغَــرُّ اْلأَزْهَـــرُ

أَعْنِـى بِـهِ (اْلجُمْعَـةَ) فَهْـوَ نَيـِّـــــرُ
أَقـَـامَـــهُ عِـــيْدًا لَـــنَا يـَــــــدُوْرُ

فِى كُلِّ أُسْــبُوْعٍِ بِــهِ سُــــــــــرُوْرُ
قال الناظم رحمه الله تعالى (من ذلك اليوم) أى يوم الجمعة وهواليوم (الأغـر)مفرد غرّاء جمع غر وغروان معناه الحسن . وأصل معناه الأبيض فى جبهة الفرس . وهذه الكلمة وضعتُهافى علوان هذاالشرح القصير . قوله (الأزهر)جمع زهرة أى المشرقة الوضّاءة والمراد بهايوم الأشرف من الأيام الأخرى (أعنى به) أى أقصد باليوم المذكور (الجمعة) وهى يوم أوجب الله فيها صلاة الجمعة ركـعتين  مع الجماعة بشرط أن لا يقل عن أربعين  شخصا مع الإمام وسمي بذلك لاجتماع الناس لها أو لأن الله تعالى خلق أدم  فيها أو اجتمع فى الأرض  بحواء فيها ، وكان يسمى فى الجاهلية بالعروبة . (فهو) أى يوم الجمعة  (نير) بتضعيف الياء أى يضيء. وقوله (أقامه) أى الله تعالى يوم الجمعة صلاة الجمعة فمن أقامها فله ثواب كـثواب يوم العيد لأن لهذااليوم (عيدالـنا)أى كيوم العيد للمسلمين لقوله صلى الله عليه وسلم أخرجه الإمام أحمد بن ابن حنبل فى مسنده عن أبى هريرة رضى الله عنه عن النبى صلى الله عليه وسلم قـال : يوم الجمعة يـوم عيدفلاتجـعلوا يومكـم يوم صيامكـم إلا أن تصوموا قبلكـم أوبعده و(يدور) أى يستمر هذاالعيد لمن يستقيم بأداء الصلاة فيه  (فى كل أسبوع به سرور) لمؤديها بالكاملة و(يمتاز) هذااليوم (عن غير من الأيـام) الأخرى بمميزات وخصائص كـثيرة ، منها ذكـرت فى قول رسول الله صلى الله عليه وسلم أخرجه ابن زنجـويه عن السعيد بن المسيب  ، قال رسول الله  صلى الله عليه وسلم للجمعة أحب إلي من حجة تطوع. ومنها قوله صلى الله عليه وسلم مامن الصلوات صلاة أفضل من صلاة الفجر يوم الجمعة فى الجماعة وماأحسب من شهدها منكــم إلا مغفوراله (بماحظى) أى بسبب ماأعطى (من واهب) سبحانه وتعالى (الإنعام) أى المنعمِ .
جَمَعَهَا بَعْضُ اْلأَئِمَّــةِ اْلـهُــــدَى

فَبَلَـغَتْ مِـنَ اْلمِئِـــيْنَ وَاحِــــــــدَا
وَخَـيْرُ سفْرٍ جُمِعَتْ فِـيْهَِاالَّذِى

يُنْمَى إِلىَ اْلحِبْرِالسُّيُوْطِى اْلجَهْبَذِ
يُسْمَى خُصُوْصِيَاتِ  يَـوْمِ اْلجُمْعَـةْ

بُشْرَى لِمَـنْ أَوْعَـبَهُ أَوْسَمِــــــعَهْ
          قال الناظم رحمه الله تعالى (جمعها) الضمير يعود إلى مزايا (بعض الأئمة الهدى) وهو الحافظ الإمام جلال الدين السيوطى المتوفى سنة تسعمائة واحدى عشر هجرية غفر ذنوبه وأسكـنه فى جنته ونحن معه فيهاإن شاءالله تعالى. وقوله (فبلغت) جملة تلك المزايا والخصائص  (من المئـين واحدا)  أى الحـادية  بعـد المـائة  من الأحـاديث الشريفة .وقوله (وخير سفر)بكسر السين وسكون الفاء معناه الكـتاب الذى يحتوى فيه مسائـل وموضوعات كـثيرة . وقد (جمعت فيه) أى فى السفر (الذى) فاعل جمعت أى مزايـا يوم الجمعة (ينمى) بالمجهول أى ينسب (إلى الحـبر) بكسر الحاء وسكون الباء معناه العلاّمة الشيخ الحافظ الإمام جلال الدين عبد الرحمن (السيوطى ) الشافعى مذهبا (الجهبد) أى العارف بتميـيز الجيد والـردئ و(يسمى) بسكون السين للوزن بـــ (خصوصيات الجمعة) فالموضوع الكامل  "نـور اللمعة  فى خصائص يـوم الجمعة ". وقوله  (بشرى  لمن أوعبه) أى أخذه وأجمعه وقرأه (أوسمعه) أى هذاالكـتاب الصغير شكلا وهيئة لكـنه عظيم الفائدة إن شاءالله تعالى
وَقَـدْ تَوَجَّهْـتُ ِإلَى مَـوْلاَ نـَـــــــا

فِى نَظْمِــهَا فَجَـلَّ  مَنْ  أَوْلاَنــَـــــا
لِيَسهُـلَ اْلحِفْـظَ لهَاَ لِلطـَّـــالِـبِ

اْلآمِلِ اْلفَضـْلَ اْلعَظِيْم َالــرَّاغِبِ
مُسَمَّــياًلـَهُ (بِضَـوْءِ الشُّمْـــــعَةِ

بِنَظْمِ مَا يَخُـصُّ يَـوْمَ الْجُمْـــــعَةِ)
قال الناظم رحمه الله تعالى (مسمياله) أى النظم (بضـوء الشّمـعة  بنـظم مايخص يوم الجمعة) بضم الشين بمعنى الساطع وهو كـتاب صغير يشتمل على مائة نظم ألفه شيخنا ومربينا الشيخ الفاضل العالم العلامة أبو محمد إسماعيل عثمان زين اليمانى المكـى الشافعى من كـبار الفقهاء والمحدثين المتأخرين والمفتى الكبير المتوفى سنة ألف وتسعمائة وخمسة عشر هجرية فى ذى الحجة  بعدفراغ  آداء الحج فى بيته برصيفة حوالى إحدى عشَرة من المسجد الحرام غربـا الموفق بسنة ألف وتسعماءة وأربع وتسعين ميلادية .
وَأَرْتَجِى الـتَّوْفِيْقَ لِلإِْخْـــلاَصِ

عَسَى يَكُوْنُ مُوْجَبَ اْلخـَـــلاَصِ
سَـائِـلاَ اِلمْـَوْلىَ بِهـَا يَـنْفَعـَـــــــــناَ

طـُلاَّبَهـَا وَالْمُسْـلِمِـيْنَ أَجْمَــــــعَا
وَهـَا أنَـَا أَشْـرَعُ فِى اْلمَقْصُــــوْدِ

طَـالِـبًـا اِلـْعَــوْنَ مِن َالْمَعْــــــــــبُوْدِ
قال الناظم  رحمه الله  تعالى (وأرتجى)  أى المؤلـف (الـتوفـيـق) والرشد (للإخلاص) أى لصلاح النية وسداد الغرض (عسى) وهو فعل جامد من أخوات كاد وتكون للترجّى فى المحبوب والاشفاق فى المكـروه . وقداجتمعا فى قوله تعالى من سورة البقرة : وعسى أن تكـرهوا شيئا وهو خير لكـم وعسى أن تحبـّوا شيئا وهو شرّ لكـم  . (يكون) هذاالكـتاب (موجب الخلاص) بفتح الجيم أى داعياإلى النجاح  والفلاح (سائـلا) أى راجيا (المولى) سبحانه وتعالى (بها) أى بخصوصيات يوم الجمعة (ينفعنا) ويجزل لنا الثواب والأجر (طلابها والمسلميبن أجمعا) مفرد جمعاء جمع أجمعون من ألفاظ  التوكـيد يؤكـدبه كل مايصح افترا قه  حسّا أو حكـمـا. وقوله (وهاأنـا) الهاء هنا للتنبيه (أشرع) أى أبتدئ (فى المقصود) أى فى تأليف هذاالكـتاب المبارك (طالبـا) حال لصـاحبه وهو أشرع (العـون) للواحد والجمع والمذكر زالمؤنث ويجمع على الأعوان بمعنى المساعدة (من المعبـود) وهو خالق السموات والأرض وما فيهما.
أَوَّلُهَـا قَدْجَــاءَنـَافِى السُّـــــنَّةْ

بِـأَنـَّهُ عِــــــيْدٌ لهِـَــذِى اْلأُمـَّـــــــةْ
يُكـْرَهُ إِفْـرَادُ النَّهَـارِ بِالصِّــــيَامْ

وَأَنْ يَخُصَّ الَّليْـلُ مِنْهَـا بِالْقِــــيَامْ
          قال النـاظم رحمه الله تعالى (أولـها) من خصوصيات الجمعة  (قدجاءنـا) بيانها (فى السـنة) الشريفة وهى أفعال وأقوال واقرار النبى صلى الله عليه وسلم  (بأنه) يوم الجمعة (عيد لهذى الأمـة) أى كيوم العيد لأمة محمد صلى الله عليه وسلم . (ويكره افراد ) أى اختصاص (النهـار) أى يوم الجمعة (بالصيام) إلا أن يصوم يوما قيله أو بعده  للحديث روى عن الأعمش قال ، قال رسول الله صلى الله عليه وسلم  لايصم أحدكم يوم الجمعة إلا أن يصوم قبله أو يصوم بعده. رواه مسلم . فذهب طائفة من أهل العلم  إلى  القول بهذاالحديث منهم أبو هريرة وسلمان وقال به أحمد والشافعى بكـراهيته . وقال مالك وأبو حنيفة  لايكـره  . وفى المـوطأ قال ابن مالك لم أسمع أحدا من أهل العلم والفقه ومن يقتدى به ينهى عن صيام  يوم الجمعة وصيامه حسن وقد رأيت بعض أهل العلم يصومه . هكــذا يقال فى الموطأ .(وأن يخص الليل منها بالقيام) أى ويكره أيضـاالاختصاص بالـقيـام  لـيـلـة  الجمعـة كماروى به أبوهريرة  عن النبى صلى الله عليه  وسلم قال  لاتخصـوا ليلة الجمعة بقيام من بين الليالى ولاتخصوا يوم الجمعة  بصيام من بين الأيام إلا أن يكون فى صوم يصومه أحدكم. رواه مسلم ،ثم قال الناظم رحمه الله تعالى
قـِرَاءةُ (السَّجْدَةِ) ثُمَّ (هَلْ أَتـَى)

فِى صُبـْـحِ يـَوْمـِهِ كِلاَهُمـَا أَتـَــى
وَصُبْـحُ يـَوْمِهـَا لـَهُ فَضْـلٌ عَلـَى

بَقِيَّة ِالصَّـلاَةِ  يـَا أَخـَـا اْلـعُـــــــلَى
صَـلا َتهُــَا خُصَّت ْبِـرَكْـعَتـَـيْنِ

تُسْمَــى بِجُمْـعَةٍ بِـغَـــيْر ِمَــــــــيْنِ
 وتندب أيضا(قـراءة) سورة (السجـدة) أى آلــم تنزيـل (ثم) سورة (هـل أتى ) على الإنسان وهى التـبارك (فى صبح يومها) أى  فى صلاة الفجر يوم الجمعة  لأن (كلا همـا أتى) فى السنة المختارة وهى روى عن أبى هريرة رضى الله عنه قال، كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يقرأ يوم الجمعة فى صلاة الصبح آلـم تنزيل  فى السجدة وهل أتى على الإنسان فى التبـارك . رواه الشيخان .وقوله (وصبح يـومها) أى يوم الجمعة  (لـه فضل) وشرف (على بقية الصلاة ) أى الصلوات الأخرى عند الله عـز وجـل لقوله صلى الله عليه وسلم عن عبيدة بن الجرّاح عن النبى صلى الله عليه وسلم قال  إن  أفضل الصلوات صلاة الصبح يوم الجمعة  فى جمـاعة . وما أحسب  مَن شهدها منها إلا مغفورا له .رواه الطبرانى . (يـاأخا) فى الدين لا فى النسب (العلى) بضم العـين  معناه الــرفعة والشرفة وقال الناظم رحمه الله تعالى ( صلاتها) أى صلاة الجمعة  (خصت بركعتـين) فى وقت الظهر .وقال صاحب منهاج القـويم  : الجمعة ليست بدلا عن الظهر بـل هى فرض أصلى فى وقته إنتهـى .وليست الجمعة ظهرا مقصورا وإن كان وقتها وقته تتدارك به صلاة مستقلة . هذا قول جديد. وأماقـول قديم فهـى ظهر مقصور. هكـذا فى المجموع .ومعلوم أنها ركعتان وهى كـغيرها من الخمس فى الأركان والشروط والآداب (تسمى) هذه الصلاة بسكون السين للـوزن (بجمعة) لاجتماع الناس لها أو لجمع الخير فيها أولجمع خلق أدم فيها أولاجتماعه بسيدة حوّاء فى عرفـة . ووقعت القيامة فى هذااليـوم  بـعـد ظهـور علاماتها كـظهر الفسق  والفجور وكـثرة المعاصى والذنوب على الأرض ورفـع الأمر بالمعروف والنهى عن المنكـر وضعفت الأحكام الشريعة وغيرهـا، وبعض هذه العـلامات قدشهدنـاهافى اليـوم فى بـعض البـلدان ( بغـير مـين ) جمعه  ميون  بمعنى كــذب.
وَكـَوْنهُـَا فِى اْلأَجْـرِ وَالـثـَّـوَابِ

تََـعْــدِلُ حَجَّـــةً  عــَــــنِ اْلأَوَّابِ
وَفِى صَلاَتـِهَـا اْلإِمَامُ قَدْ جَهَرْ

وَلَيْسَ فِى اْلظُّـهْرِ كَذَاكَ بَلْ يُسَـرْ
قال الناظم رحمه الله تعالى  (وكونها فى الأجر والثواب) الفرق بين الأجر والثواب  فإن الأجر يكون قبل العمل والثواب لايكـون إلا بعدالعمل (تعدل) أى تساوى صلاة الجمعة ثواب من صلى الجمعة (حجة) أى ثواب من أقام الحج فى البيت العتيق (عن الأوّاب) بتضعيف الواو بمعنى رجع . والمراد هنا رجع إلى الله تعالى . والدليل أن ثواب صلاة الجمعة يساوى ثواب الحج قول النبى صلى الله عليه وسلم روى عن ابن عباس رضى الله عنهما قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم الجمعة حج المساكـين رواه حميد بن زنجويه فى اتحاف السادة المتـقـين شرح  إحياء علـوم  الـدين (وفى صلا تهـا) أى الجمعــة (الإمام) مبتدأ مؤخر ( قدجـهر ) أى يسن  للإمـام  رفـع صـوته  إجمـاعــا (وليس فى الظهر كذاك) أى لايجوز للإمام أن يـجهر فى الظـهر (بل يسـر) أى يخفف فى قراءة الفاتحة وسورة القرآن الكـريم ، لأنها من صلوات النـهار إلا الجمعةَ.
قِـرَاءَةُ (اْلجُمْــعَةِ وَاْلمُـنَافِــقِـيْنْ)

فِى رَكْعَتَيْهَا سُنَّةٌ خُـذِ اْليـَــقِـيْن
وَشَرْطُـهَا جَمَاعَةٌ لـَقَدْ خُـــتِمْ

وَأَرْبَعُـــْوْنَ يَحْضُــرُوْنَهـَا لـَـــــــزِمْ
وَبِمَكَانٍ وَاحِدٍ قَدْ خُصِّصَتْ

وَإِذْنِ سُلْطـَـانٍ بِهَــا نَدْبـًا ثـَبـَتْ
          قال الناظم رحمه الله تعالى (قراءة) سورة (الجمعة) فى الركعة الأولى ، وفى الـركعة الثـانية سورة (المنافقين) بكمالهمـا أو سبح وهل أتـاك (فى ركعتيـهما) أى ركعتى الجمعة (سنة) لقول النبى صلى الله عليه وسلم عن أبى هريرة رضى الله عنه قال سمعت النبى صلى الله عليه وسلم يقرأ فى الجمعة سورة الجمعة وإذاجاءك المنافقون . رواه مسلم (خذ اليقـين) ودع مايريـبك فى هذاالحكـم (وشرطها) أى إحدى شروط صحة الجمعة واتفق العلماء بأن شروطهاكـشروط الصلوات الأخرى (جماعة) فلا تصح الجمعة بالعدد فرادى والجماعة شرط فى الركعة الأولى فقط بخلاف العدد فإنه يشترط من أول الجمعة إلى أخرها، (لقدختـم) أى فرض لقـول النبى صلى الله عليه وسلم روى أبو داود بسنده عن طارق بن شهاب مرفوعا الجمعة حق واجب على كل مسلم فى جماعة إلا أربعةً عبد مملوك أوإمرأة أوصبى أومريض . (و) يشترط عدد الجماعة فيها (أربعون) رجلا مكلفا حريّـا ولو مع الإمام فى كل من الخطبة والصلاة ولاتنعقد الجمعة بأقل منها هذاهـو المشهور.وكذلك لاتـنـعقد بتكميل العدد المرأة والعبد والمبعض والمسافر والمقيم وخارج البـلـد أى القـرية إذا لم يسمع النداء والصبى والخنثى والمريض والمقيم غير المتوطن وإن كانت الجمعة تجب عليه لكـنها لا تنعقد والمتوطن خارج بـلدها إذاسمع نداءهـا للحديث روى الدارقطنى بسنده عن جابر أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فعليه الجمعة يومَ الجمعة إلا مريضا أو مسافرا أو صبيا أو مملوكا، وفى رواية أخرى إلاامرأة  أومسافرا أوعبدا أومريضا (يحضرونهالـزم) ويصلونها جماعة إذا استوفى الشروط كماذكـر (وبمكان واحد) فى البلد أو القرية التى لاتتعدى بخطة يترخص منها مسافر إلا إذا كـبرت وعسراجتماعهم يقينا وعادة فيجوز حينئذ بعددها بحسب الحاجة كمالم ينكر به الشافعى (قدخصصت)بالمجهول أى صحة الجمعة فيها (وإذن سلطان بها) إى البلد. وقال النووى فى الروضة إن إذن السلطان لايشترط فى صحة الجمعة إهـ. (ندبا) مفعول لأجله متعلق بإذن سلطان (ثبت) هذاالحكم وذكـرفى كـتب الفقه
وَخَصَّهَا أَيْضًـا بِأَنَّ اْلمُصْطَفَى

أَرَادَ تَحْـرِيـْقَ اَّلـذِى تخَـَلَّـفـَـــــــــا
يُصَـابُ مَـنْ تَـرَكَـهَــا تَعَمُّـــــــدَا

بِطَـبْـعِ قَـلْـبِـــهِ  كَمـَـــا قـــَـدْ وَرَدَا
          قال الناظم رحمه الله تعالى (وخصها)أى من خصائص الجمعـة (أيضا) مفعول مطلـق لفعل محذوف والتقدير آض أيضا(بأن المصطفى ) هو محمد صلى الله عليه وسلم المختار (أراد تحـريق) بيوت المرء (الذى تخلفا) أى الذى ترك صلاة الجمعة  فى الأسبوع  إنكارا عن فرضهـا وتهاونا بها، كماروى عن ابن مسعود رضى الله عنه أن النبى صلى الله عليه وسلم قال لقوم يتخلفون عن الجمعة لقد هممت أن آمُر رجلا يصلى  بالناس ثم أحرقَ على قـوم يـتخلفون عن الجمعة بـيـوتهم . رواه الحـاكـم . (يصاب من تركـهـا) ثلاث مرات (تعمـدا) علما بتحريمه أى بلا عذر (بطبع قلبه) كالمنافقين (كما وردا) الحديث روى عن جابر بن عبد الله أن رسول الله صلى الله عليه وسلم من ترك الجمعة ثلاثا من غير ضرورة طبع الله تعالى على قلبه. رواه الحاكـم وابن ماجه. وروى عن أبى الجعد الضميرى قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم من ترك الجمعة ثلاث مرات تهاونابها طبع على قلبه  رواه ابن ماجه قال العِراقى المراد بالتهاون الترك بلا عذر وبالطبع يصير قلبه قلب المنافقيـن
وَانْدُب ْلـِتـَارِكٍ لـَهَـا كَـفـَّّـــــــارَةْ

كَـمـَاأَتـَى فِى السُّــنَّة ِالْمُخـْتـَارَةْ
كَذَاكَ خُطْبَةٌ بِهَـا قَدْ خُصَّتْ

وَعِـنْدَإِتـْيـَانٍ بِـهـَا فـَأَ نْصَـــــــتْ
          قال الناظم رحمه الله تعالى   (واندب لتارك لها) أى يسن لتارك صلاة الجمعة عمدا أو غير عمد (كـفارة) أى أن يدفع بدينار فإن لم يجـد فنصف دينار (كما أتى فى السنة المختارة) روى عن ابن جبير عن النبى صلى الله عليه وسلم قال من ترك الجمعة من غير عذر فليتصدق بدينار فإن لم يجد فنصف دينار. رواه أحمد والحاكـم وابن ماجه وفى الحديث الآخر روى عن قدامة  بن وبرة قال  قال رسول الله صلى الله عليه وسلم  من فاتـته الجمعة من غير عذر فليتصدق بدرهم أو نصف درهم أوصاع حنطة أو نصف صاع  (كذلك) متعلق بقوله وشرطها أى ومن شروط الجمعة (خطبة بها) أى خطبتان فى الجمعة لخبر ى الصحيحين  أنه صلى الله عليه وسلم  كان يخطب يوم الجمعة خطبتين يجلس بينهما ، وكونهما قبل الصلاة للإتـباع . وقال صلوا كما رأيتمونى أصلى . بخلاف العيدين  فإن خطبتين مؤخرتان للإتباع ولأن خطبة الجمعة شرط  والشرط مقدم على المشروط  وللتميـيز بــين  الـفرض والـنـفل ، قال ابن رسلان  :
شروطها تـقديم خطبـتين  #  يجب أن يـقـعد بـين تـين
(قد خصت) تلك الخطبة فى يوم الجمعة (وعند إتيان) الخطيب (بهـا) أى الخطبة. وأركان الخطبة خمسة حمدالله تـعالى والصلاة على رسوله والـوصـية بالـتقـوى وتجب هـذه الثلاثة فى الخطبتين وأما قـراءة سورة من سور القرآن ففى إحداهما والدعاء للمسلمين والمسلمات فى الثانية وأما شروطهما فهى القيام لمن قـدر وكونها بالعربية لاتباع السلف والخلف ويجوز على كل منهما باللغة الأجنبية ولو لم يفهم المستمعون أو اللغة المستمعين. قال شيخنا العلامة إسماعيل زين صاحب المنظومة إن العـربـية لاتشترط فى الخطبة إلا الأركان فقط، قالـه فى فتـاواه. وبعد الزوال والجلوس بينهما بالطمأنينة على قدأقل طمأنينة الصلاة والمرادبالطمأنينة هنا أن لايعبث بحركـة وقراءة سورة الإخلاص فى تلك الجلسة سنة. وسنة الخطبة الإنصات كماأمره صلى الله عليه وسلم فى قـول الناظم (فأنصت) فى حديثه روى عن إبى هريرة رضى الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا قلتَ لصاحبك أنصت يـوم الجمعة والإمام يخطب فقد لغـو ت أى تركتَ الأدب وندب الإنصات. والدليل يدل على عدم الوجوب فى الإنصات والسكوت أن رجلا دخل إلى المسجد والنبى صلى الله عليه وسلم يخطب يوم الجمعة فقال متى الساعة؟ فأومأ الناس إليه بالسكوت فلم يقبل وأعاد الكلام فقال له النبى صلى الله عليه وسلم فى الثالثة ، ماأعـددتَ لهـا ؟ قال حب الله ورسوله ، قال إنك من أحببت.أخرجه البخارى فى صحيحه فى كتاب الأدب ولم يـبين النبى له وجوب السكوت والإنصات وقد نـص عليه الشافعى فى القديم أنه يحرم وبه قال مالك وأبو حنيفة وأحمد. والجديد أن الكلام ليس بحرام والإنصات سنة. وسنتها أيضا الخـفّ فى تحية الصلاة لداخل المسجدحال الخطبة وقال ابن رسلا :  وسنة الخطبة بالإنصات #  والخف فى تحيـة الصلاة. والخـف فى التحـية سنة لمن فعلـها والإمام فى المنبر.(وتحرم الصلاة) أى النـافلة وإن كان فى الصلاة خففها بالاجماع قاله النووى فى شرح المهذب واتفق به البغـوى (عند مارقى إمامها) أى الخطيب (لمنبر) أى على المنبر بكسر الميم مأخوذ من النـبر وهو الارتفاع وأن يكون المنبر على يمين مصلَّى الإمام لأن منبره صلى الله عليه وسلم هكـذا وضع وكان يخطب كما عرفـته فى المدينة المنورة حتى اليـوم وفى يساره جِذع نخلة يعتمد عليه فى المنبر.ولايكره عند الشافعى ومالك وأحمد والأوزاعى وأصحاب الرأى وغيرهم لخبر مسلم جاءسليك العطفانى يـوم الجمعة والنبى صلى الله عليه وسلم يخطب فجلس فقال ، يـاسليك قم فاركـع ركعتين وتجوَز فيهما ثم قال:إذاجاءأحدكم يوم الجمعة والإمام بخطب فليركـع ركعـتين وليتجوّزْ فيهمـا أى يُسرِع. وفى الحديث الآخرروى عن جابر بن عبدالله رضى الله عنهماقال جاء رجل والنبى صلى الله عليه وسلم يخطب يوم الجمعة فقال أصليت يا فلان ؟ قال : لا، قال قم فاركـع. ظاهر هذاالحديث يدل على سنة تحيـة المسجد والإمام يخطب. واعلم (يامتـقى) إن قراءة خطبة الجمعة واجبة ويسن أن يقِّرأ الخطبة تقصيرا معتدلا بحيث لايَمَلّوا وتنفرُنفوسهم فقدروى الإمام مسلم عن عمّار مرفوعا إن طِوال صلاة الرَّجل وقِصَرَ خطبته مَئِـنَّـةٌ من فِقهه، فأطيلواالصلاةَ وأقصِروا الخطبةَ . ومعنى قوله "مَئِـنَّةٌ فى فقهه" أى علامـة على فهمه. وقال صاحب المنظومة يكره الإيماء بيده والْتِفات وجوهه إلى أحد جانبـيه حال الخطبة  لأنه صلى الله عليه وسلم  إذا اسـتوى على المنبر استقبل وجوهه إلى الجماعة ورَفـع صوته بالخطبة ويلقيها بعبارات واضحة قوية مؤثـّرة وبأسلوب جزْلـة.
كـَذَلِكَ النَّـهْىُ عَنِ احْتِبـَائِـنـَــا

فِى وَقْتِ خُطْبـَةٍ  لَـهَا قَدْجَاءَنــَـا
وَقْتُ اسْتِوَاءِشَمْسِ يَـوْمِ اْلجُمْعَةْ

لاَتـُكْــرَهُ الصَّـلاَةُ  يـَا مَنْ سَمِــعَهْ
          قال الناظم رحمه الله تعالى (كذلك النهى عن احتبائنا) الاحتباءجمع بيـن ظهـره وساقيه بـعمامة ونحوها (فى وقت خطبة لها) أى وقت ابتداء الخطبة لأنه تجلب النوم فيمنع من استماع الخطبة بل يبطل الـوضوء (قدجاءنـا) دليل ذلك النهـى فى قوله صلى الله عليه وسلم روى عن معاذبن أنس أن رسول الله صلى الله عليه وسلم نهى عن الحبوة يـوم الجمعة والإمام يخطب. قال التـرمـذى يـفيـد النهـى هنـا المكـروه لخــبر مسلم المذكور.(وقت استواءشمس يوم الجمعة) أى قبل الزوال (لاتـكره الصلاة)أى صلاة الجمعة جائزة فى هذاالوقت (يامن سمعه) أى الدليل الدال على عدم كراهة الصلاة فى الإستواء وهو عبارة المجموع فى باب هيئة الجمعة ، ومعلوم أنه صلى الله عليه وسلم كان يخرج إلى الجمعة متصلا بالزوال. وقال ابن قدامـة فى المغنى يجوز فعل صلاة الجمعة قيل الـزوال للإجمــاع. فـروى الإمام أحمد عـن وكــيع عـن جعفر بن يرقان عن ثابت الحجاج عن عبد الله بن سيدان قال شهدت الخطبة مع أبى بكر فكانت صلاته وخطبته إلى أن أقول قدينتصف النهار ثم صليتها مع عثمان بن عفان فكانت صلاته وخطبته إلى أن أقول قد زال النهار فمارأيت أحدا عاب ذلك ولا أنكـره. وأما فعلـهـا بـعد الــزوال فهـو أفضـل وأحوط لأنه الوقت الذى دخل به الظهر ولو كانت الجمعة ليست بـديـلـةً له.
كـَـذَلِكَ الـنَّـارُ بِـهِ لاَتُسْجـَــــــرُ

ِلأَ نـَّهُ يَـوْمٌ كَــــرِيْـمٌ نـَــــــــــــــــــــــيِّرُ
وَنُـدِبَ اْلغُسْـلُ لمَِنْ بِـهَـا حَضَرْ

كَمـَا أَتَى فِى قَـوْلِ سَـيِّدِ اْلبَشَــرْ
وَإِنْ يُجَــامـِعْ فـَلـَـهُ أَجْـــــــــرَانِ

كَمـَارَوَى فِى سُــنَّةِ اْلـعَـدْنـَانـِـى
          قال الناظم رحمه الله تعالى (كذلك الناربـه) أى من خصائص يوم الجمعة (لاتسجر) بصيغة المجهول من باب نصر أى لا توقد الجهنم (لأنه) أى يوم الجمعة (يـوم كـريـم) أى كــثير البركـة وفيه ساعة الإجابة فأكـثرواالصلاة على الرسول صلى الله عليه وسلم لأنه يـوم مستحب والنبى صلى الله عليه يختص به بالعبادات ، وهو يـوم (نـير) بتضعيف الياء أى يضيء كماروى عن أبى قتادة عن النبى صلى الله عليه وسلم إن جهنم تسجر إلا يوم الجمعة. قال أبـو داود هذاالحديث مرسل . وقوله (وندب الغسل) فى هذااليوم المبارك (لمن بهاحضر) أى لمن أراد الحضور إلى المسجد لأداء صلاة الجمعة فيه، وإن لم يجب عليه بل يكره تركه لخبر أبى داود من توضّأ يوم الجمعة فبها ونعمت ومن اغتسل فالغسل أفضل رواه أبوداود ووقته من الفجر وتقريبه من ذهابه وهو أفضل (كمـا أتى) الدليل (فى قول سيد البشر) وهو الحديث روى عن ابن عمر قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم من جاء منكم الجمعة فليغتسل رواه الشيخان. فالغسل يوم الجمعة مندوب للتنظيف ورعـايـة للحـاضرين من الـتـأذّى بالرائحة الكــريـهة فمن خشى أن يصيبه فى أثناء النهار مايزيل تنظيفه أُستحب له لأن يؤخر الغسل لوقت ذهابه والحكمة فى الغسل أن لايجد الجـليس من جلـيسه مايكــره فيتأذّى (و)ندب أيضا (إن يجامـع) الزوج زوجته هذااليوم (فله أجران) أجرغسله وأجر غسلها (كماروى فى سنة) الرسول صلى الله عليه وسلم عن أبى هريرة رضى الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم أيعجز أحدكم أن يجامع أهله فى كل جمعة فـإنه له أجران اثـنـين أجر غسلـه وأجر غسل امرأته رواه البيهقى . وقوله (الـعدنانى) أى المنسوب إلى معـد بـن عدنـان، وهذا النسب أشرف الأنساب عن ابن عباس رضى الله عنه أن النبى صلى الله عليه قال إن الله خلق الخلق فجعلنى من خيرهم ثم تخير القبائل فجعلنى من خير قبيلة ثم تخير البيوت فجعلنى من خير بيوتهم فأنا خيرهم نفسا وخيرهم بيتا. واعلم أن القبائل فى العرب كـثيرة منها قبيلة مضر وهـذيل وحمير وخثعم وقيس غيلان وجرهم وحضرموت كنانة وعُمّان وقريش وغيرها وكان أجـود وأشهـر القبيلة من جميـع نواحيهاهى قبيلة قريش لأن موقعها فى المكـة المكـرمة وهى تـقع فى منتصف الجزيرة العربية بين الشمال والجنوب ولذلك كان لهم موسم التجارة وموسم الشتاء، وهذه الحالة الجغـرافية ساعدت قريشاعلى بـلـوغ المنـزلة. وكذلك من نـاحية اللغـة أصبحت لغتهـم أجود اللـغـات بـين القـبائـل فى العـرب حتى يـستعملـهـا الله تـعــالى كــثـيـرا فى الـقـرآن الكـريم. وقال رسول الله صلى الله عليه وسلم أنـاأفصح من نـطق بالضاد بـيـد أنى من قريش.
إِزَالَتُ الظُّفْرِ وَشَعْرٍ وَادَّهِــــنْ

وَالطِّيْبِ وَالسِّوَاكِ كُلَّ ذَازُكـِـــنْ
وَلُـبْسُ أَحْسَنِ الثِّياَبِ قَدْوَرَدْ

عَنِ الـنَّـبِىِّ فِيْـهِ نـَصٌّ يـُعْتَمَــــــــدْ
وَجُمِّــرَ اْلمَسْجِدُ بِالْبُخُــــــــوْرِ

كَــذَلِكَ اْلإِ تـْيـَانُ فِى اْلبـُـكـُــــوْرِ
قال الناظم رحمه الله تعالى (إزالت الظفر) من يديه ورجليه مندوبة لاإحداهما فيكـره بلاعـذر ويستحب قـَلْـم الأظفـار فى كل عشـرة أيــام مندوبة (وشعـر) أى يـنتـف الشخص شعرإبـطه ويـقُـصُّ شاربه ويحـلق عانته أماالمرأة قتنتف عانتها ويستحب أيضا حلق العانة كل أربعين يوما (وادّهن) أى أطلى بالدهن فى رأسه يوم الجمعة (والطيب) ومشروعية الطيب حتى يجد الجليس من جليسه مايـنتفـع به من طيب الرائحة لقوله صلى الله عليه وسلم عن عبدالرحمن بن أبى سعيد عن أبـيـه  عن رسول الله صلى الله عليه وسلم  قال : إن الغسل يـوم الجمعة على كل محتلم والسواك أن يمس من الطيب مايقدر عليه رواه النسائى. وكذلك (السواك) أشد استحبابـا هذه الأمـور لاتختص بـالجمعة بل تستحب لكل من يؤدى الصلوات المفروضة أوالمسنونة  جماعة أو فذّة لكـنهافى الجمعة أشداستحبابا لقوله صلى الله عليه وسلم روى عن ابن أبى شيبة قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ثلاث حق على كل مسلم الغسل يـوم الجمعة والسواك ويمس من طيب إن كان رواه مسلم وأحمد(كل ذازكــن) أى صاحبِ الفهم والعلم (و) يندب أيضا (لبس أحسن الثياب)جمع ثوب والأفضل الثوب الأبيض لقوله صلى الله عليه وسلم ألبسوا من ثيابكم البياض فإنها من خير ثيابكم وكفنوا فيها موتاكم.ولابأس باللون الآخر، فالدليل على استحبابه (قدورد عن النبى) صلى الله عليه وسلم (فيه) أى فى قول النبى صلى الله عليه وسلم (نـص يعتمد) بالمجهول كماروى عن سعيد وأبى هريرة أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال من اغتسل يـوم الجمعة واسـتنَّ أى تـنظف الســنَّ ومس من طيب إن كان عنده ولبس من أحسن ثيـابه ثم خرج حتى يأتى المسجد فلم يتحطّ رقاب الناس ثم ركـع ماشاءاللهُ أن يركـع وأنصت إذا خرج الإمام كانت كفارة مابينـها وبين الجمعة التى كانت قبلهـا. وقال أبو هريرة وزيادة ثلاث أيام لأن الله تعالى يقول : من جاء بالحسنة فله عشر أمثالها. رواه أحمـد. (وجمـر)بالمجهـول بمعنى عطّر (المسجد بالبخور) سنة  والبخورهومـادّة صمغـية إذاأحرقت فاحَتْ منهـا رائحــة طيبة. ودليل سنته روى عن الزبير بن بـكـاَّرفى أخبار المدينة من مرسل حسن بن على بن حسين بن حسن أن رسول الله صلى الله عليه وسلم أمر باجمارٍ المسجد يوم الجمعة (كذلك) يسن (الإتيان) إلى المسجد لأداء صلاة الجمعـة ليأخذوا مجالسهم وينتظرواالصلاة (فى البكور) للحديث عن أبى هريرة رضى الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال إذاكان يـوم الجمعة غسل الجنابة ثم راح فى الساعة الأولى فكأنما قـرّب بُـدنةً. ومن راح فى الساعة الثـانية فكأنما قرب بقرة ومن راح فى الساعة الـثـالثـة فكأنما قرب كبشا أقـرن ومن راح فى الساعة الخامسة فكأنما قرّب دجاجة  ومن راح فى الساعة السادسة فكأنما قـرّب بيضة فإذا خرج الإمام حضرت الملائـكـة يستمعـون الذكر رواه البخارى . أماالإمام فلا يندب له التبكـير بل يستحب له التأخـيرإلى وقت الخطبة إقـتداءًبـه صلى الله عليه وسلم وخـلـفـائـه.
وَلـَيْسَ فِيْهَـا يـُنْـدَبُ اْلإِبـْــــرَادُ

ِلأَنَّ تـَبْـكِـــيْرًا لَـهـَا يـُـــــــــــــــــرَادُ
وَأَخِّــرِ الْـغَـدَاءَ وَالْـقـَـيْلوُلْــَـــــةْ

فَــإِن َّذَاكَ خَصْـــلـَةٌ جَمِـــــــيْلـَـةْ
          قال النـاظم رحمه الله تعالى (وليس) أى لايـوجد الدليل الصريـح (فيهـا)أى فى الجمعة (يندب الإبراد) أى تأخير الصلاة حتى برد (لأن تبكـيرا لها يراد) أى لأن الذهاب إلى البكـور هو المطلوب من نص الحديث عن البخارى كان النبى صلى الله عليه وسلم إذا اشتدّ الـبرد بكّـر بالصلاة يـعنى الجمعةَ. وقال أيضا إذااشتد الحــر فأبردوا عن الصلاة فإن شدة الحر من فيـح جهـنم رواه النسائى عن أبى هريرة. (وأخّـر) أنت ( الغـداء والقيـلـولـة)قال الأزهـر القيلولة والمَقيل عند العرب الاستراحة نصف النهـار بدليل قوله تعـالى وأحسن مَقـيلا. وذكر شيخنا إسماعيل عثمان زين اليمانى أوقات القيلولة هى بعد الصبح وبعد الضحى والزوال وبعد الظهر والعصـر إتنـهـى (فإن ذلك خصلة)بفتح الخاء أى سلوك (جميلة) أى كـريمة.ودليل سنة التـأخير قول النبى صلى الله عليه وسلم عن سهـل بن سعد قال ماكـنـّا نقـيل ولا نتعدى إلا بـعد الجمعة رواه الشيخان.
لِـذَاهِبٍ لَـهَـا بِكُلِّ خُطْـــــــــوَةْ

ثـَوَابُ عـَام ٍقَـدْ أَتَى فِـى السُّـــنَّةْ
وَمَـــرَّتـَـيْـنِ أَذِّنــُـوْا لـَهــَـــــــا وَلاَ

يـَكـُـوْنُ ذَا لِغـَـيْرِهَا كُـنْ مُقْـــــبِلاَ
          قال النـاظم رحمه الله تعالى (لـذاهب لها) أى يستحق لمن ذهب إلى المسجد لأداء صلاة الجمعة وهو يمشى ولايركب فى طريقها . وهذا مندوب لأن النبى صلى الله عليه وسلم لم يركب فى عيد ولاجنازة. وقال ابن قدامة فى المغنى والجمعة معناهما وإنمالم يذكرها لأنه صلى الله عليه وسلم كان بابُ حُجرته شارعا فى المسجد يخرج منه إليه فلا يُحتمل الركـوب لأن الثواب (بكل خطـوة) جمع خطى أى فتح مابين قدَميـه ومشى كمـا فى المختار (ثـواب عام) أى كثواب من عمل عملا صالحا فى سنة واحدة (قد أتى فى السنة) عن أوس بن أوس الثقفى قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول من غسل يوم الجمعة واغتسل ثم بكـر ومشى ولم يركب ودنا من الإمام واستمع ولم يلغ كان له بكل خطوة عمل سنة أجر صيامها وقيامها رواه أحمد والأربعة والحاكم (ومرتـين أذنـوا لها)أى للجمعة فالأول للاعلام أنها قد حضرت والـثـانى إذاجلس الخطيب على المنبر (ولايكـون) أذانان (ذالغيرها) أى لغير صلاة الجمعة إلاصلاة الصبـح فالأذان الأول قبـل دخـول الوقت للاعلام انه يستحضر  والثانى عند دخول الوقت (كـن مقـبلا) ولاتكـن معرضا. واعلم أن الأذان فى عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم وأبى بكـر وعمر أذانـان يوم الجمعة.فلماكانت خلافة عثمان كــثر الناس فى المدينة بالأذان الـثـالث.والمــراد بالأذان الـثـالث هناالإقامة كـمـا فى
رواية لأنه اعلام كالأذان والفـرق بينهما أن الأذان هوالاعـلام لـدخول الـوقت وجـلوس الخطيب على المنبر والإقامة هى الاعـلام لـدخول الصـلاة .
وَقَبْـلَ أَنْ يَجِـيْئـَناَ اْلخَـطِيـْــــبُ

فَـشُغْـلـُنَـا بِطـَاعَـةٍ مَنـْـــــــدُوْبُ
وَسُوْرَةُ اْلكـَهْفِ اقْـرَأَنَّ يـَوْمَهـَا

كـَذَاكَ ليَـْلهَـَا فَيــَا أَخـَا الـنُّهـَــــى
          قال الناظم رحمه الله تعالى (وقبل أن يجيئنا) أى أن يصعد (الخطيب) على المنبر (فشغلنا بطاعة منـدوبـة) أى بعبادة كـقراءة القرآن والذكر وغيرهما. ويحرم التشاغل بالبيع وسائر العـقود والصتائع وغيرها لمن تلزَمه الجمعة ولمن يـقعد مـع الخطيب فى المسجد لقوله تـعالى : إذا نـودى للصلاة من يـوم الجمعة فاسعوا إلى ذكر الله وذرواالبيع.وأما التشاغل قبل الأذان فمكـروه لدخول وقت الـوجوب للحديث لماروى عن أبى الدرداء قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم أكـثروا الصلاة عليّ يـوم الجمعة فإنه مشهود تشهده الملائكـة.رواه ابن حِبان وقوله (وسورة الكهف اقـرأنّ) بالثقيلة للتوكيد(يـومها) أى يوم الجمعة (وكـذاك ليلها) لقول رسول الله صلى الله عليه وسلم روى عن سعيد الخدرى قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم من قرأ سورة الكـهف يوم الجمعة أضاءله من النور فيما بينه وبين البيت العتيق.رواه الحاكـم والبيهقى وفى الحديث الأخر قال رسول الله صلى الله عليه وسلم من قـرأ الكـهف فى يـوم الجمعة أضاءله من النور مابين الجمعتين. رواه الحاكـم والحكـمة من قراءتها كماذكرها فى مغنى المحتاج أن الساعة تقوم يـوم الجمعة كماثبت فى صحيح مسلم والجمعة مشبهة بها لما فيها من اجتماع الخلق. وفى الكـهف ذكر أهوال القيامة إنتهى. هذه هى إحدى البواعث والأغراض فى أمر شيخنا العالم العلامة إسماعيل زين طلابه كمثـلى للعناية بقراءة هذه السورة والمنجيات كل ليلة الجمعة وهى سورة يس والدخان والواقعة والملك والإنسان والسجدة والبروج فمن واظب على قراءتهافى هذااليوم وليلتها سلم من حرالنار (ياأخاالنهى) بضـم الـنـون جمـع نـهيـة كــغرف جمع غـرفـة ومعنـاه العـقل وسـمى بـه لأن العقل يـنـهـى صاحبه عن ارتكاب القبائـح والمكـروهات وأصل معنى النـَّهى المنـع.
وَفِى صَـلاَةِ  مَغْــرِبٍ لِلَيْـلِـهـَــــا

سُوْرَتَىِ اْلإِخْلاَصِ خُصِّصَنْ لَهَـا
كـَذَلِكَ  اْلمُعَوِّذَاتُ بَـعْـدَهَــــــا

مـَعَ اْلمَـثـَانِى سَبـْعَا اِقْــرَأَنـْهــَـــــــا
وَاقْـرَأْ عِشـَاءَ لـَيْلِـهَـا لِـتَسْـتبَـِنْ

بِجُمْعَـةٍ وَسُـوْرَة ِالْمـُنـَافِـقِــــــيْن
          قال الناظم رحمه الله تعالى (و) تسن (فى صلاة مغرب لليلهـا) أى الجمعة بعد الفاتحة فى الركعة الثانية قراءة (سورتى الإخلاص)والكافـرين فى الـركـعة الأولى(خصصن) بالتخفيف (لها) أى لـهاتين السورتين فى صلاة المغرب، وتسن أيضا قراءة سورة الإخلاص سبع مرات بعد صلاة الجمعة وكذلك يقرأ سورة (المعوذات) أى المعوذتـين هما الفلق والناس سبعا سبعاوقيل عشرا عشرا (بعدها) أى صلاة الجمعة (مع المـثـانى) أى سورة الـفـاتحة(سبعـا)وقيل عشرا (اقــرأنهـا) بـالـتـخفيـف (واقـرأ) سورة المنـافـقـين فى الركعة الأولى (عشاء ليلها) أى الجمعة (لتسـتبن) أى لتكون القراءة موافقة بمافعله صلى الله عليه وسلم (بجمعة)متعلقةٌ بـإقرأ أى اقرأسورة الجمعة فى الركعة الثانية (وسورة المنافقين) فى الأولى كما فى الحديث روى عن جابرين سمرة قال كان رسول النبى صلى الله عليه وسلم يقرأفى صلاة المغرب ليلة الجمعة قل ياأيها الكافرون وقل هوالله أحد وكان يقرأ فى صلاة العشاء سورة الجمعة وسورة المنافقين  رواه البيهقى. وقال النبى صلى الله عليه وسلم من قرأ قل هوالله أحد والمعوذتين بعد صلاة الجمعة حين يسلم الإمام قبل أن يتكلم سبعا سبعا كان مضمونا هو وماله وولده من الجمعة إلى الجمعة، أخرجه حميدابن زنجـويه.
كَـذَلِكَ الـنَّهْـىُ عَـنِ الـتـَّخَلـُّــقِ

قَبْـلَ الصَّلاَةِ قَـدْ أَتـَى فَحَـقِّـــــقِ
وَسَفـَرٌ فِى يَـوْمِهَـا فَـلْيُـحْــــــَرمُ

قَبـْل َالصَّلاَةِ  يـَاأَخِى فَلـْيُعْــــــلَمُ
          قال الناظم رحمه الله تعالى (كــذلك الـنـهى) أى المنـع (عن التحـلق) يفيـدالمنع هناالكـراهةَ وهو قـص الشعر فى الرأس (قـبــل الصلاة) أى الجمعة كمـا(قدأتى) الدليل وهو الحديث عن طريق عمرو بن شعيب عن أبيه عن جده أن النبى صلى الله عليه وسلم نهى عن الحـلق قبل الصلاة يـوم الجمعة رواه أبـو داود (فحقق) أى فافهـم هذاالحكم فهما جيدا (وسفر فى يومها) أى الجمعة (فليحرم) بالمجهول عند الشافعى الجـديد (قبل الصلاة) لحديث ابن عمر رضى الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال من سـافر مـن دار الإقامة يوم الجمعة دعت عليه الملائكـة لايصحب فى سفره ولايعان على حاجته. رواه الدارقطنى فى الإفراد. وأما الحسن وابن سيرين وأبوحنيفة فـجـوّزوه لقول عمر رضى الله عنه الجمعة لاتَحبِس عن سفر. وقال الشافعى القديم يجـوز إن كان السفر طاعة أى واجبا ومندوباكالسفر للحج إنتهى قول صاحب قليوبى وعميرة بتصرف والغزالى أبـاحـه (يأخى فليعلم) ذلك الحكـم من نـص كلامـه رحمه الله تعالى فى الإحياءبأن يجعل يوم الجمعة للآخـرة فـيُكــف فيه عن حميع أشغـال الدنيـا ويُكــثر فيه من الأوراد ولا يـَبتدئ فـيه السفر قبـل الصلاة أوبـعددخول وقتهـا إلا لحـاجـة مـآسّة فيـبـاح
.
فِى يـَوْمِهـَـا تـُكـَـفََّــر ُاْلآ ثــَــــــامُ

فَلـْيَهْــنِكـُم  ْذَا اْلفَضـْـلِ يـَاأنَـــَــامُ
ثـُمَّ اْلأَمـَـانُ مِنْ عَـذَابِ اْلقـَــبْرِ

لِمَـنْ يَمُـــوْتُ يـَوْمـَهـَــا فلَـْتـَــــــدْرِ
كــَذاَ سُـؤَالُ اْلمَـلـَكـَينْ ِفِـيـْـــــهِ

لِمـَـنْ  يَمُــوْتُ  فِــيْهِ لاَ يـَأتْـِيــْـــــــهِ
رَفْع ُالْعـَذَابِ عَنْ أُهَيْلِ اْلـبَـرْزَحِ

فِـيْـهِ  لَـقْدْأتَىَ فَحَقِّـقْ وَافْـتـَــــخِ
كَـذَلِكَ اْلأَرْوَاحُ  فِـيْهِ تجَـْتَمـِــعْ

وَسَـيِّدُ اْلأَيـَّامِ أَيـْضًا فَـاسْتمَـِـــعْ
          قال الناظم رحمه الله تعالى (فى يومها) أى الجمعة (تكـفـر) بالمجهول وتضعيف الفاء من كـفّر أى تمسح (الآثـام) جمع إثم أى الذنوب للحديـث عن سلمان قال قال لى رسول الله صلى الله عليه وسلم أتدرى مايـوم الجمعة ؟ قال الله ورسوله أعلم قال هـو اليـوم الذى جمع الله فيه بـين أبـويكم لايـتـوضأ عبد فيحسن الـوضـوء ثـم  يـأتى المسجد لصلاة الجمعة إلاكانت كـفارة لما بينها وبين الجمعة الأخرى  رواه الحاكم قوله (فليهنكم) أى فليفرحُكم (ذاالفضل) أى صاحب الاحسان (ياأنام) أى يـاإنسان  (ثـم) حرف عطف للترتيب مع التراخى (الأمان) أى النجاة (من عـذاب القبر) والعذاب نوعان عذاب القبر وهو يقع قبل البعثة وعذاب الآخرة وهو يقع بعدها (لمن يموت يومها) أى الجمعة وليلتها (فلتـدر) أن هذه الخصائص من فضائل الله عز وجل ومحاسنه إلى من مات مؤمنا يوم الجمعة وليلتها كماروى عن عكـرمة بن خالد المخزومى قال من مات يوم الجمعة أو ليلة الجمعة خـتم له بخـاتَم الإيمان ووُقى من عذاب القبر (كـذا) الأمان من (سؤال الملكـين)هما المنكـر والنكـير (فيه)أى القبر (لمن يمون فيه) أى يـوم الجمعة (لايـأتيه) ذلك السؤال منهما إليه (ورفع العذاب) أى لايعذب من مات يوم الجمعة وليلتها تشريفا لنداء الـوقت (عن أهيل) من أهلٍ للتصغير (لبـرزح) وهو المكان بـين الدنيا والآخرة ، فمن مات فقددخل البرزخ (فيـه) أى يـوم الجمعة (لقد أتى) النص الصريـح الذى يدل على رفع العذاب لمن مات فى هذا اليوم وهو قوله صلى الله عليه وسلم من مات يوم الجمعة أوليلة الجمعة كتب الله تعالى لـه أجرشهيد ووقّى فـتنـة القـبر  رواه أبو نعيم فى الحِـلـيـة (فحـقـق) وافهم ذلك النص (وافتـخِ) بالخـاء أصله وافتخِرِ، وحذف الراء للـوزن أوللتـرحيم من فخر بمعنى غلب المدح على نفسه لفضله تعالى (كـذلك الأرواح فيه) أى يـوم الجمعة (تجتمع) فى رياض الجنة كما أخرجه ابن أبى الدنيـا والبيهقى فى الشعب عـن رجـل من آل عاصـم الجحدرى أنه رأى عاصما الجحدرى فى النوم  فقال له أنا فى روضة من رياض الجنة ، أنا ونفـرين أصحابى نجتمع كل ليلة جمعة وصبيحتها إلى أبى بكـر ابـن عبد الله المُزنى فنـتلافَى أخباركـم قلت هل تـعلمون بـزيارتـنـا قال نـعم بهـا عشية الجمعة ويـوم الجمعة كلَّـه ويـوم السبت إلى طلـوع الشمس قلت وكـيف ذلك دون الأيـام كلهـا قـال لفضل يـوم الجمعة وعظمـه.وقوله (وسيد الأيـام) تجتمع (أيضا)، سـمى بسيّدالأيام لكـثرة الفضيلة والممـيزة فيه كما فى قول النبى صلى الله عليه وسلم  خير يوم طلعت عليه الشمس يوم الجمعة فيه خلق آدم عليه السلام وفيه أدخل الجنة وفيه أهبط إلى الأرض وفيه تيب عليه وفيه مات وفيه تقوم الساعة وهو عند الله يوم المـزيد (فاستمع) وافهم ياأولى النهى حديث رسول الله صلى الله عليه وسلم رواه أبو لبابة بن عبد الله المنذر قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم إن يوم الجمعة سيد الأيـام وأعظمها عندالله وهو أعظم عند الله من يـوم الأضحى ويـوم الفطر فيه خمس خِلاَل أى خِصال خلق الله عز وجل فيه آدم وفيه ساعة لايسأل الله العبد فيها شيئا إلا أعطاه مالايـسأل حـراما وفيه تقوم الساعة وما مِن ملَك مقرَّب ولا سماء ولا أرض ولارياح ولاجبال ولابحـر إلا وهـنّ يَشفقْنَ من يوم الجمعة رواه ابن ماجه والبيهقى.
وَفِى كِـتـَابنِـَا اْلعَـزِيزِ قـَـــدْ أتَى

ذِكْـرُاسْمِــهِ  دُوْنَ سِوَاهُ يـَافَــتَى
وَإِسْمُــهُ يـَـوْمُ اْلمَــزِيْدِ قَــدْ وَرَدْ

وَالشَّاهِدُاْلمَشْهُـوْدُ أَيـْضًا يَعْتَقِدْ
          قال الناظم رحمه الله تعالى (وفى كـتابنـاالعزيز ) أى القـرآن (قد أتى ذكر اسـمه) أى يوم الجمعة (دون سواه) أى يوم الجمعة لعظمه (يافتى) مثنّاه فَتَوان وفَتَـيان جمع فِتْيان وفِتْيةٌ وَ فِتْوةٌ وفُتُـوٌّ وفَتِىٌّ وفُتِيٌّ أى الشاب الذى لم يبلـغ أربعـين سنة من عمره.ولكن المراد هنـا عام للناس شيخا أوفتى ذكـرا أو امـرأة (واسـمه) أى يـوم الجمعة (يـوم المزيد)لمزيد الثـواب والـرحمة (قـدورد) هذاالاسم فى السنة عن أنس بن مالك قال أتى جبريل بمـرآة بـيضاء فيهـا نُكـتَـة [1] (إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم  فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم ماهذه ؟ قال هذه الجمعة فضّلتُ بهـا أنت وأمتـك فإن النـاس لكم فيهـا تبـع اليهـودُ والنصـارى ولكـم فيها خير وفيها ساعة لايوافقها مؤمن يدعو اللهَ بخير إلا أستجيب له وهوعندنايـوم المزيدقال النبى صلى الله عليه وسلم يـاجبريل وما يـوم المـزيد؟ قال إن ربـك اتخــذفى  الفردوس وفى رواية فى الجنـة واديـا أفيـح فيـه كـثب مسك فإذا كان يـوم الجمعة أنـزل الله فيه نـاسـامن الملائكــة وحوله منابر من نور عليهـا مقـاعـد النـبيـين وخف تلـك المنابر بمنابر من ذهب مكــللـةً بـاليـاقوت والزبرجد عليها الشهداء والصديقـون فجلسوا من ورائهم على تلك الكـئيب قيقول الله عز وجل أناربكـم قدصدقتم وعـدى فسـلـونى أعطـكم فيقولون ربنا نسألك رضوانك فيقول قدرضيت عنكم ولكم علي ماتمنيتم ولَدَيّ مزيـدفهم يحبون يوم الجمعة لـمايعطيكم فيه ربهـم من الخـير. رواه الشافعى فى الأم  وقـوله (و) اسـمه (الشاهد) و (المشهود أيضا) كمـا فى قوله تعالى وشاهد ومشهـود وقوله صلى الله عليه وسلم  أخرجه عن أبى الدرداء قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم أكثروا من الصلاة على يـوم الجمعة فإنه يـوم مشهود تشهده الملائكـة.  فالشاهد هو يـوم الجمعة لأن الشمس مـاطلعت ولاغربت إلا فى هذااليـوم. والمشهـود هو يـوم عـرفة وفى روايـة ابـن جـريـر عن ابـن عباس قـال الشاهدالإنسان والمشهود يـوم الجمعة (يـعتـقد)بـهذا الإسم .
وَأَنـَّهُ  أَيْضًا هُــوَ اْلمـُــدَّخـَــــــــرُ

وَيـَوْمُ غُـفـْرَانٍ فَــذَا لاَ يـُنـْــــكـَــرُ
سـَاعَـاتُهـَا فِى اللَّيـْلِ وَالنَّـهَــارِ

قَـدْجـَاءَنـَا بِهَـا بـِأَن َّالْـبــَـــــارِى
تـَكَــرُّمـًا يـَعْتِــقُ سِـتـَّـمِائــَـــــــةٍ

مِن َالْجِحِـيْمِ عِنْـدَ كُلِّ سَـاعـَــةٍ
وَخُصِّصَتْ بِسَاعَةِ اْلإِجـَابـَةْ

عَلَى سِـوَاهَا يـَا أَخَـا الـنَّجـَـابَةْ
          قال الناظم رحمه الله تعالى ( وأنـه أيضاهو) أى أن يوم الجمعة سمى أيضا فى السنة (المـدّخَر) يتشديدالدال معناه يـوم المهـانة لأن فى هذااليوم قامت الساعة والكافرون مترددون ومتندمون على أعمالهم وإنما سميت القيامة بالساعـة لـوقـوعها فى ساعة أعنى بها بـين الصبح وطلوع الفجر كمـاذكــره فى عـون المعـبود شرح سنن أبى داود. وقال (ويـوم غفران) أى للمسلمين كما فى الحديث روى عن أنس قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم إن الله تبارك وتعالى ليس بتارك أحداًمن المسلمين يـوم الجمعة إلا غفـر له، رواه الطبرانى (فـذا لايـنكـر)هذاالحديث، والله أعلم بالصواب وقوله (ساعاتهـا) أى الجمعة (فى الليـل والنهـار) أربعة وعشرون ساعة (قدجاءنا) البيان (فيها) أى الساعات (بأن البارى) هو من أسماء الله تعالى (تكــرما) حال من الساعات يعتق ستمائة) شخص (من الجحيم عند كل ساعة) منها لكثرة عبادتهم لله تعالى يومها وليلها كما فى الحديث روى عن أنس قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم إن يوم الجمعة وليلة الجمعة أربعة وعشرون ساعة ليس فيها ساعة إلاولله فيها ستمائة عتيق من النار كلهم قداستوجبوا النارأى استعبدوا النار، رواه البخارى. وأخرجه ابـن عـدِى والبيهقى فى الشُّعَب بلفظ إن الله فى كل جمعة ستمائة ألف عتيق.واختلف فى تلك الساعة فقال عبدالله بن طاوس هى آخر ساعة يوم الجمعة  وقيل هى مابين الفجر إلى طلوع الشمس ومن العصر إلى غروبها وقيل هى الساعة الثالثة من النهار وقيل هى مابين أن يجلس الإمام إلى أن يقضى الصلاة وقيل مابين خطبتين، والله أعلم.(وخصصت) الجمعة (بساعة الإجابة) أى بـوقت إجابة الدعوة (على سواها) من الأيام الأخرى (يـاأخاالنجابـة) أى الفاضلة كما فى الحديث عن أبى هريرة رضى الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم ذكــر يـوم الجمعة فقال فيه ساعة لا يـوافقها عبدمسلم وهو قائم يصلى يسأل الله شيئا إلا أعطاه إياه وأشار بـيده يُقـلِّلهـا، رواه الشيخان.وفى رواية عـوف ابن مالك الصحابى قال إنى لأرجو أن تكـون ساعة الإجابة فى إحدى الساعات الـثـلاث إذا أذّن المـؤذّن ومادام الإمام على المنـبر وعندالإقامـة وقيل بـين الخطبـتين.
وَالصَّدَقَاتُ فِيْهِ أَيـْضًا ضُوْعِفَتْ

عَنْ كَعْبِ اِْلأَحْبَارِ هَذَاقَدْثَبَتْ
وَاْلحَسَناَتُ وَكَـذَاكَ السَّـيِّـئاَتْ

تُضَاعَفاَنِ فِى النَّهـَارِ وَالْبَيـَـاتْ
          قال الناظم رحمه الله تعالى (و) تسن (الصدقات فيه) أى يـوم الجمعة (ضوعفت)ثـوابها على غيرها من الأيـام كماروى (عن كعب الأحبار) بالحـاءالمهملة  وهو أبـو إسحاق توفى 32 هجــريـة أو 652 ميـلاديـة فى حمـصّ وهو تـابـعى مـن أقـدم رواة الحـديث (هذاقدثبت) تضعيف أجـر الصدقـة فى يـوم الجمعة فى الحديث أنـه صلى الله عليه وسلم قال الصـدقـة تضاعَف يـوم الجمـعة. وقوله (والحسنات) أى الأعمال الصالحات (وكــذلك السيئات تضاعفـان) أى جـزاءهما (فى النهـار والبيـات) أى فى دهـر يـوم الجمعة وليـلتهـا كما فى الحديث روى عـن كعب الأحبار قال يوم الجمعة تضاعف الحسنة والسيئة أخرجه ابن أبى شيـبـة . وروى عن المسيب بـن رافـع قال من عمل خيرا فى يوم الجمعة ضعف بعشرة أضعافه فى سائر الأيـام ومن عمل شرّا فمثـل ذلك.
وَسُوْرَةُ الدُّخَانِ أَيـْضًا تُطْلَبُ

فِى لَيْـلِـهَا وَيـَوْمِهـَـا وَتـُنـْـــــــدَبُ
فـِى لـَيـْلـِهـَاسـُـوْرَةُ يَسٍ تـُقـْــــرَأُ

لِـغُـفْرِ ذَنـْبٍ وَلـِسَقْـــمٍ تُقْــــــــــرَأُ
وَاقْـرَأْ بِهُــوْدَ يـَوْمِـهَـا وَالْـبَقَـــــرَةْ

وأَلِ عِمـْـرَانَ بـِلـَيـْلٍ ذَكــَـــــــــــرَهْ
          قال الـنـاظم رحمه الله تعالى (وسورة الدخان أيضا) أى
 قـراءتهــا( تطلب) أى تندب (فى ليلـهـا ويومهـا) كما فى الحديث روى عن أبى هريرة رضى الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم من قرأ حــم الدخـان ليلة الجمعـة غفــرله.رواه الدارقطنى.(وتنـدب فى ليلهـا) أى الجمعة (سورة يس) أى قرأة سورة يس وهى مكـية نزلت لأن الكـفار مكـة قالوا إن محمدا ليس بنبي ولامرسل بل هو يتيم أبى طالب . وهذه السورة سميت بقلب القرآن كما قال رسول الله صلى الله عليه وسلم إن لكل شىء قلبا وقلب القرآن يس ومن قراها كـتب الله له قراءة القرآن عشر مرّات. وقال الشيخ حمامى زاده رحمه الله تعالى فى كـتابه شرح تفسير يس إن المفسرين يختلفـون فى معنى لفظ يس منهم يقـولـون يـاإنسان  ومنهم يقولــون يـاسيد المـرسلـين أو يـامحـمد ومنهم يقولـون بأنه اسم من أسماء الله تعالى ومنهم يقولـون اسم السورة فى القرآن إنـتهى. وقوله (تـقـرأ) تلك السورة (لغفـر ذنـب) إلى الجمعة الأخرى لقـوله صلى الله عليه وسلم من قرأ ليلة الجمعة حم الـدخــان ويس أصبـح مغفـوراله وزوّج من الحـور العـين. رواه الدارمى والبيهقى  وأما قـوله (ولسقم يـبرأ) فهـو من زيـادة النـاظم رحمه الله تعالى لحـديـث رسول الله صلى الله عليه وسلم من قرأ سورة الكـهف ليلة الجمعة غفـر له إلى الجمعة الأخرى وفُضِّلَ ثـلاثةَ أيـام وصلى عليه ألف ملك حتى يصبح وعـوفى من الـداء والبرص والجـذام وفتنـة الدجّال رواه الدارمى والبيهقى (وقرأ) أيضا (بــــ)سورة (هـودَ)فى (يومهـا) أى الجمعة (والبقرة) فيه (و) كـذا سورة (أل عمران بليل) الجمعة كمـا (ذكـره) الإمام السيوطى رحمه الله تعالى فى كـتابه نـور اللُّمـعة فى خصائـص يـوم الجمـعة وهو الحديث روى عن ابن عباس قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم من قرأ آل عمران يوم الجمعة صلى الله عليه وسلم وملائـكــتُه حتى تـَغيبَ الشمس . رواه الطـبرانى. وعن كعب أن النبى صلى الله عليه وسلم قـال اقـرؤوا سورة هـود يـوم الجمــعة ، رواه الــدارمـى والبيهـقى. وعن عبـد الله الواحد بـن أيمـن تـابـعى قــال قـال رسول الله صلى الله عليه وسلم من قرأسورة البقرة وآل عمران فى لـيلة الجمعة كان له من الأجر مابـين لبَــيذا وعَـروِيــًّا.فلبـيذا الأرض السابعة وعـرويـًّـا
السماء السابعة . رواه الاصفهانى فى الترغيب.
كـَذَلِكَ الذِّكـْرُ اَّلـذِى قَدْ أَوْجَبَا

مَغْـفِـرَةً قُبـَـيْلَ صُبـْـحٍ نـُـدِبــــَـــــا
وَذلَِكَ الـذِّكـْـرُ هُـوَ اسْتِغْـفـَــــــارُ

مَـعْ ذِكْـرِ تـَوْبـَـةٍ  بِـهَـا يُشـَـــــــــــارُ
ثـَلاَ ثـَـة ْمـَـرَّاتٍ يـَقـُـوْلـُه ُالْـفـَـــــــتَى

فـَإِنـَّـهُ بِـهِ اْلحـَـدِيْثُ قـَـدْ أتَـــَــــى
          قال الناظم رحمه الله تعـالى (كـذلك الذكـر) مثل لا إله إلا هو الحى القيوم وأتوب إليه (الذى قد أوجبا) النبى صلى الله عليه وسلم (مغـفرةً) لـذنوب قارئهـابالاستـقـامة (قبـيل صبح) يـوم الجمعة (ندبـا) بالمجـهول لحديث عن أنس قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم من قال قبل صلاة الغـداة يـوم الجمعة ثلاث مرات استغفر الله الذى لا إله إلا هو الحى القيوم وأتـوب إليه غفرت ذنوبه وإن كانت أكـثر من زبد البحر.رواه الطبرانى فى الأوسط. (وذلك الذكـر) المذكـور (هو استغفارمـع ذكــر تـوبة) من الـذنوب كـقوله تعالى استغفروا ربكم ثم تـوبـوا إليـه (بهـا) أى بالتوبة يشار قـول النبى صلى الله عليه وسلم فى الحديث المذكور وقال (ثلاث مرات) على الأقل (يقوله) الذكر قبيل الصبح يـوم الجمعة (الفتى) فـاعله (فـإنـه بـه) الذكـر من الدعـوات المأثـورة، ودليله (الحديث) من رسول الله صلى الله عليه وسلم (قدأتى) كما قدذكـرته.
كــَذَاكَ  إِكـْـثـَارٌ مِـنَ الصَّـــــــــلاَةِ

عَـلَى النَّـبِىِّ كاَمِـــلِ الصِّــــفَـاتِ
فِـى لَـيْـلِـهَــا وَيـَوْمِـهـَـا فَقـَـدْ أَتــَـى

نـَصّ ٌمِـن َالْمُخْــتـَارِ فِيـْهِ مُثـْبَــتـَا
          (كـذاك( مطـلوب فى الفعـل (إكـثـارمن الصلاة على النبى) صلى الله عليه وسلم (كامل الصفات) وأفضل المخـلوقات وسيد الأنبياء والمـرسلـين (فى ليلهـاويـومهـا)أى الجمعة (فقد أتى نـص) أى حديث صحيح (عن المختار) أى المصطفى وهو محمد صلى الله عليه وسلم (فـيه) أى فى الإ كــثـار (مثـبتـا) حكـم منـدوبـهـا وجـزاء قارئهـافى قوله صلى الله عليه وسلم عن أنس بن أوس قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم إن من أفضل أيـامكم يـوم الجمعة فيه خلق آدم وفيه قبض وفيه النفخـة وفيه الصعقـة فأكـثروا من الصلاة عليّ فيـه فإن صلاتكم معـروضة عليّ أى مبسوطة على الرسول صلى الله عليه وسلم. رواه أبـو داود والحاكم وصححه إبن ماجه وفى الحديث الآخر عن أبى الدرداء قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم أكـثروا الصلاة عليّ يـوم الجمعة فإنـه مشهـود
 تشهده الملائـكــة رواه ابن ماجه. وأخـرج عن علي قال من صلى على النبى صلى الله عليه وسلم يوم الجمعة مائة مرة جاء يـوم القيامة وعلى وجهـه نـور.
عِـيَـادَةُ  اْلمـَـرِيـْضِ فِـيْـــهِ  سُــــــنَّةْ

كـَـذَاكَ عِـتْـقٌ فِـيـْهِ نِعْــم َالْمِـنـَّــةْ
وَسُـنـَّة ٌ أَنْ  يَشْـــهَدَ اْلجَنــَـــــائـِـزَا

ثـُم َّالنـِّـكَاحَ كـَىْ يـَكـُــوْنَ فـَـائـِـزَا
          قال الناظم رحمه الله تعالى (عيادة المريض) أى زاره (فيه) أى يوم الجمعة (سـنة) للحديث فيمـا يلى (كـذاك) يسن (عتـق) رقبة مؤمنة (فيه) أى يـوم الجمعة (نعم) فعل غير متصرف لإنشاء المدح ومعناه فضّل (المـنة) بكسر الميم وتشديد النـون جمعها المنن أى الاحسـان (وسنة) أيضا (أن يشهد) أى يتبع (الجنائزا) جمـع الجنازة (ثـم النكاح) فى هذااليوم (كـى) حرف تعليل يدخل على المضارع فينصب بعدها بأداة مقدرة (يكـون) الـعـقد (فائـزا) أى ناجحا والدليل على سنة العيادة وغيرها الحديث روى عن أبى أمامـة أن النيى صلى الله عليه وسلم قال من صلى الجمعة وصام يومه وعاد مريضا وشهد جنازة وتصدق بصدقة فقد أوجبت له الجنة ز رواه البيهقى (ومن يقل) أى يقرأ (بسيد الاستغفار) المنقول عن النبى صلى الله عليه وسلم (فى ليلـهـا) أى الجمعة (سبعا من المـرار) أى سبع مرّات (فـإن يمت من بعدها) أى الـقراءة (فى ليلته)وهو يـقرأفى ليلة الجمعة (يدخله ربنـا) ويطـله بنعمه المتنوعة (فسيح جنته) أى فى وسع جنة الله تعالى. وذكر فى الحديث نص سيد الاستغفار روى عن أنس قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم من قرأ هذه الكلمات سبع مرات فى ليـلـة الجمعة فمات فى تلك الليلة دخل الجنة وهـو اللهم أنت ربى لا إله إلا أنت خلقتنى وأنـا عبدك وابن أمتك وفى قبضتك وناصيتى  بـيدك أمسيت على عهدك ووعدك مااستطعتُ أعوذبك من شـر ما صنعتُ أبـوء بنعمـتـك وأبـوء بـذنـبى فاغفـرلى ذنـوبى إنـه لايـغفر الذنـوب إلا أنت. وفى رواية أخرى اللهم أنت ربى لا إله إلا أنت خلقتنى وأنـا عبدك وأناعلى عهدك ووعدك ماستطعت أعوذبك من شر ماصنعتُ أبـوء لك بنعمتك علي وأبـوء لك بذنبى فاغفرلى فإنه لايـغفــر الـذنوب إلا أنت.
وَكاَنَ طَــهَ  إِنْ يـُـرِدْ أَنْ يَظْـهَـــــــرَا

فِى الصَّيْفِ  يَظْـهَـرْ لَـيْلـَهـَابـِلاَ مِـرَا
وَمِـثْلُهُ الدُّ خُوْلُ فِى الشِّتاَءِ قَـدْ

أَتـَى بِه اْلحَدِيْثُ فَهْـوَ اْلمُسـْــتَنـَدْ
قال النـاظم رحمه الله تعالى (وكان طـه) من ألقاب رسول الله صلى الله عليه وسلم وقد تقدم بيان معنى هذا اللقب فى البـيت الثـانى (إن يـرد) بحذف الياءبعـد الـراء للـوزن أى يقصد (أن يظهـرا) أى يخرج من بيته ويظهــربـين أصحابه (فى الصيف) أى فى موسم الحـر (يظهـر) الرسول وهو جـواب الشرط (ليـلهـا) اى الجمعة (بـلا مـرا) أى بـلاشك (ومثلـه الدخـول) أى وإن يريد الرسول أن يدخل إلى بيته يدخـل ليـلـة الجمعة (فى الشتاء) أى موسم المطر والبرد. هذاالبيان (قدأتى به الحديث) عن عائشة رضى الله عنها قالت كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا ظهر فى الصيف استحب الرسول صلى الله عليه وسـلم أن يظهر ليلة الجمعة وإذادخل البيت فى الشتاء استحب أن يدخل البيت لـيلـة الجمعـة وأخـرج مثلَـه عن إبن عباس (فهـو) بسكون الهاء للـوزن أى الحديث (المستند) إلى النبى صلى الله عليه وسلم .
وَبـَعْدَ أَنْ قَضَى صَلاَتهَـَا خَرَجْ

لِلسُّـوْقِ دَارَ فِيْهِ لَـيْسَ بـِالْحـَرَجْ
كـَذَلِكَ انـْتِظَارُ عَصْرٍ بَـعْـدَهـَـا

يـَعْـدِلُ عُمْـرَةً  فَيـَاأَخـَـا الـنُّـهَـــى
صَلاَةُ  حِفْـظِ  ِللْـقُـرْآنِ  لَـيْلَـهـَــــا

تـُعَـدُّ وَفِّـقْتَ أَخـِـى لِـنَـيْلِـهـَـــــــا
قال الناظم رحمه الله تـعـالى (وبـعـد أن قضى) النبى صلى الله
 عليه وسلم (صلاتها) أى الجمعة (خـرج) من المسجد(للسوق)
أى إلى السوق فــ (دار) فى السوق ساعة (فيه) أى السوق (ليس بالحرج) ولابـالمنع ولابـاالذنب.والدلـيل على ذلك ماأخرجه الطــبرانى عن عبد الله بن بسر صاحب رسول الله صلى الله عليه وسلم أنه كان إذاصلى الجمعة خرج فدار فى السوق ساعة ثـم رجع إلى المسجد فقيـل له لـم تـفعـل هذا؟ فقال رأيت سـيدالمرسلـين يـفعلـه، قال الإمام جلال الدين السيوطى كان حكمته امتثال قوله تعالى فإذا قضيت الصلاة فـانتشروا فى الأرض وابـتغـوا من فضل الله (كــذاك) يستحب (انتظارعصـر) أى صلاة العصر بـعد الجمعة فى المسجد (يـعدل) أى يساوى ذلك الانـتظار (عمرة) أى ثــوابها (فياأخاالـنـهى) أى ذوى الـعقـول. هذا مناسب بقول النبى صلى الله عليه وسلم عن سهل بن سعدالساعدى قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم إن لكم فى كل جمعة حجة وعمرة فالحجة الهجيرة إلى الجمعة والعمرة انتظار العصر بعد الجمعة. رواه البيـهقى . وقوله (صلاة حفظ للقرآن)أربـع ركعات مستحبة (ليـلها) أى الجمعة لأنها (تـعـدّ) مـن الأعمال الصالحات التى سبقت فى فعل الرسول صلى الله عليه وسلم، و(وفّقت أخى) أى يـا أخى المسلم ذوى الطموخ (لنـيلـهـا) وكيفيتهاأن يصلى أربع ركعات يقرأ فى الركعة الأولى بفاتحة الكتاب وسورة يس وفى الثانية بفاتحة الكتاب وحـم الدخان وفى الثالثة بفاتحة الكتاب وآلـم تـنزيل السجدة والـرابعة بفاتة الكتاب وتـبارك المفصل فإذافرغ من التشهد فأحمدالله وأحسن الثـناء على الله وصلّى علي وعلى سائر النبيـين  واستغفر للمـؤمنين والمـؤمنات ولإخوانك الذين سبقونا بالإيمان ثم قال فى آخرذلك اللهم ارحمنى بترك المعاصى أبدًا ماأبقيتنى وارحمنى أن أتكلـف مالايـعنينى وارزقنى حسن النـظر فيمايـرضيك عنى. اللهم بديع السموات والأرض ذاالجلال والإكـرام والعزة التى لاترام، أسألك ياالله يارحمن بجـلالك ونـور وجهك أن تـلـزم قلبى حفظ كـتـابك كما علمتنى وارزقنى أن أتـلـوه على النحو الذى يرضيك عنى. اللهم بـديـع السموات والأرض ذوالجلال والاكـرام والعـزة التى لاتـرام، أسألك ياالله يارحمن بجـلالك ونـور وجهـك أن تنور بكــتابك بصرى وأن تطلـق به لسانى وأن تفرح به عنى وتشرح به صدرى قلبى وأن تعمل به بدنى فإنه لايـعنينى على الحق إلا أنت ولاحول ولاقـوة إلا بالله العلى العظـيم. تـفعل ذلك ثـلاث جمـع أو خمسا أوسبعا.
وَسُـــــنَّةٌ  زِيــَارَةُ  اْلـقَُــــــــــــبـُـوْرِ

فِى لـَيْـلِـهَـا وَيـَوْمـِهـَــااْلمـَـشـْـــهُـوْرِ
كــَذَاكَ  عِــلْمُ مَـيِّتٍ بـِزَائـِــــــــرَةْ

قَـدْ جـَاءَ فِـيْه ِلاَتـَكُــنْ بِـنـَاكـِــرَةْ
          قال الناظم رحمه الله تعـالى (وسنة زيارة القبـور) أى قـبـور أبـويـه أو أحدِهما أو غيرهمامن الأقاريـب والشـهداء والعلماء الصـالحـين (فى) كل (ليـلهـا ويـومهـا) الجمعة أو غير الجمعة لأنـهــا تذكـرة الأخـرة. قال رسول الله صلى الله عليه وسلم زوروا القـبور فإنهـا تذكـركـم الأخرة رواه ابن ماجه. وأخرجه الحكيم والترمذى والطبرانى عن أبى هريـرة رضى الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم من زار قبـرأبـويـه أو أحدِهما فى كل جمعة غفر لـه وكــتب بِـرّاً.وقوله (المشـهـور)هذاالحديث (كـذاك علم ميـت بـزائـرة) فى يـوم الجمعة ويوم قبله وبـعدهوعَـلِم الميت من يمرّ به فـوق قـبره وسلّم علـيه فى ذلك الـيوم. (قدجـاء) الحديث الصحيح (فـيه) متعلق بعلم الميت (ولا تكـن بنـاكـرة) أى لاتـكـن منـكِرابذلك الحديث. ونصه جاء عن محمد بن واسع قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم يـلغنى أن المـوتى يعلمـون بزوارهـم يـوم الجمعة ويوما قبله ويوما بعده، رواه البـيهـقى. وجدير بالذكـر هنا قول الإمام النـووى رحمه الله تعالى إن العلماء يختلفون فى حكم زيارة القبـور وهو ثلاثـة أوجـه فى قـول أصحابنا أحدها تحريمه على النساء لحديث لعـن الله زوّارتِ القبـور والثانى يـكــره  والثالث يبـاح لحديث كنت نهيتكـم عن زيـارة القبـور فزورهـاز وقال شيخنا العلامة إسماعيل عثمان زين إنـهـا سـنة وهذا هو المعـتمد والله أعلم.
 وَتُـعْرَضُ اْلأَعْمـَالُ لِلأَحْيـَا عَلَى

مَـوْتـَاهُمُـو فِيْهَـا كَمَـا قَـْد نـُقِــــلاَ
وَالـطَّــيْرُ فِيـْهِ  قَـائـِـمٌ  سَــــــــــلاَمُ

سَــــلاَمُ يـَـوْمِ صـَـــالِـحٍ كــَـــــــلاَمُ
          قال الناظـم رحمه الله تعـالى (وتـعـرض الأعمالُ) الحسنات أو السيئات (للأحياء) مـن الأقـاريب (على موتـاهمـو فيهـا) أى الجمعة (كماقد نقلا) عـن الحديث عن عبد الغفور ابن عبد العزيز عن أبيه عن جدّه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم تعـرض الأعمال يـوم الإثـنـين ويـوم الخميس على الله تعالى وتعـرض على الأنبياء وعلى الآبـاء والأمهـات يـوم الجمعة فيفرحون بحسناتهم وتـزداد وجوههم بيـاضا وإشراقا، رواه الـترمذى والحـكيم  ويحـزنون بسيئاتهـم. واعلـم أن الأموات تـتـلقى الأحياء من أقـاربهم يوم الجمعة فإذا قامت فيـه الساعة  التـقى أهل الأرض وأهل السماء والعبد والعامل وعملهما والمظلوم وظالمـه والشمس والقمرولم يـلتقيا قبل ذلك قط وهو يـوم الجمـع واللـقاء.وقوله (والطير فيه)أى يوم الجمعة (قـائـل) أى مستقبل لقـدومـه (سلام سلام يوم صالح) وهـو (كلام) الطير على بعضها الأخرى إكراما وتعظيما إليه كما فى الحديث روى عن بكربن عبدالله المُزنى قال إن الطير لتـلقى الطير بعضها بعضا ليلة الجمعة فتقول لهاأشعرت أن الجمعة غـداً.
وَإِنْ يَكـُـنْ سَبْعُوْنَ مِنَّـا حَضَـرُوْا

صَلاَ تَهـَا فَـإنِهَّــُمْ قَـد بُشِّـــــــرُوْا
بـِأَنَّهُـمْ كمَِـثـْلِ أَصْحَابِ اْلكلَـِــــيمْ

الـوَافِدِيْنَ مَعَـهُ عَلىَ اْلكـَـــــــرِيمْ
          قال الناظم رحمه الله تـعالى (وإن يـكـن سبعـون) رجـلا
 (منـا)من المسلمـين (حضروا) إلى المسجد (صلا تهـا) أى
 ليـؤدّين صلاة الجمعة (فإنهم قد بشروا) بالأجر والثـواب من عندالله عزوجل (بأنهم كمثـل أصحاب) أى مثل أمة (الكليم) أى موسى عليه السلام (الوافدين) أى المرسلين (معه) أى موسى عليه السلام (على الكــريم) أى على الله تعالى كما فى الحديث عن أنس رضى الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا راج منا سبعون رجلا إلى الجمعة كانوا كسبعين موسى الذين وفدوا إلى ربهم أو أفضل. رواه الطبرانى فى الأوسط.
وَمَـنْ يَصُمْـهُ وَخَمِيْسًـا سَبَقَـهْ

وَأَرْبـِعـَـاءَ وَأَضـَافَ صَـدَقـَــــةْ
تـُغْـفَــرْ لَـهُ ذُنـُوْبـُـهُ كـَـيَـــــــــــــوْمِ

وِلاَدَةٍ قَـــــدْ حَصَــــــــلَــتْ لِـلأُمِّ
          قال الناظم رحمه الله تعالى (ومن يـصمه) يـوم الجمـعة (و)كــذلك (خميسا) أى يوم الخميس (سبقه) الضمير يعـود إلى يـوم الجمعة (و) كــذلك (أربعـاء) أى يوم الأربعـاء وهو ابتداء الصوم ثم (أضاف صدقة)أى تصـدق بما قل له أو كـثر من أمـواله (تـغفرله ذنـوبه) حتى يصـير (كـيوم ولادة قد حصلت للأم) أى كـيوم ولدتـه أمـه كماجاء به فى الحديث عن ابن عمر قـال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول من صام يـو الأربعاء والخميس والجمعة ثم تصدق يـوم الجمعة بما قلّ له أوكـثـر غفرله كل ذنب حتى يصير كـيوم ولدتـه أمــــه.
رواه الطبرانى والبيـهقى.
وَسَـمِّ يـَوْمَـهَا بِـيـَـوْمٍ أَزْهـَــــــــرَا

وَاللَّـيْلَةَ  اْلـغُــرَّاءَ وَاحْـذَرِ اْلمِـــرَا
وَمَنْ يـُصَـلِّى بـَعـْدَ مَغْرِبٍ لـَهـَـا

بـِرَكـْـعَتـَـيْن ِقـَارِئـًـا زِلْــــزَالـَهـَــــــا
بِخَمْسِ عَشـْــرَةٍ مِـنَ اْلمـَـــرَّاتِ

هـَانـَتْ عَلـَيْهِ سَكْـــرَةُ اْلمَمـَاتِ
كَمـَا بِـهَـا يـُوْقِـى عَـذَابَ اْلقـَـبْرِ

وَيَجُــوْزُ فِى الصِّـرَاطِ  اْلجِسـْـــرِ
          قال الناظم رحمه الله تعالى (وسم) بفتـح السين وكسرمابعدها (يـومهـا) أى الجمعة (بـيوم أزهرا) أى كيـوم الأزهر بجامع نوره ولونه االبديع (و) سم أيضا (الليلة) أى ليلة الجمعة (الغـرّاء)جمع الغِرة أى البيضاء والاشراق (واحذر المـرا) أى لاتكن شاكا فيه لثبوت النص على سداده وهو قوله صلى الله عليه وسلم كان إذا دخل رجب قال اللهم بارك لنا فى رجب وشعبان وبلغنا رمضان وإذا كان ليلةَ الجمعة قال هذه ليـلة غُـرٍّ أو يـوم أزهـر رواه البزّار. (ومن يـصلى) الصلاة النافلة (بعد مغرب) فى ليلة الجمعة (لها) أى للصلاة (بركعتين) أو أكـثر منهما (قارئا) فى كل ركعة بفاتحة الكـتـاب (و) بـعدها يقـرأ (زلزالها بخمس عشرة من المـرا) جمع مـرة (هانـت) أى سهلت (عليه سكـرة الممات) أى شـدته وغشـيه (كمـا بهـا) يعود إلى سكـرات الممات (يـوقِى عذاب القـبر) أى يستره الله تعالى ويـظـله (ثم يجـوز) أى يعـَـبَر (فى الصـراط) أى الطريق الصغير والدقيق فوق النار (الجسـر) بكسر الجيم وفتحها واحد الجسور وهى مـا يُعـبَر علـيها.روى عن ابن عباس قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم من صلى بعد المغرب ركعتين فى ليلة الجمعة يقرأ فى كل ركعة منها بفاتحة الكـتـاب مرة وإذا زلزلت خمس عشرة مرة هـوّن الله تعالى عليه سكرات الموت وأعاذه من عذاب القبر ويَسّر له الجواز على الصراط يـوم القيامة
وَسـَائِـرُ اْلأَيـَّامِ أَيْضًا تَسْــــــــلَمُ

إِنْ سَـلِـمَ اْلجُمْعـَـة َلـَيْسَ مَــــأْثـَمُ
وَسُـنَّةٌ عِنْدَ دُخُـوْلِ اْلمَسْـجِدِ

فِى يَـْومِهَـا تَـقُــوْلُ ذَا يـَا مُهْــتَدِى
يـَا ربـَّنـا اِجْعَلنْىِ مِنْ أَوْجَهِ مَن

إِلـَيْكَ قَـدْ تـَوَجَّهـُوْا يـِاذَا اْلمِنـَـــنْ
بِصِـيْغَة ٍقَدْ جَـاءَ فِى اْلأَذْكـَارِ

عَــنِ النـَّـبِىِّ صَـــفْـوَة ِ اْلأَبــْــــرَارِ
قال الناظم رحمه الله تـعالى (وسائـر الأيـام أيـضا تسـلم) أى سلمت
الأيـام فى الأسبـوع (إن سـلم الجمعةَ ليس مأثـم) أى إن سلم الميت عن الأعمال السيئات والآثـام فى يـوم الجمعة والمعنى الإجمالى من هذاالبيت أن من مات يـوم الجمعة وسلم من وقـوع الأثـام فيه سلمت أيّـام الأسبوع من المـؤاخذة والعذابة. إذ يوم الجمعة ميزان الأسبوع هذه من خصائـص الجمعة التى ذكـرها الحديث، أخرجه أبو نعيم عن عائشة قالت قال رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا سلمت الجمعة سلمت الأيـام. وذكـر أيضا فى اتحـاف السادة المتـقـين بشرح إحياء علـوم الـدين إذا سلم يوم الجمعة سلمت الأيـام ، وإذا سلم رمضان سلمت السَّـنة. (وسنة عند دخول المسجد فى يـومها) أى الجمعة (تقول) أى تقرأ (ذا) أى هذاالدعاء الآتى (يـا مهـتدى) للـعمـل بـه. (ياربنا)وفى الحديث ، اللهم اجعلـنى مِن أوجه من تـوجـه (إليـك) وأقربِ من تقرب إليك وأفضلِ من سأل إليك ورغب إلـيـك، وقال الإمام النووى فى الأذكار يستجب لنـا أن نقـول من أوجه ومن أقرب ومن أفضل يزيادة مـن (تـوجهـوا) إلى الله عز وجل (يـاذالمنـن) جمـع مِنـة وهى النعمـة (بصيغة قـدجـاء) الحديث على تلك الصيغة الدعائـية (فى الأذكار) للـنـووى (عن النبى) صلى الله عليه وسلم (صفوة الأبـرار) وخير خلقـه الأخيار  
وَمَنْ يـُرِدْ فِى يَـوْمِهَا أَنْ يَحْتَجِمْ

فَـذَاكَ مَكـْـرُوْهٌ فَحَقِّـقْ وَاغْتَـنِمْ
وَجَاءَ أَيـْضًا تـَدْخـُلُ الشَّهـَادَةْ

لِمَـنْ  يَمُـوْتُ  يَـوْمَهَــا رِفـَـــــــــادَةْ
          قال النـاظم رحمه الله تعالى (ومن يرد فى يومها) أى الجمعة (أن يحتجم) بـوضع المِحجم على الجلد ليخرج الدم القذر منه والحجم هو من عادات العلماء السلفيـين فى عـلاج مرضـهم كالصُّداع والضرس وغيرهماوقـد فعلـه شيخناالنـاظم فى حياته (فذاك) أى الحجم فى يـوم الجمعة (مكروه فحقـق)أى فـافـهم(واغتـنم) أى واحفظ وبعّـدعنه لنهـيه صلى الله عليه وسلم عنه فى هذااليـوم قى قوله صلى الله عليه وسلم لايحتجم أحدكم يـوم الجمعة ففيها ساعة من احتجم فيها فأصابه وضْحٌ فلا يـلـومنَّ إلانفسه. رواه الحاكم وابن ماجـه عن ابن عمر والـوضْـح مـن وضِحَ يـَوْضَح وضَحًامعناه الجُرح المفتوح حتى ظهر العَظْم (وجاء أيضا) الحديث عن فضيلة من مات يوم الجمعة وهى (تحصل الشهادة) أى أجر شهيد (لمن يموت يـومها) الجمعة وقيل ليلها(رفادة) أى معونة من الله عز وجل كما فى الحديث أخرجه حميد ابـن زنجـويه من مرسل إياس بن بـكير أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال من مات يوم الجمعة كتب الله له أجر شهيد ووقَّى  فتـنة القبر، ولفظ أبى نعيم من مات ليلة الجمعة أو يوم الجمعة أجير من عذاب القبر وجاء يوم القيامة وعليه طابـع الشهداء.
وَمَنْ يُصَـلِّى يَــوْمَهـَـا بـِـأَرْبــَـــــعِ

رَكْـعَاتِ مِنْ ضُحَى فَحَقِّـقْ وَاسْمَعِ
يـَقْـــرَأُ  كُلَّ رَكْـعَـةٍ بِـعَشـْـــــــــــرِ

مِـنَ اْلمـَثـَانِـى وَالْـقَـلاَ قِــلِ  اسـْــبِـرِ
وَأَيـَةُ اْلكـُرْسِىِّ أَيـْضًا عَشْــرُ

َوبَـعْــدَ تَسْــلِــيْمٍ  لـَــهُ   يُسْـتـَـغْـفـَـــــــــــــرُ
سَـبْـعِيْنَ مَـرَّةً وَبـَعْـدَهَـا أَتـَى

بـِالْـبـَاقِـيـَاتِ  الـصَّـالِحـَـاتِ  يـَـا فـَــــتَى
قال النـاظم رحمه الله تـعالى(ومن يصلى يـومها)أى الجمعة (بأربـع ركعات من ضحى) فى يـوم الجمعة  مرة واحدة غفرالله ذنوبه (فحقـق) أى فـافهم (واسمع) حديث رسول الله صلى الله عليه وسلم ممايـأتى (يقرأ كل ركعة بعشر) مـرات (من المثانى) أى الفاتحة (والقـلاقل) أى سورة الفلق والناس كل منهما عشر مرات وكـذا سورة الإخلاص والكافرين (اسبر)أى اصـبر أيـهـالشباب فى أداء صلاة الضحى يـوم الجمعة وقولـه (وأية الكـرسى) تطلب ( أيضا) قراءة أية الكرسى فى الضحى عددها (عشر) مرات (وبعد التسليم أتى) المصلى القراءة (بالبـاقيات الصالحات) أى التسبيح والتحميد والتكبير والتهليل وكـذلك الحـوقلة (يـافتى) جمعه فِـتيان أى الشباب .
وَاحِــدَةً  فـَـإِنَّ ذَا قَـــدْ وَرَدَتْ

لِــدَفْــعِ  شَــرِّ الــثـَّـقَـلـَــيْن ِ وَالْـعِـــــــــــــدَا
مِنْ كُلِّ أَهْـلِ اْلأَرْضِ وَالسَّمـَاءِ

فـَـاسْــمَـعْ  لِمـَـا جـَـاءَ بـِـلاَ مِـــــــــــــــرَاءِ
كــَذَلِكَ اْلحَــجُّ إِذَا وَفـَقـَــــــــنـَا

وُقـُوْفـُه ُبِجُمْعَـــةٍ نِـعْــمَ  اْلمـُـــــنَى
          قال الناظم رحمه الله تعالى (واحـدة) أى قـراءة الباقيات الصالحات مرة واحدة (فـإن ذا قـد وردا) الحديث الشريـف (لـدفـع شر الثـقلـين والعـدا)أى من شر لإنس والجـن (ومـن كل أهل الأرض والسما) أى شرهما(فاسمـع لما جاء) فى الحديث (بـلا مـرا) أى بلا جدال على صحيحه وهو يروى عن ابن عباس قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم من صلى الضحى أربـع ركعات فى يـوم الجمعة فى دهـره مرة واحدة يـقـرأ بفاتحة الكـتاب عشر مرات وقل أعوذ برب الفلق عشر مرات وقل أعـوذ بـرب النـاس عشر مـرات وقـل هـو الله أحـد عشر مرات وقل يـاأيـها الكافرون عشر مرات وأية الكرسى عشر مرات فى كل ركـعة  فإذا تشهّد وسلم واستغفر سبعين مرة وسبح سبعين مرة قائلا سبحان الله والحمدلله ولاإله إلاالله والله أكبر ولا حولا ولا قوة إلا بالله العلى العظيم رفـع الله شر أهل السموات وأهل الأرض وشر الجن والإنس، رواه الأصبهانى رضى الله عنه. (كــذلك) متعلق ببـلا مـراء (الحج إذا وفقنا وقوفه )يـوم عـرفة أو يـوم النحر أو بعض أيـام الـتشريق (بجمعة) أى فى يـوم الجمعة فسميت حجته الحج الأكـبر لأن حجته صلى الله عليه وسلم كانت يوم الجمعة وكان صلى الله عليه وسلم ينهى صلاة الجمعة فى هذه الأيـام فى قـوله إذا وافق يـوم الجمعة يوم عرفة أو يوم النحر أو بعض أيام التشريق إنه لايجـمـع فى شىء من تلك الأيـام. رواه ابن مالك عن نافـع رضى الله عنه فى المـوطـأ وقوله (نعم) فعل ماض غير متصرف لأنها استعملت للحـال بمعنى الماضى وفيها أربـع لغات وهى كَسْر أولِه وسكونُ ثـانيه أو كسر أوله وثـانيه أو فَتـح أوله وكسر ثـانيه أو فتـح أوله وسكون ثـانيه بمعنى مـدحٌ وأمامعنى (المنـى) بضم أوله جمـع منـيـة بكسر الميم أو ضمها وسكـون النـون معناه القصد والـرجاء
 وَنَجْلُ عَمْرِو الْـعَاصِ قَدْرَوَى لَنَا

بِـأَنـَّـهُ إِنْ وَطَــــرٌ بـَدَا لـَنـــَــــــــــــا
نَصُوْمُ فِى اْلخَمِيْسِ بَعْدَ اْلأَرْبِعـَا

وَجُمْعَـــةٍ فَكُـنْ لِـهَـذَا ســَامِـعَــا
ثـُمَّ الـتَّصَـدَّقَ ِبمَـالٍ لـَوْ يَـقِــــــــلْ

وَبـَعْـدَ أَنْ صَـلَّى يَـقُــوْمُ  يَـبْــتَهِــلْ
إِلَى اْلكَــرِيْـمِ بِـثـَنَـاءٍ وَدَعـَـــــــا

فِى اْلأَصْلِ مَذْكـُوْرٌ يَنـَالُ مَادَعَا
          قال الناظم رحمه الله تـعالى (ونجـل عمرو العاص) أى ولدعمر بن العاص وهو عبدالله بن عمـرو بـن العاص رضى الله عنهما (قدروى لـنـا) عن خواص يوم الجمعة (بأنه) أى الشأن (إن وطـر) أى إن كانت لـنـاحاجة سواء كانت دنيوية أو أخروية فـــ (نصوم فى الخميس بعد الأربعاء وجمعة) أى نبتدئ الصوم يوم الأربعاء ثم الخميس ثم الجمعة (فكـن) يـاأخى (لهـذا) الحثّ (سامعا) وفاهما وعاملا (ثم التصدق بمـال) فى هذاليـوم (لـويقل) ولـو بكأس الماء (وبعد أن صلى) الجمعة (يقوم يبتهل) صاحب الحاجة بقراءة الدعاء (إلى) الله (الكريم بثناء) أى بحمد وشكــر (ودعـا)
 إليه بالتضر ع والخضوع فـإن الله يقضى ويـعطى حاجته .
 وقوله (فى الأصل) خبر مقدم أى فى كـتاب نـور اللمعـة بخصائـص الجمعة للسيوطى رحمه الله تعالى (مذكـور) نـص الدعاء وسنذكـره مما يأتى وقوله (ينال) أى يستجيب (مادعـا) إلى الله تعالى من الأمور الدنيوية أو الأخروية . وهـذا نـص الدعـاء اللهم أسألك باسمك بسم الله الرحمن الرحيم الذى لا إله إلا هو عالم الغيب والشهادة الرحمن الرحيم  وأسألك باسمك بسم الله الرحمن الرحيم الذى لا إله إلا هو الحي القـيوم الذى لاتـأخذه سنة ولانـوم الذى مـلأت عظمته السموات والأرض الذى عنت له الوجوه وخشعت له الأصوات ووجلت القلوب من خشيـته أن تصلى على محمـد وان تعطـينى حاجتى وهى كـذا وكـذا فإنه يستجاب، أخرجه الأصبهانى عن عبد الله بـن عمر رضى الله عنهما.وأخرج ابن السنى فى عمل يـوم وليلة عن عمروبن قيس المـزنى قال بـلغـنى أن من صام الأربعاء والخميس والجمعة ثم شهد الجمعة مـع المسلمـين ثم ثبت بتسليم الإمام وقرأفاتحة الكتاب وقل هوالله أحدعشر مرات
ثم مدّ يده إلى الله عز وجل ثم قال اللهم إنى أسألك باسمك العلى الأعـلى الأعـزِّ الأعـز الأكـرمِِ الأكـرم الأكـرم  لا إله إلا الله الأجلُّ العظيم الأعظم لم يسأل الله شيئا إلا أعطاه إيـّاه عاجلا وآجلا ولكـنكم تـعـجـلون.
أَبـْـوَابُ نـِـيْرَانٍ بـِهَـا لاَ تُفْتـَــــــحُ

وَسـَـفَـرٌ فِى لـَيْلِـهَـا يُسْتَفْتـَــــــــحُ
وَمَـنْ يُـصَـلِّى لَـيْلَـهَاأَ وْيـَوْمَهــَـــا

جَمَـاعَةً يُكْـتَبُ مِنْ أُوْلِى النُّـهَى
تـَكـْــتُــبُـهُ مـــَــــلاَ ئـِــكٌ أَرْوَاحُ

وَمـَعَــهُمْ مِنْ فِضَّـــةٍ  أَلــْــــــــــوَاحُ
            قال الناظم رحمه الله تعالى (أبواب) جمع باب (نيران) جمع نار أى نار جهنم (بها) أى الجمعة (لاتفتح) أى أبواب جهنم مقفولة فى يوم الجمعة تعظيما وإكـراماله كما فى الحديث أخرجه أبونعيم عن ابـن عمر أن النبى صلى الله عليه وسلم تُسعر كل يـوم وتفتح أبوابهـا إلا فى يوم الجمعة فإنهـا لاتفتح أبوابها ولا تسعر. واعلم أن أسماء أبواب الـنـار سبـعة  وهى  باب جهنم  ولـظّى والحُطمة والسعير والسقر والجحـيم والهاويـة. والمسافة من الباب إلى الباب الأخر مسيرة  سبعمائـة  سنة كل باب منها أشد حرا ويدخل فيـه الـرجال والنساء مناسبَـين بأعمالهـم السيئة فى الدنيا (وسفر فى ليلـهـا يستفتح) أى يجوز أن يسافر فى ليلة الجمعة إلى آخرهـا ولا يجوز لمن يـلـزم الجمعة قبل فعـلـهابـعـد دخول وقتها وأما قبله فثـلاثـة أقـوال وهى روايـات منصوصتان عن أحمد، أحدها لايجـوز والثـانى يجوز والثالث يجوز للـجـهاد خاصة وأما الشافى فيحرم  إن كان عقب الزوال وأما قبله قولان جـاز فى القـديم  وحرام فى الجـديد. إنتهـى كلام السيوطى فى نـور اللمعـة مع التصرف (ومن يصلى يـومها وليلهـا) أى الجمعة (جماعـة)حال وصاحبها من يصلى (يكـتب) بالمجهول . والمـراد بالـكتابة هنا أن المـلا ئـكة يكـتبون أجرهم فى ألواحهم بالفضة كما فى الحديث  عن ثابر الغيّاب قال بلغنا أن لله ملا ئكـة معهم ألـواح من فضة وأقلام من ذهب يطوفون ويكـتبون من صلى ليلة الجمعة ويوم الجمعة فى جماعة رواه عبدالله ابن أحمد وقوله (من أولى النـهـى) جمع نهية أى ذو العقول  (تكـتـبه ملائــكٌ) جمع ملك كما فى الصحاح وقال الليث الملك إنما هو تخفيف الملائـك وأجمعوا على حذف الهمزة ، وقـال الكـسائى إن أصله مـألك بتـقديم الهمزة من الألوك ثم قلبت وقدمت اللام فقيل ملا ئـك (أرواح) جمع روح وقيل الروح هو ملك عظيم يـنزل لخدمة المؤمنـين كما قال عز وجلّ يـوم يـقوم الروح والملائـكة صّـفّا. قيل معناه روح آدم  وقيل روح جبريـل عليه السلام وقيل روح محمد صلى الله عليه وسلم تحت العرش وقيل روح الأقـرباء من الأمـوات (ومعـهم) أى الملا ئـكـة (من فضة ألـواح) تـكـتب فيها بأقـلام من فضة وقيل من ذهب كما فى الحدبث المذكور.
صَـلاَةُ رَكـْعَتـَيْنِ بَعْـدَ اْلغُسـْــلِ

فِى ليَـْلـَةِ اْلجُمْعَةِ ذَاتِ اْلفَـضـْـــلِ
وَفِيْـهِمَـا تَـقْــرَأُ أَلــْفَ مـَـــــــــرَّةْ

بِسُوْرَةِ اْلإِخْلاَصِ ذَاتِ الرِّفْعـَــةْ
فـَرُؤْيَةُ النَّـبِـىِّ بـَعْــدُ تَحْصُـــــلُ

مِـنْ نَـوْمِ مَـنْ يَسْـمَــعُ ذَا وَيـَفْـعَـــلُ
          قال الناظم رحمه الله تعالى (صلاة ركـعتين بـعـد الغســل) أى الصلاة النافلة (فى ليلة الجمعة ذات الفضل) من الأيام الأخرى (وفيهما) أى ركعتـين (تقرأ ألف مرة بسورة الإخلاص) فى الركعة الأولى خمسمائة مرة وكـذلك فى الركعة الثـانية فإنها (ذات الـرِّفعة) أى الدرجـة العالية (فرؤيـة النبى) أى محمدصلى الله عليه وسلم إن شاء الله تعالى (بعـدُ) بضم الدال أى بعد الصلاة النافلة ركعتين (تحصل) على تـلك الـرؤيـة (فى نـوم) أى أثناء النـوم وفاز (من يسمع ذا) أى هذا الخـبر (ويفعل) تلك الصلاة بالخشوع والتضرع. والدليل على هذاالخبر الحديث أخرجه ابن عساكر من طريق محمد بن عَكاشة عن محمد بن معاوية بن حماد الكرمانى عن الـزهرى قال من اغتسل يوم الجمعة وصلى ركعتين يقرأ فيهما قل هوالله أحد ألف مرة رأى النبى صلى الله عليه وسلم فى منامه بمشيئة الله تعالى .
زِيـَارَةُ اْلإِ خْـوَانِ فِـيْهـَا تُـنْـدَبُ

فِى وَقْتِ اْلإِنـْتِشَارِفَهْـىَ تُطْلَبُ
وَبـَعْدَ صُبْحِـهَا وَبـَعْدَ اْلعَصْـرِ

لاَتـُكـْــرَهُ الصَّـــلاَةُ أَيـْضًـا فـَـــادْرِ
          قال الناظم رحمه الله تعالى (زيارة الإخـوان فيه تندب) أى تسن الزيارة إلى الأقارب والأجانب (فى وقت الإنتشار)أى فـراغ صلاة الجمعة (فهـى تطلب) كمـا فى الحديث أخرجه ابن جزين قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم فى قوله تعالى : فـإذا قضيتم الصلاة فـانـتشروا فى الأرض. هذا أمر إباحة يقول إذا فرغتم من الصلاة فانـتشروا فى الأرض يـعنى للـتجارة واالـتصرف فى جـوائـجكم وابـتغـوا من فضل الله أى من رزقه وقال جعفر ابن محمد فى قوله تـعالى وابـتغـوا من فضل الله أنه عمل يـوم السبت وعن الحسن وسعيد بن المسيب طلب الـعلم وقيل صلاة النافلة  وعن ابن عباس لم يـؤمروا بشىء من الـدنيا إنما هو عيادة المرضى وحضور الجنائـز وزيـارة أخ فى الله تـعالى إنـتهـى الفتوحات الربـانية على الأذكارالنـوويـة. (وبـعد صبحها) أى بعد صلاة الصبح فى يـوم الجمعة (وبـعد) صلاة (العصر) فى يـوم الجمعة (لاتكـره الصلاة أيضا) أى الصلاة النافلة عندطائفة (فـادر) أى فاعرف وافهم يـاأخى الحديث أخرجه ابن إبى شيبة فى المصنَّف عن طاووس قال يـوم الجمعة صلاةُ كله وإن صح ذلك كان فيه تـأييد لكــون ساعة الإجابة قبل الغروب ولا يـُرِدّ أنهـا ليست بساعة صـلاة.
وَمَنْ يَكـُنْ فِى مَسْجِدٍ قَدْ دَخَلاَ

وَأَرْبَـعًاصَلّىَ وَفِـيْهَــا قَـدْتَــــلاَ
سُـوْرَةَ اْلإِخْـلاَصِ كُلَّ رَكـْــعَـةٍ

خَمْسِـيْنَ مَرَّةً كَـمَا فِى السُّـنَّةْ
فَلـَمْ يَمُـتْ حَتَّى يـَرَى مَقـَامَـــهُ

مـِنْ جَــنَّةٍ مُصَــوَّرًا أَمـَـامَــــــهُ
          قال الناظم رحمه الله تعالى (ومن يكـن فى مسجدقد دخلا) أى من دخل المسجديـوم الجمعة (وأربـعا صلى) أى ثم صلى أربـع ركـعـات (وفبهـا) أى كل ركـعة من الأربـع (قدتــلا) أى قـرأ المصلى (سورة الإخلاص كل ركـعة خمسين مـرة كـما) بــيّن بـه النبى صلى الله عليه وسلم فضـائـلــهـا (فى السـنة) الشريفة وهى فى قـول النـاظم رحمه الله تعالى (فـلم يمت) المصلى (حتى يرى مقامه) أى منزله فى الاخرة (من جـنة) أى فى الجـنة (مصّورا) حال متعـلق بـيـرى (أمـامه) بالجـلى عنـدسكـرات الموت. روى عن ابن عمر قال قال رسول الله صلى تالله عليه وسلم مـن دخل يـوم الجمعة المسجد فصلى أربـع ركـعـات يـقرأ فى كل ركـعة بفاتحة الكـتـاب وقل هـو الله أحدخمسين مـرة فذلك مائـتـامـرة فى أربـع ركعات لم يمت حتى يـرى منـزلـه فى الجـنة أو يـُرَى لــه رواه الـدر قطنى
وَجـَـاءَ  مَـرْفـُـوْعـًـا بـِـأَنَّ الـرَّ جـُــــلاَ

لاَيـَفْجَـعُ اْلفُـجْـعَةَ مِنْ بَـيْـنِ اْلمَـلاَ
إِلاَّ  إِذَا عَــنْ قَــوْمِــهِ تَــخَـلَّـــــــــــــفـَــا

عَشِـيَّـةَ اْلجُمْعَـةِ إِذْ مـَا أَنـْصَفـَا
وَإِنَّ  رَبـَّنـَـا يـُبـَـاهِـى  يـَـوْمـَـهــَـــــــــــــا

بِـأَهْلـِهـَامَلاَ ئـِكاً أُوْلِى الـنُّـهـَـى
وَيـَـوْمُـهَــا يَـبْـعَــــثـُه ُالـرَّحْـــــــــــــمـَـنُ

مِثْلَ عَرُوْسِ أَيـُّهَـا اْلإِخْـــــــوَانُ
زَهْــرَاءَ مُسـْتََنـِيْرَة ً  ِلأَهْــلِــهــَــــــــــا

َيَمْشُـوْنَ فِى رِضَـائـِهـَالِفَضْلـِهـَـا
          قال النـاظم رحمه الله تعالى (وجـاء) الحديث (مرفـوعـا) إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم (بأن الـرجلا) عنـدسكـرته (لايفـجَـع الفـجـعة) أى لا يـوجـع الرجلَ خـروج روحـه (من بــين المـلا) أى تجاهَ الملائكـة عند نـزع روحه لاستقامته فى الصلاة النـافلة أربـع ركعات عند دخول المسجد فى يـوم الجمعة. وقوله (إلا إذا) أى لكن إذا كان الـرجل (عـن قـومه تخـلـفا) أى تـرك مجلس قـومـه للمـفـاوضة عن الأمور الدنـيـويــة والأخرويـة (عشـية الجمعـة) أى ليـلة الجمعة (إذمـاأنـصـفا) أى مـاأذل مـن تـرك مجلس القـوم لأجـل أداء الصلاة المفروصة أوالـنـافلة فى المسجدفى يـوم الجمعة كما فى حديث رسول الله صلى الله عليه وسلم أخرجه الـديـلمى عن عائشة مرفوعـا لا يفـقه الـرجل كلَّ الفـقه حـتى يـترك مجلس قـومه عشـيّة الجمعة.والمراد بهذاالحديث أن الرجل الذى لايـترك مجلس قـومه لأداء الصلاة فى المسجد ليـلة الجمعة يُـعدّ بـأنه لا يفقه الـديـن، والله أعلم.وقـوله (وإن ربـَّنـا) تبارك وتعالى (يـبـاهى يـومهـا)أى يـفاخريــوم عرفـة (بـأهلـهـا) أى بالعـبـادالذين يعملون الحسنة فى يـوم عـرفـة (ملا ئكا) مفعـول ثـان لـيـباهِى أى بعث الله تعالى الملائـكــة لحفظهم ورعايتـهم من السيئات ويمسح السيئات بالحسنات، ولـذلك فـاعلمـوا يـا (أولى النهـى) أى ذوى الـعقـول بأن الله تـعالى يفضل يـوم عرفة بـالأيـام الأخرى. قال رسول الله صلى الله عليه وسلم إن الله يـباهى ملائكـتَه بـعباده يـوم عرفـة يـقول عبادى جاؤنى سعيا يـتعـرضون لرحمتى فأشهدكم أنى قد غفـر لمحسنهم وشفعت محسنهم فى مسيئهم .أخرجه ابن سعد عن الحسن بن على رضى الله عنهما .وقوله (ويـومهـا) اى الجمعة (يـبعثه) أى يـوم الجمعـة (الرحمـن) أى المنعم بجـلائـل النـعم كالإيمـان والعـافية والعـقل والغـنى عن النـاس ويـبعث الجمعةَ (مثلَ العروس) تـُبدى وتهدى إلى كــريمها وهيـبتهـا.واعلـموا (أيهـالإخوان) بكسر الهمـزة على الأشهـر وضمهـا لغـة ضعيفة (زهراء) مفعول ثـان ليبعث أى يبعث الرحمن يـوم الجمعة أنوارا(مستنيرة لأهلـها) أى الجمعة (يمشون) أى يواجهـون (فى رضائـهـالفضلها) أى الجمعة. قال رسول الله صلى الله عليه وسلم إن الله يبعث الأيـام يـوم القيامة على هيئتها ويـبعث الجمعة زهراءَ مستنيرةً. أهلها يُـحـفون بهـا كالعروس تهدى إلى كـريمها تضيء لهم يمشون فى ضوئـها ألوانهم كالـثـلج بياضاوريحهم يسطع كالمسك يخوضون فى جبال الكافـور يـنظر إليهـم الـثـقـلان لايـطرقـون تـعجباحتى يـدخـل الجنة لايخـالطـهم أحد إلا المـؤذنـون المـحـتسبـون، رواه البيهـقى عن أبى موسى الأشعـرى.
وَاْلحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى قَدْ أَنـْعَمــَــــا

بـِخَتْـمِ مَارُمْتُ فَجَــلَّ مُنْعِمـَــا
جَـائِـزَتِى فِى نـَظْمِهَا وَالْقِـيْمـَـةْ

مَـثُـوْبـَةٌ مِـن رَبـِّنـَا عَظِيْمـَــــــــةْ
وَدَعـْـــوَة ٌ ِممَّنْ بِـهَـا قـَدِ اتَّصَـــلْ

بِالْخَتْم ِبِالْحُسْنىَ فَذَاهُوَاْلأَمَلْ
قال النـاظم رحمه الله تعالى (والحمدلله) حمد فى أخرمنظومته
كمـاحمدفى أولهـا شكــرا لله على مـاأتمــه مـن هذه المنظومة المباركـة (لله) لاشريك له (الذى قد أنعما بخـتم مارمت) أى ما قصدت (فجـل) أى فعـظـم  (منعما) أى الله سبحانه وتعالى (جائـزتى) أى هـديتى (فى نـظمها) أى المنظومة (والقـيمة) أى والـتـقـدير فيـها وهـو (مثـوبة من ربنـا) عز وجل (عظيمـة) أى جليلة  و(دعـوة ممن بهـا) أى دعوة  الناظم بهـذه المنظومة التى (قد اتصل) فى عقـدهـا (فى الخـتم) بسكـون التـاءو (بالحسنى) أى بـتـحصيل الـثـواب والأجـر من الله تـعالى (فـذا هو الأمـل) أى المرجـو من النـاظم رحمـه الله تعالى وسقى الله ضريحـه صواب الغفـران المتـوالى وأسكــنه فى فسـيـح الجنـة، ونسـأل الله تـعالى أن يحشـرنـا وأهـلنـا أجمعـين مـع صاحب المنـظـومـة وصاحب اللُّمـعـة فى جـنـات النـعــيم، وصلى الله على سيدنـا محمد وعلى أله وصحـبه أجمـعـين  والحمـدلله رب الـعـالمـين.

وكان الفراغ بحمدالله وعـونه وتوفيـقه والصلاة والسلام على نـبـيه محمد وآله وصحبه من تسـويد هذاالشرح القصير صباح الأثـنـين الخامسة من جمادى الأولى سنة خمسة عشر وأربعمائة هجرية وذلك فى محـل النـاظم رحمه الله تعالى وعافاه بـرصَـيْفة مكــة المكــرمة حينما كـنت مقيما فيه كـطالب العـلوم الديـنـية تحت إشرافه ورعـايته، وأرجو من فضل الله أن يجعـل هذاالشرح القصير في حيـّز الـقبول فإنه كــريم يـعطي خـير مأمـول. وقـد أجريـت فى تـنقـيح هذاالشرح وتـركت مارأيـته غير مفـيدوخطأ كـتابة وفـائدة ولكـن نـرى نقصا فيـه تـارة فى الأيـام الأخرى. وهكـذا شأن الإنسان فيما يكـتـبه فهـو محل القصـور والنسيان خصوصا فى هذه الأعـوام والأزمـان وليس الفـاضل من لايـغلط بـل الفاضل من يحسن غلطه بقـدرته والله بفضلـه وكـرمه لايـعيب به ولذلك فالمرجو ممن اطلـع عليه أن يصلـحه عن كل خطيئات وعثـرات  وأن يفتح باب عـفوه عن التساهلات والسيئات ونسأل الله تـعالى حسن الخـتـام بجـاه سيدنـا محمد عليه وآله وصحبه الصلاة والسلام
 والحمد لله رب الـعـالمـين .إهـ





                                                             







 ([1] أى شىءصغير أسود كالشامّة فى جلـد المـرء