I. Sekilas Tentang Metode Thoriqoh
Thoriqoh
secara bahasa berarti jalan kecil. Bisa diartikan cara atau metode, apabila
ditambah Ta’ Marbuthoh – menurut ahli bahasa - .
Secara
istilah adalah cara yang ditempuh untuk mencapai suatu tujuan tertentu.
Sedangkan
Almanzilah berarti kedudukan atau pangkat. Yang dikasud di sini adalah
kedudukan huruf atau kata dan kalimat dalam bahasa arab.
Istilah
kitab kuning sering di konotasikan oleh para pelajar atau santri Madrasah atau
Pondok Pesantren kepada sebuah kitab bertuliskan arab tak berharkat / tak
berbaris (pegon:jawa), karya para ulama tempoe doeloe yang kebanyakan di
cetak di atas kertas berwarna kuning untuk produk percetakan tertentu, baik di
dalam maupun di luar negeri, seperti percetakan yang berasal dari Indonesia,
Lebanon, Bairut dan lain-lain.
Kitab
kuning yang dikenal dengan sebutan Kitab Turots/kitab salaf dalam bahasa arab
atau kitab gundul (tidak berharkat), akhir-akhir ini kurang peminatnya,
hanya terbatas di kalangan putra-putri muslim yang ingin belajar tentang
Syariah Islamiyah/ajaran-ajaran Islam secara mendalam., karena belajar membaca
dan memahami kandungan kitab kuning itu tidak mudah dan membutuhkan waktu
bertahun-tahun, karena sangat erat kaitannya dengan tata bahasa arab yang
dikenal dengan nama nahwu dan shorrof. Nahwu dan shorrof yang biasa digunakan
oleh guru di Madrasah atau Pondok Pesantren adalah Alfiyah ibnu Malik dan Al
Amtsilatuttashrifiyah oleh KH. Ma'shum, Jombang dan kitab Al Maqshud.
Kitab-kitab ini terdiri dari nadzoman (syi'ir) dan natsar (prosa). Dari kitab
inilah, anak didik disuguhi keterangan-keterangan yang detil tentang bentuk dan
kedudukan kata dan kalimat arab yang terkandung dalam kitab-kitab kuning yang
pada akhirnya mereka bisa membaca dan memahaminya dengan baik. Para
pelajar/santri saat ini, baik di lembaga pendidikan umum atau agama, seperti
Pondok Pesantren dan Madrasah sering mengeluh sulit belajar membaca apalagi
memahami kitab-kitab kuning tersebut, yang menyebabkan mereka kurang bahkan
tidak berminat mempelajarinya yang menyebabkan mereka emoh mempelajarinya
hingga sempurna. Beberapa faktor yang menyebabkan rendahnya para pelajar/santri
belajar kitab kuning, di antaranya adalah kemampuan tata bahasa arab mereka
lemah, bahkan kosong sama sekali, karena tidak pernah belajar dasar-dasar tata
bahasa arab sama sekali. Di samping itu, para guru/tutornya masih menggunakan
metode pembelajaran yang lama, seperti bentuk pengajian (wetonan: jawa). Cara
seperti ini akhir-akhir ini kurang bayak di minati, karena membutuhkan waktu
lama. Untuk memudahkan para pelajar/santri memahami kitab kuning tersebut,
banyak di kalangan intelektuaL dibidang ini membuat inovasi atau
terobosan-terobosan baru tentang metode membaca dan memahami secara cepat dan
sistematis yang umumnya bersifat praktikal, seperti metode Al ‘Ankabut, metode
6 jam bisa membaca, Amtsilati, Al Manhaji termasuk juga metode Thoriqoh ini.
Inovasi ini sangat tepat, karena akhir-akhir ini mayoritas anak didik merasa
sulit belajar kitab kuning atau kitab arab tak berharkat, sehingga diantara
mereka tak berminat mempelajarinya. Dengan metode Thoriqoh Almazilah ini, Insya
Allah dalam waktu 3 (tiga) bulan atau 4 jam x 4 hari akan bisa membaca,
memahami dengan baik dan hafal kaidah-kaidah nahwu dan shorrof di luar kepala
hanya dengan takror dan takror.
Salah
satu buku pedoman pembelajaran tata bahasa arab yang diterapkan di Pondok Pesantren Annuqayah, khususnya
Madrasah Aliyah I Annuqayah Putri sejak tahun 2008 yang silam adalah buku yang
dikenal dengan nama: " Musyawarah Kitab Kuning Thoriqoh ",
disingkat dengan MKKT atau lebih dikenal dengan sebutan metode "Thoriqoh".
Buku "Thoriqoh" ini yang diterbitkan pada tahun 2007 oleh 6 tim
penyusun yang diperakarsai oleh Ketua pengurus Yayasan Al Amir di Kabupaten
Sumenep mengutamakan praktek langsung kepada kitab kuning, khususnya kitab fiqh
Fathul Qorieb yang menjadi referensi materi fiqh di Pondok-Pondok Pesantren di
Indonesia, karena kajian di dalamnya cukup memadai sebagai dasar pengetahun
fiqh. Metode Thoriqoh mengkaji dari sisi i'rob nahwu dan sighoh/bentuk kata dan
kalimat shorfiyah yang tertera dalam kitab Fathul Qorieb tersebut.
Metode
Thoriqoh tidak terlalu banyak membahas teori tata bahasanya, sebagaimana
model-model yang digunakan guru atau tutor tempoe doeloe (salafiyah). Untuk
itu, siswa/peserta yang bisa belajar metode ini adalah siswa yang telah
memiliki kemampuan dasar nahwu dan shorrof. Artinya, minimal mereka telah
mengenal sekilas tentang istilah-istilah yang ada dalam nahwu dan shorrof,
walaupun belum mendalam. Kalau dalam tingkat pendidikan formal adalah siswa
Tsanawiyah kelas I ke atas atau Madrasah Diniyah. Karena metode Thoriqoh ini
berbeda dengan metode-metode lainnya, maka bagi lembaga pendidikan yang
berminat menggunakan metode ini dalam pembelajaran nahwu dan shorrof-nya, harus
mendatangkan tenaga ahlinya untuk memberikan diklat cepat tentang cara
mengajarkannya. Dan Insya Allah bagi guru / tutor yang telah mengikuti
diklatnya, 1 sampai 2 hari saja akan mampu dan bisa mengajar nahwu dan shorrof
metode Thoriqoh ini dengan baik. Dan Tidak tidak setiap guru / tutor dituntut
hafal kaidah-kaidah Nahwu dan shorrof. Durasi waktu belajar hanya membutuhkan
minimal 4 (empat) jam setiap harinya, dengan asumsi (45 menit) per-jam yang
dilakukan secara intensif (24 jam/ pertemuan dalam sepekan) berbentuk formal.
Insya Allah bila durasi waktu ini dapat dilakukan dengan intensif dan konsisten
dengan menggunakan buku pedoman yang ada, para peserta/ anak didik akan cepat
bisa membaca, memahami dan hafal kaidah-kaidah nahwu dan shorrof, seperti
Alfiyah, "Imrithy, Maqshud , Nadzmu Ma'anil Huruf, AL is'af, Fathul Khobiril
Latif dan lain-lain tanpa dihafalkan, hanya di takror. Hal ini telah terbukti
beberapa kali, baik yang dilaksanakan lembaga pendidikan Madrasah Aliyah maupun
Pendidikan Madrasah diniyah Al Amir.
Metode Thoriqoh atau dikenal dengan
MKKT lebih fokus pada praktek membaca dan memahami kitab kuning (kitab salaf).
Sifat atau motto dari metode ini adalah Sistematis, Aplikatif dan Evisien ( SAE
). Disebut Sistematis, karena metode ini disusun dengan cara mengkaji rahasia
kalimat-kalimat bahasa arab bahkan huruf-hurufnya berdasarkan kaidah-kaidah
nahwiyah dan shorfiyah. Disebut Aplikatif, karena fakus pada praktik ketimbang
teori. Disebut Evisien, karena waktu pembelajrannya tidak terlalu lama, mereka
bisa membaca, memahami dan hafal kaidah-kaidah Nahwu dan shorrof dengan baik.
Seorang siswa bisa dikatakan sukses
belajar kitab kuning / kitab salaf, bila telah mampu menjawab 3 (tiga)
macam pertanyaa: 1. Apa ?
2. Mengapa ?
3. Bagaimana
? Tiga pertanyaan ini adalah ciri khas pembelajaran metode Thoriqoh.
Yang dimaksud dengan APA ialah :
1. Apa maknanya kalimat ….. ?
2. Apa kedudukan dan i’robya suatu kalimat ?
Yang dimaksud dengan MENGAPA ialah
Mengapa dibaca begitu ? Mempertanyakan alasannya, bukan kaidahnya.
Yang dimaksud dengan BAGAIMANA ialah
:
1. Bagaimana Kaidahnya ?
2. Bagaimana maksud ibaratnya ?
Sedangkan ciri khas yang lain dari
metode Thoriqoh, setiap siswa di dalam mengi’rob suatu kalimat, harus
menggyunakan : HURUF AKHIRNYA, ADALAH dan KAIDAHNYA.
Seorang siswa atau tutor menggunakan
kata : HURUF AKHIRNYA, apabila kalimat yang di i’rob adalah mu’rob. Bila mabni,
umumnya menggunakan ADALAH. Sedangkan kata KAIDAHNYA, diucapkan oleh tutor atau
siswa ketika akan membacakan kaidah nahwiyah atau shorfiyah dengan menyebutkan
sumber pengambilannya.
Materi Toriqoh terdiri dari 4 macam,
yaitu :
1. Thoriqh
Nahwiyah
2. Thoriqoh
Shorfiyah
3. Kaidah
Thoriqoh (berupa kumpulan kaidah-kaidah Nahwu dan shorrof dari
berbagai sumber)
4. Fathul
Qoriebil Mujieb (Referensi Pokok)
Dan sebagai
pendampingnya adalah kitab MANZILAH yang pembahasannya lebih rinci ketimbang
Thoriqoh Nahwiyah.
Seorang tutor tidak harus
menguasai/hafal isi atau kaidah-kaidah dari materi-materi tersebut di atas,
tapi cukup menguasai cara-cara mengajarnya dengan baik.
II. Teknik Mengajar Metode
Thoriqoh
1.
Dalam pembelajaran praktek metode
Thoriqoh, seorang guru atau tutor, hendaknya menulis kaidah-kaidah nahwu dan
shorrof yang bersumber dari materi-materi tersebut di papan tulis sesuai
kebutuhan dari materi yang akan diajarkan ketika itu.
2.
Tutor menerangkan makna dan maksud
kaidah-kaidah tersebut dengan jelas dan detil dengan menyebutkan sumber
pengambilannya, kemudian dibaca bersama-sama secara takror
3.
Siswa / peserta membuka kitab
Fathul Qorieb, kemudian tutor mengajarkan i’rob kata perkata beserta kaidahnya
terhadap teks yang diajarkan ketika itu dengan menggunakan 3 (tiga) kata
tersebut di atas.
Untuk lebih jelasnya, silakan
praktekkan sekarang juga dan harus dilakukan oleh beberapa peserta (kalau perlu
semuanya), supaya TOT ini sukses dilakukan.
من
خصائص منهج "طريقـة" التكرار
Tidak ada komentar:
Posting Komentar