LATAR
BELAKANG
Pondok Pesantren adalah salah satu
lembaga pendidikan Islam di Indonesia yang keberadaannya sejak 2 (dua) abad
silam hingga saat ini masih eksis. Upaya pengembangan dan peningkatan pendidikannya
terus dilakukan oleh para kyai; pengasuh lembaga tersebut. Umumnya adalah
kerabat dekat dari pendirinya, bahkan saat ini, pemerintah (dalam hal ini
Departemen Agama) tidak segan-segan membantu dana pengembangan lembaga
pendidikan tersebut, baik bantuan dana untuk pembangunan fisiknya, seperti
pembangunan gedung asrama santri atau gedung Madrasah atau dukungan berupa non
fisik, berupa insentif guru dan lain sebagainya. Cara-cara seperti ini terbukti
mampu memotivasi semangat guru dalam upaya meningkatkan pendidikan dan
pengajaran kepad anak didiknya.
Kitab kuning merupakan salah satu materi
ajar yang masih tetap dipertahankan keberadaannya di Pondok Pesantren hingga
saat ini. Metode pembelajarannya sejak awal cenderung kepada kajian yang
bersifat teoritis ketimbang praktis, walaupun ada yang langsung menggunakan
sistem aplikatisi. Artinya, pembelajaran grammer bahasa Arab dilakukan secara
praktis bukan sekedar teoritis. Cara praktek seperti ini hingga saat ini belum
teraplikasikan secara komprehensip di Pondok-Pondok Pesantren, mungkin karena
lemahnya pengetahuan mereka terhadap teori praktis dan sistematis dalam
pembelajaran kitab kuning, atau karena ingin mempertahankan sistem lama (salafiyah)
yang kurang evisien itu. Akibatnya untuk
bisa membaca kitab kuning membutuhkan waktu yang lama, sehingga tidak mustahil,
kalau ada santri/wati mondok di Pesantren, walaupun telah banyak belajar kitab
kuning, tapi belum juga bisa membaca dengan baik, sesuai dengan tata bahasa
arab yang benar (Nahwu dan Shorrof), disamping juga akan berakibat
kepada lambatnya pemahaman mereka terhadap hukum-hukum Islam yang nota bene
banyak tersirat dalam kitab kuning tersebut.
Akhir-akhir ini ada beberapa
Pondok Pesantren yang berinisiatp untuk menulis buku atau kitab terkait dengan
metode pembelajaran membaca kitab kuning yang bersifat praktis dan aplikatif
dengan tujuan agar siswa tidak merasa bosan mempelajarinya dan memotivasi
mereka untuk belajar lebih mendalam lagi. Salah satunya adalah metode
Musyawaroh Kitab Kuning Thoriqoh (MKKT) yang disusun oleh tim 5 terdiri
dari guru-guru alumni Pondok Pesantren salafiyah maupun kholafiyah (moderen)
yang memang ahli dibidang
ini. Kitab
metode ini mengkaji dari sisi
Nahwiyah, Shorfiyah, kosa-kata dan mafhumul
(pengertian)
ibaratnya
yang terdapat dalam kitab Fiqh : “Fathul Qoriebil Mujieb” yang diajarkan secara
sistematis, aplikatif dan evisien (disingkat; SAE)
TUJUAN
Kitab ini disusun sebagai pedoman untuk
mempermudah dan mempercepat para siswa/wi atau santri Pondok Pesantren membaca
dan memahami kitab kuning yang benar yang akhir-akhir ini hampir saja tidak
dipelajari oleh mereka, karena dianggap sulit dan menghabiskan waktu lama. Mereka
lebih senang membaca terjemahannya yang belum tentu sesuai dengan teks aslinya.
Kitab ini – Insya Allah – menjadi jawaban sekaligus solusi terhadap problematika
mereka dalam belajar membaca dan memahami kitab kuning (khususnya Fathul
Qorieb) yang benar sesuai dengan Nahwu dan Shorrof.
METODE PEMBELAJARAN YANG DIGUNAKAN
Metode pembelajaran ini bernama
MUSYAWARAH KITAB KUNING METODE THORIQOH (MKKT) atau disebut THORIQOH adalah
sebuah kitab pedoman yang mengajarkan cara membaca kitab kuning yang sistematis,
Aplikatif dan Evisien.
Disebut kitab pedoman, karena
bila siswa/wi menguasai metode pembelajarannya, Insya Allah mereka akan mudah
membaca dan memahami kitab fiqh atau kitab berbahasa arab lainnya.
Disebut sistematis,
karena kitab ini disusun dengan cara mengkaji perubahan kata (I’rob)
dalam Nahwu, dan bentuk (sighot’) dalam Shorrof. Kitab kajiannya adalah
Fathul Qorieb, sebuah kitab fiqih standar yang hingga saat ini masih dipelajari
oleh santri Pondok Pesantren di Indonesia.
Disebut Aplikatif, karena
kitab ini disusun dengan cara praktis dan tidak terlalu banyak menganalisa
tentang teori-teori.
Disebut Evisien, karena
kitab ini disusun untuk diajarkan dalam rentang waktu yang relatif pendek; minimal
4 (empat) bulan hingga 2 (dua) tahun dengan sasaran siswa/wi yang
telah berpengalaman belajar kitab Nahwu Jurmiyah atau Imrithy. Bukan untuk
pemula (siswa yang belum sama sekali belajar grammer bahasa arab).
Pembelajaran metode ini dapat dilakukan dengan memanfaatkan jasa pengajar yang profesional atau yang terdiri dari para tim penyusun buku ini untuk diklat minimal 2-3 hari kepada para guru atau kader pengajar Kitab Kuning.
Beberapa persyaratan memanfaatkan jasa pengajar teknik ini dari tim kami, di antaranya : Pihak pemohon menyediakan minimal 15 siswa atau guru kader. Menyediakan akomudasi, konsumsi, transportasi (kalau dibutuhkan) dan honor serta uang transport untuk dua orang tutor. Membeli materi yang disediakan tutor untuk peserta diklat. Rincian biaya dapat di baca di www.alamirfoundations.wordpress.com
NAMA-NAMA KITAB THORIQOH
Dalam pembelajaran ini, seorang siswa/wi harus memilki 4 buah kitab /
satu paket, masing-masing terdiri dari kitab bernama :
- Thoriqoh
Nahwiyah, adalah kitab terdiri dari
138 halaman, mengkaji I’rob / perubahan kata demi kata dalam kitab Fathul
Qorieb
- Kaidah Thoriqoh, berisi grammer terdiri dari 117 halaman, seperti Alfiyah, Imrithy dan lain-lain yang berbentuk Nadloman sebanyak 250 nadloman sesuai dengan fungsi huruf dan kalimat yang di kaji dalam kitab Fathul Qorieb
- Thoriqoh
Shorfiyah adalah kitab terdiri dari
51 halaman yang mengkaji tentang bentuk kata (sighot), bina’
dan wazan yang disajikan dalam bentuk rumus-rumus yang mudah
dihafal dan dipraktekkan.
- Fathul
Dzuruf adalah
sebuah kitab syarah (penjelasan) dari sebuah kitab nadloman tentang
makna-makna huruf bernama : Nadlmu Ma’anil Huruf sebagai pelengkap
dari kitab Kaidah Thoriqoh.
- KamusThoriqoh
adalah sebuah kamus kosa-kata dan istilah-istilah Fiqh (Arab-Indonesia)
yang terdapat dalam kitab Fathul Qorieb, terdiri dari kl. 258 halaman (sedang
dalam proses editing)
SEKILAS BEOGRAFI TIM PENYUSUN
Untuk
kitab Thoriqoh Nahwiyah di susun oleh tim 5, yaitu :
1.
Drs. KH.
Muhammad Muhsin Amir sekaligus sebagai
editor dan Ketua Tim 5. Beografi pendidikan beliau dari tingkat Lanjutan Atas, alumni Pondok
Pesantren Tebuireng
Jombang Tahun 1981 – 1983, Fakultas Adab (Bahasa Arab dan Sasteranya),
IAIN Sunan Ampel, tahun 1985 - 1989 dan Madrasah Al Roshaifiyah (Majlis
Syekh Ismail Utsman Zein), Mekkah al Mukarromah, tahun 1991 – 1993 serta
alumni Majlis Sayid Muhammad Alawi, Mekkah tahun 1991. Mempunyai kl. 26 karya
ilmiyah berbahasa
Arab
dan Indonesia. Di antaranya adalah “Teknik Menerjemah Bahasa Asing (Arab ke
Indonesia)”, “Al Arabiyah as Sahlah (Materi Bahasa Arab untuk Madrasah Diniyah)”,
“Terjemah Diwan as-Syafi’ie”, “Ta’liqotus Saniyah fi al Arba’ien az Zainiyah”
dan lain-lain dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan. Sekarang, sebagai Pengasuh
Pondok Pesantren Annuqayah Daerah Al Amir, Desa Guluk-Guluk Kabupaten Sumenep
Madura.
2.
KH.
Zaini Mudarris, alumni Pondok Pesantren
Salafiyah Al Is’af, Desa Kalabaan, Sumenep, tahun 1980 – 1989 dan alumni Pondok
Pesantren Sidogiri 1990 – 1994. Sekarang Pengasuh Pondok Pesantren Bustanul
Ulum, Desa Lessong Kabupaten Pamekasan dan Guru di Pondok Pesantren Al Hamidi,
Banyu Anyar, Pamekasan Madura. Karyanya adalah sebuah kitab syarah brnama : Fathul
Dzuruf (penjelasan dari kitab Nadloman tentang makna-makna huruf
arabiyah bernama Nadlmu Ma’anil Huruf)
3.
KH. Qusyairi
Syuja’ie, alumni Pondok Pesantren Annuqayah,
Desa Guluk-Guluk, Kabupaten Sumenep, tahun 1986-1990 dan alumni Pondok Pesantren
Sidogiri, tahun 1992-1996 serta alumni Majlis Sayid Muhammad Alawi, Mekkah
tahun 1997 – 1998. Sekarang Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Tholibin, Desa
Guluk-Guluk Kabupaten Sumenep Madura.
4.
Ahmad
Syafi’ie, S.Ag. alumni Pondok Pesantren
Annuqayah, tahun 1992 – 1998 dan Sekolah
Tinggi Ilmu Ke-Islaman Annuqayah (STIKA) Tahun 1999 – 2003. Sekarang menjabat
Kepala
Madrasah Diniyah Annuqayah Daerah Al Amir, Sumenep dan Kepala Madrasah Tsanawiyah Tarbiyatul Athfal
Sumenep.
5. Ahmad Fauzan Rofiq, S.Pd.I, alumni
Pondok Pesantren Annuqayah, tahun 1993 – 1999 dan Sekolah Tinggi Ilmu
Ke-Islaman Annuqayah (STIKA) Tahun 2000 – 2004. Sekarang menjabat Kepala
Madrasah Diniyah Nyalaran, Pamekasan dan guru di Madrasah Diniyah Annuqayah
Daerah Al Amir, Sumenep.
Sedangkan
kitab Kaidah Thoriqh dan Thoriqoh Shorfiyah, dua buah kitab ini
disusun oleh Drs. KH. Muhammad Muhsin Amir. Dan Kamus Thoriqoh disusun
oleh Drs. KH. Muhammad Muhsin Amir serta Ahmad Syafi’ie, S.Ag.
UJI – COBA
Metode ini telah mengalami 3 (tiga) kali
uji coba kepada siswa Tingkat Menengah dengan durasi waktu minimal; masing-masing
4 (empat) bulan dan dengan tenaga pengajar sebanyak 4 (empat) orang yang
memang ahlinya dibidang pembelajaran metode ini dengan 4 (empat) macam
kitab tersebut. Dan hasilnya sangat memuaskan, terbukti mereka bisa mengi’rob
atau menentukan fungsi satu persatu dari
huruf dan kalimat serta memahami ibarat yang ada dalam kitab Fathul Qorieb
dengan baik beserta dasarnya dari Kaidah-Kaidah Nahwiyah. Insya Allah, apabila seorang
siswa menguasai kitab Fathul Qorieb yang menjadi obyek kajian kitab ini,
akan lebih mudah membaca dengan benar dan memahami kitab yang lebih luas
keterangannya, seperti kitab Fathul Mu’ien, Fathul Wahhab dan lain-lainnya
PENUTUP
Demikian Proyek Proposal ini kami ajukan
kepada Bapak, sebagai tawaran kerja sama dalam penerbitkan kitab metode ini, barangkali
menjadi salah satu solusi untuk mempermudah siswa/wi atau santri Pondok
Pesantren dalam membaca dan memahami kitab kuning dan menjadi penggugah
semangat mereka untuk mempelajarinya lebih tekun lagi. Lembar berikut, kami sertakan
pula 4 macam Cover kitab tersebut sebagai sampel. Dua di antaranya telah di
cetak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar