Dengan
mengucapkan Alhamdulillah Robbil ‘Alamien, kami memuji kepada Allah SWT yang
telah menganugerahkan kenikmatan yang tiada tak terbatas, sehingga sampai saat
ini, kami masih bisa beraktifitas dengan sempurna.
Dan kami
senantiasa berdo’a, semoga Sholawat dan Salam terlimpahkan kepada Junjungan
Nabi Besar Muhammad SAW yang telah memberikan pencerahan dalam hidup ummatnya.
Semoga kami memperoleh syafa’at-nya kelak di hari akhir. Amien !
Salah
satu sumber Syari’at Islam yang paling lengkap adalah Al Qur’an dan Al Hadits
Rasulullah SAW yang di dalamnya menerangkan secara global, sehingga kami belum
seratus persen dapat memahami kandungan yang tersirat dari kedua kitab tersebut
tanpa dilengkapi dengan referensi lainnya, misalnya kitab-kitab yang membahas
dibidang ilmu Ushuluddin (Tauhid), ilmu Furu’ (Fiqh) dan ilmu bahasa arab,
seperti Nahwu, Shorrof, Balaghoh, Mantiq, Mustholahul Hadits, Tafsir dan ilmu
Tafsir dan lain-lain.
Referensi-referensi
tersebut mayoritas tertulis dalam bahasa arab fashihah (bahasa Quraisy) yang
dikarang oleh ulama-ulama tempoe doeloe yang professional dan sangat alim
dibidangnya. Referensi-referensi pembatu itu sangat luas dan lengkap dalam
menjabarkan globalitas makna Al Qur’aul Kariem, sehingga sangat membantu kepada
para pelajar memahami secara luas tentang Sari’at Islam (Hukum-Hukum Islam).
Untuk
bisa membaca dan memahami kitab-kitab referensi tersebut yang dikenal dengan
sebutan kitab kuning, karena mayoritas dicetak di atas kertas berwarna kuning
atau disebut juga dengan kitab gundul, karena huruf atau kalimat-kalimatnya tak
berbaris atau tak berharkat, maka wajib belajar dan memahami kaidah-kaidah
bahasa arab yang disebut dengan Nahwu dan Shorrof.
Nahwu
adalah ilmu yang membahas perubahan harkat. Sedangkan Shorrof membahas
perubahan kata atau kalimat. Pada umumnya kitab Nahwu yang digunakan di
Madrasah-Madrasah di Indonesia adalah kitab Ajjarumiyah, untuk tingkat dasar Al
‘Imrithy dan Alfiyah untuk tingkat menengah dan lanjutan. Sementara kitab
Shorrof-nya adalah Al Amtsilah Attashrifiyah, karya seorang ulama besar asal
Tebuireng, Jombang, yaitu KH. Ma’shum Ali dan kitab Al Maqshud. Mayoritas
kitab-kitab Nahwu dan Shorrof yang diajarkan kepada para pemula berbentuk
Syi’ir atau Nadzoman. Hal ini lebih mudah untuk dihafal dan difahami.
Akhir-akhir
ini, pembelajaran kitab kuning hamper saja tidak diminati oleh sebagian besar
para pemuda muslim, lantaran mereka menganggap sulit dan membutuhkan waktu
lama, kurang lebih 6 sampai 9 tahun lamanya, apabila belajar secara tekun dan
selalu melakukan praktek langsung kepada kitab kuning secara kontinyu. Tetapi,
apabila hanya belajar Nahwu dan Shorrof saja, tanpa mengikuti pengajian, baik
berbentuk wetonan atau sorogan sangat lemah bahkan mungkan sangat rendah dalam
upaya memahami isi kandungannya. Untuk itu, maka kedua system; belajar
kaidah-kaidah Nahwu shorrof dan mengaji kitab-kitab kuning harus dilakuakan
secara bersamaan.
Yang
menjadi permasalahan dalam pembelajaran tata bahasa arab akhir-akhir ini,
mayoritas para guru atau tutornya masih mempertahankan cara-cara atau metode
lama / kuno yang out-putnya membutuhkan waktu yang lama, sehingga terkesan
“sulit” dan “membutuhkan waktu lama”. Padahal tidak semua asumsi tersebut benar
atau salah. Benar, karena kenyataannya memang begitu. Dan salah, karena sampai
saat ini teknik-teknik pembelajaran baca dan memahami kitab berbahasa arab atau
kitab kuning tersebut masih saja berkutat kepada teori dan teori saja,
sementara prakteknya sangat jarang diaplikasikan dalam waktu yang bersamaan.
Sementara asumsi itu salah, karena umumnya hanya sekedar alas an bagi pelajar
yang tak ingin belajar kita-kitab kuning dalam waktu yang cukup lama. Padahal
bila dilakukan dengan tabah, out-putnya tidak kalah dengan metode baru yang
banyak ditulis atau dikarang oleh para ahlinya akhir-akhir ini. Salah satunya
yang cukup terkenal adalah teknig pembelajaran kitab kuning untuk dasar atau
pemula bernama Amtsilati, yang di susun oleh KH. Taufiqurrahman, Jepara, Jawa
Tengah dan kitab atau buku Thoriqoh Manzilah yang disusun oleh Drs. KH.
Muhammad Muhsin Amir asal Sumenep, Madura Jawa Timur. Dua buku teknik ini telah
diterapkan sebagai materi ajar di berbagai Pesantren atau Madrasah di Indonesia
dan hasilnya cukup baik.
Teknik
pembelajaran kitab kuning cepat dan tepat Thoriqoh Manzilah adalah sebuah buku
pedoman belajar tata bahasa arab; Nahwu dan Shorrof yang sistematis praktis dan
aplikatif serta evisien, karena dalam pembelajarannya mengutamakan praktek
daripada teori dengan cara musyawarah dan Tanya jawab, sehingga buku pedoman
ini disebut pula dengan Musyawarah Kitab Kuning
Thoriqoh (MKKT).
Salah
satu syarat untuk bisa membaca kitab kuning dengan tepat, para pelajar dituntut
menguasai I’rob atau perubahan harkat bacaan kata atau kalimat dengan benar
sesuai dengan kaidah-kaidah Nahwiyah atau Shorfiyah yang berlaku. Tanpa
menguasai I’rob dengan baik, mustahil seorang pelajar mampu membaca kitab
kuning dengan baik. Untuk itu, maka perlu adanya inovasi-inovasi dalam
pembelajaran Nahwu dan Shorof yang praktis dan cepat serta tepat dalam rangka
memberikan motivasi belajar para siswa atau siswi di Negara yang kita cintai
ini. Insya Allah bila cara demikian dilakukan, maka esistensi sumber-sumber
hokum Islam akan tetap dipelajari secara berkesinambungan oleh generasi muda
Islam.
Untuk
mengenal lebih jauh teknik pembelajaran baca kitab kuning dan memahaminya, kami
sebagai penemu teknik Thoriqoh Manzilah ini yang telah disebarkan sejak tahun
2007 yang lalu ingin sharing dengan para pembaca dan peminat, walaupun mungkin
jauh dari sempurna, karena pembelajaran melalui teknik ini tidak sepenuhnya
difahami dengan baik, tanpa jasa tutor yang ahli dibidangnya. Ya, hanya sebatas
perkenalan saja, barangkali ada di antara pembaca artikel ini berminat belajar
dengan lengkap, tentunya kami sebagai penemunya sekaligus editorial buku
pedoman tersebut selalu siap melayani keinginan permirsa sesuai dengan
kemampuan kami bersama beberap orang tim penyusunnya dengan tujuan memberikan
motivasi kepada anak didik untuk belajar ajaran-ajaran Islam dari sumber
aslinya, sehingga konsep Islam tidak di salah artikan oleh umat Islam itu
sendiri, karena kelemahan mengkaji kitab-kitab atau referensi Syari’at Islam
yang asli.
Berikut ini kami akan menyuguhkan kepada para pembaca
artikel ini, teknik MKKT ini yang telah berhasil diaplikasikan pada santri dan
pelajar di Madrasah-Madrasah atau Pesantren di Indonesia, khususnya di Jawa
Timur. Silakan ikuti petunjuknya dengan baik, semoga bermanfaat dan barokah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar