By: RAMBOYS
Perkembangan
Pendidikan Di Indonesia dengan beralihnya kurikulum KTSP menjadi Kurikulum 2013
ternyata menimbulkan banyak pertanyaa. nah untuk kesempatan kali ini saya kutip
beberapa pertanyaan dan jawaban yang diberikan oleh kementerian Pendidikan dan
kebudayaan (KEMDIKBUD).
Kurikulum pendidikan
di Indonesia akan drastis diubah. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah
menyusun kurikulum baru untuk tahun 2013 mendatang. Rencana ini rupanya sudah
digagas sejak 2010.
Alasan Kementerian:
kurikulum pendidikan harus disesuaikan dengan tuntutan zaman. Karena zaman
berubah, maka kurikulum harus lebih berbasis pada penguatan penalaran, bukan
lagi hafalan semata.
Perubahan ini
diputuskan dengan merujuk hasil survei internasional tentang kemampuan siswa Indonesia.
Salah satunya adalah survei "Trends in International Math and
Science" oleh Global Institute pada tahun 2007.
Menurut survei ini,
hanya 5 persen siswa Indonesia yang mampu mengerjakan soal berkategori tinggi
yang memerlukan penalaran. Sebagai perbandingan, siswa Korea yang sanggup
mengerjakannya mencapai 71 persen. Sebaliknya, 78 persen siswa Indonesia
dapat mengerjakan soal berkategori rendah yang hanya memerlukan hafalan.
Sementara itu, siswa Korea yang bisa mengerjakan soal semacam itu hanya 10
persen.
Indikator lain
datang dari Programme for International Student Assessment (PISA)
yang di tahun 2009 menempatkan Indonesia di peringkat 10 besar paling buncit
dari 65 negara peserta PISA. Kriteria penilaian mencakup kemampuan
kognitif dan keahlian siswa membaca, matematika, dan sains. Dan hampir semua
siswa Indonesia ternyata cuma menguasai pelajaran sampai level 3 saja.
Sementara banyak siswa negara maju maupun berkembang lainnya, menguasai
pelajaran sampai level 4, 5, bahkan 6.
Satu kesimpulan dari
dua survei itu adalah: prestasi siswa Indonesia terkebelakang.
Berikut wawancara
selengkapnya:
Mengapa ada
perubahan kurikulum?
Sebelum
"mengapa", kita perlu bahas lebih dulu apa itu kurikulum. Bicara
kurikulum itu pasti bicara empat hal. Pertama, standar kompetensi kelulusan.
Kedua, standar isi. Ketiga, standar proses. Keempat, pasti kita bicara standar
penilaian.
Gampangnya,
anak-anak mau kita harapkan bisa apa. Siswa SD kelas 1 itu bisa apa? Lulusan
SMP bisa apa, SMA dan seterusnya bisa apa? Ini yang kita tetapkan dulu. Dari
situ, lalu kita isi apa? Kita beri menu apa anak-anak ini.
Tapi, tidak cukup
dikasih menu saja. Prosesnya juga penting, bagaimana supaya makanan ini bisa
ditelan atau diserap oleh sang anak dengan baik. Dalam proses itu ada metodologi,
cara menyajikannya. Kalau bubur makannya pakai sendok. Kalau yang lain bisa
pakai garpu atau tangan langsung.
Itu belum cukup.
Juga penting bagaimana cara mengevaluasinya, cara penilaiannya. Nah, kalau kita
bicara kompetensi, ini yang ditekankan sekarang. Ada tiga ranah atau domain,
yaitu dari sisi sikap atau attitude, sisi keterampilan atau skill,
dan sisi pengetahuan atauknowledge. Kompetensi yang ingin kita capai adalah:
tiga-tiganya harus masuk.
Itu definisi tentang
kurikulum.
OK, lalu kenapa
diubah?
Pertanyaannya memang
mengapa kok diubah-ubah? Kayak kurang pekerjaan atau kebanyakan uang. Belum
lagi pasti ada pro kontra, ganti menteri ganti kurikulum. Ini sudah kami
timbang-timbang.
Zaman ke depan itu
berubah, lho. Kalau tidak kita lakukan perubahan sekarang, nanti kita akan
memproduksi generasi yang usang, yang tidak cocok dengan zamannya nanti.
Akibatnya, nanti jadi beban. Termasuk tidak terserap di ketenagakerjaan.
Harus kita lakukan
perubahan, meski dengan risiko tidak populer. Daripada gara-gara kita sungkan,
risikonya jadi lebih mahal. Kita tahu kurikulum sekarang ini tidak bisa
diteruskan lagi. Nggak apa-apa lah nggak populer. Kalau mau
selamat, saya diam-diam saja, pasti selamat. Termasuk soal Ujian Nasional itu,
kalau mau dihapus, bisa saja dihapus. Orang pasti senang.
Tapi
mengurusi pendidikan itu kan bukan soal orang senang atau tidak.
Orang nggak senengnggak apa-apa, asalkan ada nalarnya, ada
rasionalitasnya.
Apa kekurangan
mendasar dari kurikulum sekarang?
Pertama, zaman sudah
berubah. Yang dibutuhkan adalah kreativitas. Kita butuh modal pengetahuan.
Tapi, itu saja tidak cukup. Jadi harus ada unsur produktif, kreatif, inovatif
dan afektif. Ke depan kita butuh anak-anak yang seperti itu.
Sekarang sudah ada
banyak keluhan. Anak-anak kita tidak kreatif. Kita hanya mengejar hafalan.
Bahan pelajaran sedemikian banyak, anak dijejali terus.
Lha, apa ini harus
dibiarkan? Ya, perlu kita ubah, kita perbaiki. Bukan berarti yang lama itu
salah semua. Yang lama itu benar pada zamannya. Yang kami garap ini juga tidak
ada yang berani garansi selama 20 tahun tak akan diubah lagi. Tidak
ada memang di dunia ini, kurikulum dipertahankan sampai 30 tahun. Tidak
ada.
Jadi, akan berubah
dari metoda hafalan ke nalar?
Yang berubah tentu
di keempat elemen itu. Standar kompetensinya berubah, prosesnya dan materinya
juga ada yang berubah. Misalnya dari sisi proses. Pendekatannya berubah. Kita
ingin agar anak-anak jadi kreatif. Pertanyaannya, apakah kreativitas itu bisa
dibentuk atau dibangun? Ada beberapa riset yang menunjukkan bahwa kreativitas
bisa dibentuk melalui proses pendidikan. Salah satunya adalah penelitian
di Harvard University tahun 2011.
Ada dua pertiga
kesempatan membangun kreativitas melalui pendidikan. Sepertiganya melalui
faktor genetik atau bawaan. Ini berbeda dengan intelegensia yang dua
pertiganya karena faktor bawaan, sepertiga melalui pendidikan.
Idealnya,
intelegensianya tinggi, kreativitasnya juga tinggi. Tapi, kalau intelegensia
bawaannya rendah, kita bisa memainkan space creativity. Meskipun
intelegensianya pas-pasan, kreativitasnya bisa kita manfaatkan.
Bagaimana caranya
membangun kreativitas? Tentu ada berbagai pendekatan yang bisa membangun
kreativitas itu. Caranya, mulai kecil siswa kita biasakan untuk memanfaatkan
inderawinya. Ajak mereka mengamati. Jadi, bukan main di wilayah kosong. tapi
perlu masuk ke wilayah riil sehingga setiap kejadian terekam. Misalnya, apa
yang ada di bulan sana? Kita ajak anak-anak melihat melalui teropong. Contoh
lainnya sel. Kita bisa pakai mikroskop. Baru mereka bisa mengerti apa itu sel.
Ke depan, persoalan
semakin kompleks, beda dengan 30-40 tahun lalu. Karena kompleksitas ini, butuh
kemampuan yang lebih tinggi dalam berpikir.
Mengamati saja belum
cukup. Anak harus dikembangkan kemampuan untuk bertanya. Karena dari bertanya
itulah muncul rasa penasaran intelektual. Itu saja belum cukup. Siswa perlu
kita ajari untuk berkemampuan mempresentasikan, mengkomunikasikan sesuatu, baik
tertulis ataupun lisan. Oleh karena itu kita ajari bagaimana memformulasikan
persoalan.
Oleh karena itu,
struktur mata pelajarannya pun juga berubah.
Seperti apa
perubahan struktur mata pelajaran itu?
Struktur mata
pelajarannya kita tata lagi. Pendekatannya pun kita ubah. Objek pembelajarannya
kita tentukan. Pasti tentang fenomena alam, fenomena sosial, fenomena budaya.
Pendekatannya perlu
diubah terutama untuk anak-anak SD. Anak SD belum bisa berpikir spesialis.
Tidak usah anak SD, S1 saja masih belum spesialis. Doktor baru bisa tajam.
Maka, anak-anak SD itu kita bangun kekuatan fondasi generiknya. Maka,
pendekatan yang kita lakukan di pelajaran SD adalah tematik integratif. Kita
menggunakan tema yang berintegrasi dengan berbagai macam. Misalkan tema hari
ini tentang sungai, besok ganti jadi energi atau laut, gunung, apa saja. Di
situ ada pelajaran tentang PPKN, matematika, kita integrasikan.
Jadi anak sekolah SD
nanti tidak membawa buku matematika atau buku bahasa Indonesia. Mereka akan
membawa buku dengan tema-tema tertentu. Hari ini misalnya tentang lingkungan.
Jadi pelajarannya tentang lingkungan. Jadi, berhari-hari bawa buku tentang itu
saja. Di buku itu ada matematikanya, ada bahasa Indonesianya, ada pelajaran
IPA-nya. Itu menarik buat siswa. Belajar jadi hidup.
Jadi, mata pelajaran
di SD nanti apa saja?
Agama, PPKN, bahasa
Indonesia, matematika, seni dan budaya, olahraga dan pendidikan kesehatan. Itu
mata pelajarannya. Tetapi meskipun ada nama-nama mata pelajaran itu,
pendekatannya tidak belajar sendiri-sendiri. Diintegrasikan.
Proses belajar di
kelas seperti apa?
Biasa saja. Secara
teknis biasa. Guru menjelaskan. Tapi, selalu pendekatannya adalah observasi
sehingga tidak harus di dalam kelas. Anak-anak bisa diajak keluar kelas.
Kenapa menurut
survei kemampuan nalar siswa kita lebih rendah dibanding siswa Korea?
Itu jadi bahan
introspeksi kita. Kita berangkat dari TIMSS 2007 (Trends in International
Mathematics and Science Study). Nanti di tahun 2013 akan keluar hasil survei
tahun 2012. Saya tidak ingin menyalahkan siapa-siapa. Makanya kenapa ini sangat
penting, bahkan genting. Kita masuk pada fase penting dan genting. Karena itu
harus segera diubah.
Kalau tidak, atau
menunda satu tahun saja, ada 10 juta anak kelas 1 SD yang tidak mendapatkan
kesempatan. Siswa kelas 1 dan kelas 4 itu sekitar 10 juta. Sayang anak-anak kita.
Karena itu kita harus all out.
Uji publik yang
direncanakan ini belum pernah ada dalam sejarah pembuatan kurikulum. Ini kita
lakukan secara terbuka. Tapi sekali lagi kami mengajak agar pendekatannya
saintifik, akademik. Jangan pakai pendekatan politik. Sudah ada 600 lebih yang
memberi tanggapanonline, di http://kurikulum2013.kemdikbud.go.id. Di situ ada diskusi virtual.
Silakan memberikan masukan. Silakan sempurnakan.
Bagaimana
implementasinya?
Ini
perlu effort yang luar biasa. Kami siap diaudit. Ini semata-mata
untuk kepentingan masa depan. Untuk implementasinya, kami punya beberapa
skenario. Salah satu yang menguat adalah secara bertahap.
Jadi, mulai tahun
depan kita mulai dari kelas 1 dan kelas 4. Kalau kita mulai dari kelas 6,
anak-anak kan dari kelas 1 sudah menggunakan pendekatan yang lama. Tahu-tahu
dikasih yang baru, ya nggak nyambung. Karena itu guru yang kita latih
pun tidak semua, yang mengajar kelas 1 dan 4 saja.
Guru SD kan ada 1,6
juta. Kalau kita latih semuanya, untuk apa? Tahun depan kelas 1 dan kelas 2,
lalu kelas 4 dan kelas 5. Yang kelas 4 kan sudah naik ke kelas 5. Sehingga yang
kita perlukan selanjutnya kelas 2 dan kelas 5.
Kalau satu tahun mau
diperpanjang lagi, baru kelas 3 dan kelas 6. Berarti, 3 tahun lunas untuk SD.
Ada masa 3 tahun untuk menyiapkan itu. Tidak semuanya diselesaikan di 2012.
Kami paham kemampuan kami, selain dari sisi pendekatan juga tidak pas.
SMP dan SMA juga
begitu.
Ini sudah kita siapkan
semua. Kalau kita berpikir jernih, memang harus begitu. Karena keluhan soal
metoda hafalan ini sudah lama.
Perubahan ini akan
membawa hasil yang lebih baik?
Hasil pendidikan itu
saya ibaratkan kotak. Bagaimana caranya kita menjadikan kotak ini jadi sebesar-besarnya?
Bagi orang teknik gampang sekali: panjang, lebar dan tingginya ditambah.
Nah, jadi panjangnya
kita tambah. Tahun depan, insya Allah sudah dimulai pendidikan wajib
12 tahun. Lebarnya juga kita naikkan. Ini lama anak-anak tinggal di sekolah,
atau jam belajar. Konsekuensinya jam belajar bertambah, karena pendekatannya
berubah. Tinggi kotak itu efektivitas. Ini kuncinya di kurikulum.
Populasi usia
produktif kita sekarang luar biasa besar. Warga berusia muda luar biasa
banyaknya. Kalau tidak kita siapkan sejak sekarang, kasihan mereka.
Pertanyaan :
Bagaimana tentang uji publik kurikulum 2013 ini?
Mendikbud : Ini
sesuatu yang baru, uji publik kurikulum. Sebelumnya tidak pernah ada uji
publik. Jadi ini kita lempar ke publik. Tujuannya apa? pertama supaya publik
tahu akan ada kurikulum baru, kedua publik dapat berpartisipasi sehingga ada
rasa memiliki atauself-belonging. Dalam partisipasi ini siapa saja boleh
memberi pandangan. Oleh karena itu paling gampang kita masukkan dalam web kitahttp://kurikulum2013.kemdikbud.go.id.
Uji publik jalan
terus ini. Secara umum tidak ada itu yang menolak. Rata-rata menyambut baik.
Tujuan uji publik itu kan untuk penyempurnaan. Makanya bahannya kita upload,
supaya publik mempelajari terlebih dahulu. Kalau ada yang komentar mata
pelajaran kita kurang fokus, coba pelajari dahulu.
Waktu uji publik
yang 3 minggu ini cukup. Tentang memilah masukan, itu teknis sekali. Akan
dikelompokkan tentang kurikulum dan tentang implementasi kurikulum. Tentang
kurikulum itu sendiri kan terdiri dari kompetensi lulusan, isi, proses, dan
penilaian. Kira-kira dari 4 itu mana yang perlu ditambahkan. Dari masukan yang
banyak tersebut, oleh tim pakar akan di-review. Tentu saja tidak semua masukan
kita terima, kalau semua masukan kita terima itu berarti nggak mikir.
Pertanyaan :
Bagaimana tentang kesiapan guru?
Mendikbud :
Ujung tombaknya guru? Benar. Bagaimana jika guru belum siap? Kita siapkan!
Dalam manajemen Pareto, itu kan ada prioritas, mencari mana lebih prioritas.
Makanya kita prioritaskan mana yang penting terlebih dahulu. Implementasinya,
kita siapkan skenario pentahapan. Tahapnya bisa kelas 1 SD, 4 SD, kelas 7,
kelas 10 terlebih dahulu. Kalau itu kita lakukan, guru yang harus dilatih tidak
sejumlah total guru, yang 3 juta. Misal guru SD saja 1,6 juta, yang kita latih
sepertiga dari 1,6 juta itu, dikurangi guru agama, guru Pendidikan Jasmani,
jadi cuma sekitar 300 ribu, itu masuk akal. Kita setiap tahun mengadakan sertifikasi
sekitar 300 ribu.
Pertanyaan :
Apakah bukunya berubah?
Mendikbud :
Konsekuensi bukunya berubah. Apa tidak boleh mengadakan buku? Ya tentu harus!
Asalnya yang penting: 1. Jangan dibebankan kepasa siswa atau orang tua siswa;
2. Di dalam pelaksanaannya pengadaan buku harus bisa dipertanggungjawabkan,
transparan saja. Buku masternya kita siapkan, jadi bisa diuji isinya benar atau
salah. Kemudian kita tender-kan, terbuka. Dan siapapun bisa mengawasi.
Dananya bisa dari
dana alokasi khusus (DAK), yang memang tiap tahun ada DAK pengadaan buku. Dan
juga dari anggaran kita sendiri. Estimasinya kita belum tahu. Berapapun
anggarannya, mau 100 milyar 100 trilyun, asal bisa dipertanggungjawabkan tidak
masalah.
Pertanyaan :
Seperti apa pengajaran tematik-integratif?
Mendikbud :
Misalnya guru menetapkan tema pelajaran hari tentang gunung, tentang diriku,
tentang lingkunganku. Tema itu bisa berhari-hari diajarkan. Dalam tema itu ada
Bahasa Indonesia, ada Matematika diintegrasikan. Contoh temanya sungai. Guru
menceritakan tentang sungai dengan Bahasa Indonesia, diperkenalkan kosa kata
tentang sungai, air, dan lain-lain. Kemudian ditanyakan, air di sungai itu
mengalir atau tidak? kenapa? Di situ diperkenalkan ilmu pengetahuan alam. Bisa
juga dikaitkan dengan budaya, bahwa di Bali dikenal ada Subak, tentang budaya
pembagian air. Air bisa digunakan untuk pembangkit listrik. Jadi pembelajaran
itu bisa hidup.
Pertanyaan :
Bagaimana tentang blue-print kurikulum jangka panjang?
Mendikbud :
Apakah kita bisa membuat kurikulum yang tidak berubah 50 tahun? Tidak ada
ceritanya. Tidak ada ceritanya kurikulum yang 50 tahun tidak berubah, bahkan
yang 20 tahun tidak berubah itu tidak ada.
Jaman itu berubah.
Apa perubahan mendasar yang dibutuhkan di masa depan? Yang paling dibutuhkan di
masa mendatang (termasuk sekarang juga dibutuhkan) yaitu kreatifitas. Ke depan
kita butuh anak-anak yang kreatif.
Pertanyaan :
Bagaimana pengembangan Kurikulum 2013 ini?
Mendikbud :
Pengembangan kurikulum ini sudah ada dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Nasional (RPJMN) 2010-2014. Artinya apa? Kalau ada suatu dokumen RPJMN
2010-2014, ini artinya disusun tahun 2009, berarti 2009 sudah dievaluasi,
2010-2014 harus ada penataan kurikulum. Ini perintah RPJMN.
Dari sisi arah,
sangat-sangat jelas. Arahnya adalah peningkatan kompetensi yang seimbang antara
sikap (attitude), ketrampilan (skill), dan pengetahuan (knowledge). Tiga ini
harus dimiliki. Yang dirisaukan orang bahwa anak-anak kita hanya memiliki
kognitif saja, ini yang kita jawab. Kompetensi nantinya bukan urusan kognitif
saja namun ada sikap, dan ketrampilan. Kompetensi ini didukung 4 pilar yaitu :
produktif, kreatif, inovatif, dan afektif. Meskipun inovatif ini gabungan sifat
produktif dan kreatif, namun kita taruh berdiri sendiri saja. Kalau seseorang
produktif dan kreatif, tidak serta merta menjadi inovatif, tapi inovatif ini
hanya bisa dibentuk kalau ada dua hal tersebut. Kalau ada beras ada ikan belum
tentu otomatis bisa dimakan,tapi kalau tidak ada beras tidak ada ikan otomatis
tidak ada yang bisa dimakan. Syaratnya ada beras, ada ikan.
Tentang afektif ini,
kita ini rindu dengan kekuatan-kekuatan moralitas, sentuhan seni. Tentu saja
dibingkai dengan ke-Indonesia-an.
Ini sesuatu yang
baru, uji publik kurikulum. Sebelumnya tidak pernah ada uji publik. Jadi ini
kita lempar ke publik. Tujuannya apa? pertama supaya publik tahu akan ada
kurikulum baru, kedua publik dapat berpartisipasi sehingga ada rasa memiliki
atau sense of belonging. Dalam partisipasi ini siapa saja boleh memberi
pandangan. Oleh karena itu paling gampang kita masukkan dalam web kitahttp://kurikulum2013.kemdikbud.go.id.
Apakah yang disentuh
cuma mata pelajaran? Tentu saja tidak. Kalau kita bicara kurikulum, kita harus
bicara 4 hal, yaitu standar kompetensi lulusan, standar isi, standar proses,
dan standar penilaian. Proses ini berarti metodologi, atau pendekatan. Itu
kurikulum keempat-empatnya, mata pelajaran hanya satu aspek saja, termasuk buku
cuma satu aspek saja.
Yang pertama kita
garap dalam penyusunan kurikulum adalah kompentensi apa yang akan kita capai.
Anak kelas I SD diharapkan bisa apa, kelas V bisa apa, itu yang pertama
ditentukan. Untuk ke situ apa yang harus dilakukan? Setelah kompetensi
ditentukan, prosesnya harus ditentukan. Setelah itu cara evaluasinya harus ada,
apakah sudah tercapai atau belum. Jadi perlu standar penilaian. Jadi mata
pelajaran itu sesuatu yang kecil saja, suatu akibat saja.
Apa bedanya
kurikulum yang dulu dengan yang sekarang? Kurikulum yang lama pun ada standar
kompetensi, ada isinya, proses, dan penilaian. Dari situ
kita review semua, sejak 2011 sudah kita review. Ketika
ramai-ramainya PPKN, kita pelajari semua. Pendekatannya kita ubah. Kalau dulu
mata pelajaran dulu ditetapkan, baru kompetensinya, sekarang kita ubah,
kompetensinya dulu ditetapkan, baru menyusul mata pelajarannya.
Pendekatannya
adalah scientific-approach, atau pendekatan ilmiah.
Pertanyaan :
Mengapa kurikulum harus berubah?
Mendikbud :
Yang paling mendasar, adik-adik kita didik ini untuk apa? Yang paling utama kan
untuk mereka sendiri, yang nantinya akan kembali untuk keluarga, bangsa,
dan negara. Kapan itu? kalau anak sekolah sekarang, itu bukan untuk sekarang.
Agar mereka bisa hidup untuk nanti. Jaman itu nanti berubah, jadi harus dimulai
dari sekarang. Kalau kita tidak berubah kita akan menghasilkan generasi yang
usang. Generasi yang akan menjadi beban, dan juga tidak terserap di dunia
kerja.
Pertanyaan :
Bagaimana tentang anggapan ganti menteri ganti kurikulum?
Mendikbud :
Saya dihadapkan pada 2 pilihan: Apakah mempertahankan tidak usah ganti
kurikulum biar ga dibilang ganti menteri ganti kurikulum, atau kedua tidak
apa-apa ganti kurikulum asal ada landasan. Saya memilih yang kedua, ganti
kurikulum nggak apa-apa asal punya pijakan. Kalau ini dilakukan, saya yakin
kurikulum ini tidak akan berubah dalam 4 atau 5 tahun.
Kembali ke 4 pilar
di atas, penelitian menunjukkan bahwa kreativitas bisa dibangun melalui
pendidikan. Penelitian ini masih relatif baru, tahun 2011. Penelitian ini
menunjukkan 2/3 kreatifitas diperoleh melalui pendidikan, sedangkan 1/3 karena
genetik.
Bagaimana
menumbuhkan kreatifitas? Anak-anak kita ajari mengamati. Manfaatkan indrawi
untuk melihat fenomena. Tidak hanya mengamati, tetapi kita dorong untuk bertanya.
Tidak hanya bertanya, tetapi harus sampai ke menalar. Dan nanti sampai ke
mencoba, sampai ke eksperimen.
Makanya prosesnya
kita ubah. Karena prosesnya berubah, makanya jam pelajarannya bertambah.
Obyek
pembelajarannya adalah fenomena alam, fenomena sosial, fenomena budaya. Belajar
apa saja, obyeknya pasti tiga hal tersebut. Pendekatannya kita gunakan
tematik-integratif.
Anak-anak kecil itu
kan belum bisa berfikir spesialis. Karena spesialis itu memerlukan basic yang
kuat, makanya dari awal anak-anak kita ajari berfikir utuh. Generik, tapi
generik-nya kita perkuat. Tidak pelajaran-pelajaran satu-satu. Tidak boleh
anak-anak kecil itu kita ajari spesialis.
Demikian beberapa
pertanyaan yang telah dijawab oleh kemdikbud, semoga bisa memberikan jawaban
atas pertanyaan-pertanyaan yang muncul dalam peralihan Kurikulum ini. Aku sudah ikut
diklatnya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar